Perempuan Hujan

Sabtu, 27 Januari 2018

Derita Anak Palestina

Di medan pertempuran
Aku melihat mereka membawa senjata yang mematikan
Pesawat tempur yang berterbangan
Bulldozer yang menghancurkan semua bangunan

Minggu, 07 Januari 2018

Aku rindu kamu

Aku merindukanmu,
Ini sesuatu yang besar yang tak cukup aku simpan dalam dada
Sesuatu yang besar yang tak bisa kugenggam dalam kepalan tangan
Sungguh, ini sesuatu yang tidak kecil
Ini benar-benar aku rasakan

Sabtu, 06 Januari 2018

Aku butuh kamu

Aku mencintaimu, hingga hari ini
Perasaan itu masih ada dan selalu ada dalam dada
Denganmu, segalanya ingin kupertahankan
Apapun akan kuperjuangkan
Sungguh, hanya denganmu aku ingin jalani segala peristiwa yang ada

Sabtu, 07 Oktober 2017

Ajari kami, Tuhan.

Tiap peristiwa yang kami laporkan
Tak berarti apa-apa bagiMu, Tuhan
Karena Engkaulah Maha Pencipta semua peristiwa

Rabu, 03 Mei 2017

Kebebasan yang Kebablasan


Atas nama kebebasan...
kau rela kebablasan!?
Atas nama kebebasan...
Kau menjelma jadi oportunis dan menjual sisi idealis!?

Senin, 24 April 2017

Apa Agamamu, Jakarta?

Jika sampai sesat
di pos imigrasi negeri yang lain itu pun
kota ini tidak akan dihadang pemeriksaan dengan pertanyaan:
apa agamamu, Jakarta?

Jumat, 06 Mei 2016

Bu, Yuyun Pamit.


Kata Ibu, aku hidup di Negara yang berperikemanusiaan.
Tapi, bu. Kenapa masih banyak hewan yang berkedok manusia, di tanah ini?

Rabu, 04 November 2015

Untuk Perempuan Yang (Juga) Mencintainya.

Hai, salam kenal.

Aku menulis surat ini untukmu, perempuan yang (juga) mencintaimu.
Perempuan yang kerap hadir di kepalaku, yang hanya bisa buat aku tersenyum sabar. Yang seringkali membuatku kepayang. Untuk perempuan yang sampai sekarang aku tak mengenalinya.

Senin, 27 Juli 2015

Surat Rindu, Untukmu.

Selamat malam, sayang.

Apa kabarmu? Bagaimana hari-harimu, yang tanpa aku?   Pasti baik-baik saja, ‘kan?
Kau tak perlu menanyakan kabarku. Aku tetap seperti yang kemarin-kemarin; baik keadaanku, tapi lain halnya rinduku, ia sedang kurang sehat. Aku rasa hanya kau obat penyembuh paling ampuh untuk rindu; bertemu. Hm’em, dengan bertemu denganmu, rindu pasti bisa beraktivitas kembali dengan keadaan sehat; mengingatmu.

Sedang apa kamu, disana? Sedang merindukanku, kah?

Kau tau? Rinduku tumbuh besar, semenjak saat terakhirku melihatmu di parkiran sekitar kampus. Senyummu mengembang, meski dari jarak jauh aku melihatnya. Ketika itu, aku sangat membutuhkanmu; tubuhku lemah, aku butuh kamu sebagai penguatnya. Emosiku membara, aku butuh kamu sebagai pemadamnya. Tapi … Emm … Kau … Ah sudahlah, aku mengerti janjimu pada temanmu. Walaupun awalnya … Duh, lupakhaaaaan~

Maaf atas kecemburuanku. Aku hanya rindu kamu, sayang.

Lelakiku.
Aku pasti merasakan sedikit bahagia, ketika kau membaca surat ini. Hm? Sedikit? Iya, sedikit, aku tak salah nulis kok. Sebelum aku melihat sosokmu di depan mata, aku belum sepenuhnya bahagia. Aku memang egois perihal merindu, kau harus mengerti itu.

Sebenarnya, aku tak kuasa menulis surat ini. Aku menuliskan ini untukmu sambil memikul rindu yang sangat berat. Berat, karena aku harus menjalani hari-hari tanpa sosokmu; tawa, senyum, celotehan nakalmu, bahkan cerita-cerita yang biasa kaudongengkan di telingaku. Dan ditambah akhir-akhir ini, kau jarang menghubungiku lagi, membalas pesan singkatku saja, tidak. Aku memang tak tahu, apa yang membuamu seperti itu, mungkin kau terlalu sibuk, atau … Ah, saat-saat seperti ini lah yang membuatku berpikir negative tentangmu, sayang. Jangan buat aku seperti ini.

Ah, bukan. Bukan maksudku untuk mengeluh, aku tak merasa keberatan dengan beban rindu yang kutanggung ini. Justru, aku akan sangat merasa keberatan jika semuanya tanpa senyummu yang serupa senja. Begitulah aku mendefinisikan bahagiaku; semuanya serba kamu.

Bicara tentang senja, di desaku tak perlu repot-repot jalan jauh ke pantai hanya untuk melihat senja. Seperti apa yang kita lakukan waktu itu; mengejar keindahan waktu senja. Disini, hanya dengan bersepeda di sore hari, melewati serumpun padi yang tumbuh disawah sebelah kanan – kiriku, naik ke atas bukit yang tak terlalu tinggi, disitu akan terlihat jelas indahnya senja, terbenamnya matahari yang sering kita sebut dengan sunset. Suatu saat, aku akan memperlihatkannya padamu.

Ah, intinya aku ingin secepatnya menemuimu. Aku sudah sangat merinduimu. Kumohon, mengertilah.

Kalau kau ada bersamaku, kau akan melihat banyaknya rindu yang sudah berserakan, aku akan menatanya kembali di dalam lemari serapi mungkin. Rindu ini akan terus bersamaku. Untukmu.
Kuakhiri surat atas nama rindu yang kubuat hanya untukmu. Terima kasih sudah sudi membacanya. Semoga kelak sebuah pertemuan dapat menyelamatkan kerinduaan kita masing-masing.

Kuningan, 12 Juli 2015


Perempuanmu.

ORANG KECIL ORANG BESAR

Suatu hari yang cerah
Di dalam rumah yang gerah
Seorang anak yang lugu
Sedang diwejang ayah-ibunya yang lugu

Ayahnya berkata:
“Anakku,
Kau sudah pernah menjadi anak kecil
Janganlah kau nanti menjadi orang kecil!”

“Orang kecil, kecil peranannya
Kecil perolehannya,” tambah si ibu
“Ya,” lanjut ayahnya

“Orang kecil sangat kecil bagiannya.
Anak kecil masih mendingan,
Rengeknya didengarkan,
Suaranya diperhitungkan,
Orang kecil tak boleh memperdengarkan rengekan
Suaranya tak suara.”

Sang ibu ikut wanti-wanti:
“Betul, jangan sekali-kali jadi orang kecil
Orang kecil jika jujur ditipu
Jika menipu dijur
Jika bekerja digangguin
Jika mengganggu dikerjain.”

Ayah dan ibu berganti-ganti menasehati:
“Ingat, jangan sampai jadi orang kecil
Orang kecil jika ikhlas diperas
Jika diam ditikam
Jika protes dikentes
Jika usil dibedil.”

“Orang kecil jika hidup dipersoalkan
Jika mati tak dipersoalkan.”

“Lebih baik jadilah orang besar
Bagiannya selalu besar.”

“Orang besar jujur-tak jujur makmur
Benar-tak benar dibenarkan
Lalim-tak lalim dibiarkan.”

“Orang besar boleh bicara semaunya
Orang kecil paling jauh dibicarakan saja.”

“Orang kecil jujur dibilang tolol
Orang besar tolol dibilang jujur
Orang kecil berani dikata kurangajar
Orang besar kurangajar dikata berani.”

“Orang kecil mempertahankan hak
disebut pembikin onar
Orang besar merampas hak
disebut pendekar.”

Si anak terus diam tak berkata-kata.

Namun dalam dirinya bertanya-tanya:
“Anak kecil bisa menjadi besar
Tapi mungkinkah orang kecil
Menjadi orang besar?”

Besoknya entah sampai kapan
si anak terus mencoret-coret dinding kalbunya sendiri:

“O  r  a  n  g    k  e  c  i  l  ?  ?  ?
O  r  a  n  g    b  e  s  a  r  !  !  !”

1993

ORANG KECIL ORANG BESAR - Puisi karya KH. Mustofa Bisri.
Puisi yang menyentuh ketika saya dengarkan.
Dan saya ingin membagi puisi ini, untuk kaudengar (juga).


Sabtu, 04 Juli 2015

Aku menuju kesempurnaan-Nya


Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin agar mengulurkan atas diri mereka jilbab-jilbab mereka. Yang demikian itu menjadikan mereka. Lebih mudah untuk dikenal (sebagai wanita Muslimah/wanita merdeka/orang baik-baik) sehingga mereka tidak diganggu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS A1-Ahzab [33]: 59)

Sebelumnya, aku mengucapkan selamat pada diriku sendiri, karena telah istiqomah memakai hijab selama kurang lebih empat tahun lamanya. Semoga dengan hijabnya, aku lebih dan lebih bisa memperbaiki diri menuju kesempurnaanNya.

Nah, kali ini aku akan bercerita tentang proses aku memutuskan untuk berhijab. Tepat empat tahun yang lalu, ketika aku masih duduk di bangku sekolah kejuruan. Aku belum menutup auratku dengan hijab.

Saat bulan Ramadhan, sekolahku menetapkan aturan; selama bulan Ramadhan, diwajibkan untuk perempuan mengenakan hijab. Aku terpaksa mengenakannya. Ya, aku memang terpaksa melakukan hal itu. Karena aku pikir, kalau aku memakai jilbab, teman-teman dekatku bilang sok alim. Pun aku sempat menghina dalam hati kepada mereka yang berjilbab setengah-setengah. Mengenakan jilbab tetapi terlihat leher dan dada. Dan jujur, itu sangat menyiksaku. Sudah tidak suka dengan kain persegi yang tipis berkibar-kibar itu Jelas-jelas akan menyusahkan ruang gerakku. Sedikit-sedikit lepas jilbab. Gerah. Rambut rasanya gatal. Panas.

Menyedihkan, sampai segitunya aku dengan jilbab.

Hingga suatu hari, aku mengikuti kegiatan rohani islam (rohis) di sekolah yang di adakan setiap hari jumat setelah jam pelajaran selesai. Aku ingat sekali, pembicara saat itu membahas tentang virus merah jambu dan hijab yang diwajibkan untuk kaum hawa. Pembicara itu bilang; “Ketika wanita memamerkan auratnya, meski pakaian yang ia kenakan sopan (tapi tak memakai jilbab) itu berarti ia adalah sumber dosa. Dosa bagi setiap laki-laki yang melihatnya. Itulah sebab banyak laki-laki melakukan zina mata.” Katanya.

“Aku sering digoda laki-laki genit yang kurang ajar ketika aku lewat di depan mereka, padahal pakaian yang kupakai tak terbuka; aku masih mengenakan pakaian lengan panjang dan celana panjang.” Aku bersuara.

“Nah, dengan berjilbab lah, kita bisa menjaga diri kita dari rasa tidak aman. Kalian pasti pernah merasakan hal yang sama seperti yang diceritakan Lidya; ketika kamu lewat di depan segerombolan laki-laki (baik yang kamu kenal, maupun tidak) dalam keadaan kamu tidak menutup aurat, ia akan menggoda ‘ssttt.. cewek boleh kenalan gak?’ bahkan sering dibarengi dengan colekan atau sentuhan nakalnya. lain halnya ketika kita memakai jilbab, mereka menggoda dengan cara sopan; mengucapkan salam ‘Assalamualaikum, cantik, mau kemana?’, seperti itu, kan?.” Kamipun menganggukan kepala, tanda setuju dengan apa yang diceritakan kakak pembicara tersebut. Dan memang kejadian itu sering terjadi.

Lagi, pembicara itu menjelaskan hadits mengenai hijab; “Wahai anakku Fatimah! Adapun perempuan-perempuan yang akan digantung rambutnya hingga mendidih otaknya dalam Neraka adalah mereka itu di dunia tidak mahu menutup rambutnya daripada dilihat oleh lelaki yang bukan mahramnya.”

Selangkah anak perempuan keluar dari rumah tanpa menutup aurat, maka selangkah juga ayahnya itu hampir ke neraka. Selangkah seorang isteri keluar rumah tanpa menutup aurat, maka selangkah juga suaminya itu hampir ke neraka. -H.r Bukhari dan Muslim-“

Deg! Istighfar terus mengalir dari bibirku. Aku yang berbuat dosa, mereka ikut di masukan ke dalam api neraka? Egois sekali diri ini. Mungkin dari situ, Allah membukakan pintu hidayah untukku. Aku mulai berniat untuk berhijab.

Hari demi hari selama bulan Ramadhan, aku melakukan aktivitas dengan jilbabku di sekolah. Aku menemukan kenyamanan, ada rasa tak ingin melepaskannya. Aku ingin terus bersamanya.

Akhirnya pelan-pelan kumantapkan hati. Semakin mencari-cari hukum tentang berjilbab bagi wanita. Baca sana baca sini. Memahami ini dan itu tentang agama. Semakin aku tahu, semakin terasa ngeri hati ini. Sungguh, dalam hati aku bertanya, kemana saja kau selama ini, Lid?! Ini agamamu, mengapa hal wajib yang mendasar seperti ini saja selama delapan belas tahun kau tidak mengetahuinya! Hellooo~

Lagi lagi istighfar mengalir deras dari bibirku.

Aku pernah membaca salah satu postingan dari fanpage di facebook. Isinya sangat menginspirasi sekali, benar-benar menyentuh perjuangan para wanita-wanita muslim dalam mempertahankan jilbab mereka. Hatiku tersentuh dan bergetar hebat! “Hei, lihat perjuangan dan semangat itu. Bahkan ujianmu ini belum seberapa jika dibanding dengan mereka. Ayo berdiri dan kuatkan hatimu. Ini wajib, penyempurna agamamu. Maka berjuanglah!” Kurang lebih isi pesannya seperti itu.

Aku semakin ingin memantapkan hati untuk berjilbab. Kadang, aku masih memikirkan bagaimana dengan kegiatanku di luar sekolah yang menurutku tak pantas dilakukan untuk seorang perempuan yang berjilbab seperti ini; dance. Yaa! Aku punya kegiatan ngedance di luar sekolah. Mana mungkin aku menari dengan balutan kain panjang di sekujur tubuhku? Sedangkan aku tak ingin meninggalkan kegiatan tersebut. Aku pusing memikirkan jalan keluarnya.

Lalu suatu hari, aku bertemu kak Ricky. Ia kakak kelasku yang sudah aku anggap sebagai kakak kandungku sendiri, sekaligus yang mengajariku menari. Aku memintainya pendapat; “Bagaimana aku bisa terus belajar menari dengan hijabku ini, kak? Tubuhku tertutup tapi menari-nari seakan memamerkan tubuh dengan gerakan dance yang sudah aku pelajari meski tidak terlalu eksotis, tapi aku rasa itu kurang etis aja gitu, kak” “Kamu masih bisa menari, sayang. Dengan catatan, kamu harus memantaskan gerakan dengan hijabmu. Tidak semua tarian itu eksotis dan terkesan seksi, banyak tarian dan gerakannya yang masih pantas kamu pelajari.” Aku diam. “Kamu tenang aja, jangan ragu melakukan hal baik, hanya karena sebuah hobimu. Itu sifat syetan, sayang. Kamu manusia kan, bukan syetan?” Dia tertawa geli. Aku hanya tersenyum dan memahami apa yang dikatakannya. Dan, Aku rasa ada benarnya juga apa yang di bilang kak Ricky. Aku semakin semangat.

Tepat di hari turunnya Al Qur’an, 17 Ramadhan. Aku sudah mulai memakai jilbab dengan kain panjang yang meutupi seluruh tubuhku, ketika aku keluar rumah, kemana dan sedekat apapun itu jaraknya. Kalian tahu? Aku merasakan kalau jilbab itu benar-benar mampu menahan semua keburukan yang keluar dari jiwa kita. Kebencian, kemarahan, dan emosi yang dulu meluap-luap, sudah mampu kutata dengan baik. Karena apa? Karena pengaruh jilbab. Ingat dengan semua larangan-Nya. Rasa panas, gerah atau gatal di rambut tidak kurasakan lagi. Subhanallah, inilah yang namanya niat. Kekuatan yang kurasakan karena hangatnya agama yang menyejukanku benar-benar menenangkan! Aku sudah memulai mengajak ibu dan adikku untuk memakai jilbab, dan mereka mengikuti saranku. Ah, aku bahagia.

Memang, belum sempurna kemampuanku memahami kembali agama yang dulu pernah kutinggalkan. Perjuangan dan perjalanan hijabku pun belum berlabuh pada kata selesai. Dan aku sadar, hijabku belum sempurna, tapi izinkan aku untuk berproses menuju kesempurnaan. Rangkul aku dengan nasehat, jangan pukul aku dengan hujatan ketika akhlakku melakukan kesalahan. Aku masih perlu banyak belajar dan belajar. Menambal semua kekurangan yang tertinggal jauh. Tetapi aku yakin, Allah, pasti menjagaku.
Aamiin..


Jadi, kapan kalian berproses menuju kesempurnaanNya sepertiku, Girls? J

Kamis, 02 Juli 2015

Nabi Muhammad; Suami Idaman Setiap Wanita♥


Setiap wanita muslimah di muka bumi ini pastilah mengidolakan sosok Nabi nya Muhammad SAW. Beliau adalah sosok laki-laki sempurna yang tiada tandingannya di dunia ini. Tutur kata, tingkah laku, dan segala yang dilakukan beliau adalah contoh untuk kita semua. Nah, kali ini kita bahas tentang sifat dan perlakuan Rasulullah SAW terhadap istri beliau, kita bahas satu per satu yaa...

  •  Saat Marah kepada Aisyah

Kita ketahui bahwa Nabi Muhammad SAW sangatlah menyayangi Aisyah, beliau sering memanggilnya dengan sebutan Humaira (yang kemerah-merahan pipinya). Panggilan yang terdengar sangan romantis sekali. Beliau tidak pernah sekalipun mengeluarkan kata-kata penuh emosi kepada sang istri meskipun sedang marah, walaupun sesungguhnya beliau juga manusia biasa yang diberi rasa kecewa dan amarah. Saat beliau marah kepada istrinya, maka beliau biasa memijit hidung Aisyah, sambil berkata, “Wahai Aisyah, bacalah do’a, ‘Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku, dan lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan’.” (HR Ibnu Sunni). Bahkan beliau juga memperlakukan Aisyah dengan sangat lembut. Rasulullah tidak pernah melibatkan emosi. Ketika sedang marah kepada Aisyah, beliau berkata, “Tutuplah matamu!” Kemudian Aisyah menutup matanya dengan perasaan cemas, khawatir dimarahi Rasulullah. Nabi berkata, “Mendekatlah!” Tatkala Aisyah mendekat, Rasulullah kemudian memeluk Aisyah sambil berkata, “Humairahku, telah pergi marahku setelah memelukmu.” Hhm so sweet :')

  • Romantisme saat berpuasa

Ketika diantara kita yang enggan untuk tetap memberi perhatian kepada pasangan dengan alasan berpuasa, maka inilah sikap Rasulullah yang patut dicontoh: Dalam keadaan puasa pun beliau mengecup Aisyah  Ia bertutur, “Rasulullah Saw. mendekatiku untuk mengecupku. Aku katakan bahwa aku sedang berpuasa. Beliau bersabda, ‘Aku juga sedang berpuasa.’ Beliau menghampiriku lalu mengecupku" .Nah, puasa bukan alasan untuk tidak harmonis dan romantis kan, buat para pasangan suami istri.

  • Lemah Lembut bahkan saat seharusnya beliau marah.

Dari Anas bin Malik ia berkisah, “Suatu saat Nabi halallahu ‘alaihi wa sallam di tempat salah seorang istrinya maka istrinya yang lain mengirim sepiring makanan. Maka istrinya yang sedang bersamanya ini memukul tangan pembantu sehingga jatuhlah piring dan pecah sehingga makanan berhamburan. Lalu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan pecahan piring tersebut dan mengumpulkan makanan yang tadinya di piring, beliaushalallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Ibu kalian cemburu…”. Perhatikanlah, Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam sama sekali tidak marah akibat perbuatan istrinya yang menyebabkan pecahnya piring. Nabi tidak mengatakan, “Lihatlah! makanan berhamburan!!, ayo kumpul makanan yang berhamburan ini!. ini adalah perbuatan mubadzir!” Akan tetapi ia mendiamkan hal tersebut dan membereskan bahkan dengan rendah hati nabi langsung mengumpulkan pecahan piring dan mengumpulkan makanan yang berhamburan, padahal di sampingnya ada seorang pembantu. Tidak cukup sampai di situ saja, nabi juga memberi alasan untuk membela sikap istrinya tersebut agar tidak dicela. Nabi mengatakan, “Ibu kalian sedang cemburu.”

  • Menghormati hak istri

suatu hari beliau juga pernah tidur di depan pintu rumah. Ketika itu Rasulullah pulang terlalu malam, mungkin di sebabkan karna ada urusan yang mengharuskan beliau pulang malam. Ketika Rasulullah Saw mengetuk pintu rumahnya 3 kali, ketukan pertama biasa aja, ketukan kedua dan ketiga menjadi tambah pelan. Ketika Rasulullah Saw tidak mendapati istrinya aisyah membukakan pintu, lantas beliau tidur didepan pintu. Rasulullah melakukan hal itu karna beliau sangat menghormati istrinya. Beliau mengargai hak dari sang istri untuk bisa tidur tanpa mendapatkan gangguan. Padahal waktu itu Aisyah sedang menunggu kedatangan beliau. waktu itu aisyah kaget karna tidak mendapati beliau di dalam ruamah, sehingga aisyah keluar membuka pintu rumah yang sebenarnya kedatangan Rasulullah Saw sedang di tunggu oleh aisyah. Ketika Aisyah membuka pintu rumah, yang beliau dapatkan adalah Rasulullah Saw sedang tidur disana. Aisyah pun berkata “kenapa engkau tidur disini?” Nabi Muhammmad menjawab, “Aku pulang sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu.”

  • Menjaga perasaan istri

Rasulullah Saw juga sangat menjaga perasaan istrinya. suatu ketika, Rasulullah SAW pulang pada waktu pagi. Beliau pasti sangat lapar saat itu. Tetapi dilihatnya tidak ada apapun untuk sarapan, bahkan yang mentah pun tidak ada karena waktu itu ‘Aisyah belum ke pasar. Maka beliau bertanya, “Belum ada sarapan ya, Humaira?” Aisyah menjawab dengan agak serba salah, “Belum ada apa-apa ya Rasulullah.” Rasulullah SAW lantas berkata, “Jika begitu aku puasa saja hari ini.” tanpa sedikit pun tergambar raut kesal di muka beliau.

  • Membersihkan titisan darah haid isteri

Dari Aisyah r.a., dia berkata, “Aku pernah tidur bersama Rasulullah s.a.w. di atas satu tikar ketika aku sedang haid. Apabila darahku menitis di atas tikar itu, Baginda mencucinya pada bahagian yang terkena titisan darah dan baginda tidak berpindah dari tempat itu, kemudian beliau sembahyang di tempat itu pula, lalu Baginda berbaring kembali di sisiku. Apabila darahku menitis lagi di atas tikar itu, Baginda mencuci pada bahagian yang terkena titisan darah itu saja dan tidak berpindah dari tempat itu, kemudian baginda pun sembahyang di atas tikar itu.” (Hadist Riwayat Nasai).


Hhm.. Masih banyak lagi yang bisa kita petik dari sikap Nabi Muhammad SAW. Beliau memang suami idaman bagi setiap wanita muslimah. Jika menginginkan suami seperti beliau, maka bersikaplah seperti istri beliau. Berusaha yang terbaik untuk suami, walaupun sulit, yuk kita berusaha. J

Senin, 29 Juni 2015

Sayap - Sayap Patah.

Wahai Langit
Tanyakan pada-Nya,
Mengapa dia menciptakan sekeping hati ini.
Begitu rapuh dan mudah terluka.

Saat dihadapkan dengan duri-duri cinta
Begitu kuat dan kokoh saat berselimut cinta dan asa.

Mengapa dia menciptakan rasa sayang dan rindu didalam hati ini.
Mengisi kekosongan di dalamnya
Menyisakan kegelisahan akan sosok sang kekasih
Menimbulkan segudang tanya
Menghimpun berjuta asa
Memberikan semangat juga meninggalkan kepedihan yang tak terkira.

Mengapa dia menciptakan kegelisahan dalam relung jiwa.
Menghimpit bayangan, menyesakkan dada.
Tak berdaya melawan gejolak yang menerpa.

Wahai ilalang…
Pernah kah kau merasakan rasa yang begitu menyiksa ini?
Mengapa kau hanya diam.
Katakan padaku.
Sebuah kata yang bisa meredam gejolak hati ini.
Sesuatu yang dibutuhkan raga ini.

Sebagai pengobat tuk rasa sakit yang tak terkendali.
Desiran angin membuat berisik dirimu.
Seolah ada sesuatu yang kau ucapkan padaku,
Aku tak tahu apa maksudmu
Hanya menduga..

Bisikanmu mengatakan ada seseorang di balik bukit sana
Menunggumu dengan setia.
Menghargai apa arti cinta.
Hati yang terjatuh dan terluka.
Merobek malam menoreh seribu duka.

Kukepakkan sayap-sayap patahku.
Mengikuti hembusan angin yang berlalu.
Menancapkan rindu disudut hati yang beku.
Dia retak, hancur bagai serpihan cermin
Berserakan.

Sebelum hilang di terpa angin,
Sambil terduduk lemah.
Ku coba kembali mengais sisa hati
Bercampur baur dengan debu
Ingin ku rengkuh.

Ku gapai kepingan di sudut hati.
Hanya bayangan yang kudapat.
Ia menghilang saat mentari turun dari peraduannya.
Tak sanggup ku kepakkan kembali sayap ini
Ia telah patah.
Tertusuk duri-duri yang tajam.
Hanya bisa meratap.
Meringis..
Mencoba menggapai sebuah pegangan.

karya Kahlil Gibran

Senin, 22 Juni 2015

Untuk Ibu(kota)ku, Jakarta^^

Selamat malam, Ibukota.
Bagaimana kabarmu? Semoga kau selalu baik-baik saja. Meskipun aku tahu, bahwa kau sedang tak baik-baik saja.

Ibukota, ya, Jakarta.
Sudah delapan belas tahu aku menetap di jantungmu yang padat penduduk. Apa kau tak merasakan sesak di dadamu? Mungkin kau ingin mutah, karena tubuhmu sudah terlalu banyak penghuni lalu kau merasakan mual? Hm? Tidak? Sungguh? Kau terlihat munafik, sayang.

Kau tak marah dengan penghuni yang mengotorimu dengan tangan-tangannya yang tak bertanggung jawab?
Kau tak dendam dengan mereka yang mengambil senyummu, yang merampas kegagahanmu dan membiarkanmu menangis dengan sejuta ketidakpedulian mereka? Kau tak dendam? Kau tak ingin marah dengan mereka yang jahat padamu? Mereka menertawakanmu, kau diam saja?

Ah, mulia sekali hatimu. Kau memang seperti ibu yang rela melakukan apa saja demi anak-anaknya.

Tapi, kau perlu ingat, umurmu tak lagi muda; kulitmu keriput, kepalamu digunduli dari pepohonan yang semula subur, badanmu di penuh penyakit timbul berbentuk bangunan-bangunan tinggi nan megah.  Seringkali tubuhnya tak kuat menopang air lalu terendam lumpur setiap kali hujan. Aku prihatin dengan keadaanmu, Bu.

Aku sebagai anak yang hidup di rahimmu saat ini; Aku ingin memelukmu erat dengan kasih sayang sebagai penyertanya. Biarkan aku mencintaimu dengan caraku sendiri. Aku ingin merawatmu sepenuh hati. Aku ingin memaniskan senyummu kembali, yang telah lama masam ini.
Ah, ya, bu. Hari ini, hari kelahiranmu. Aku  ingin menghadiahimu puisi karangan penyair favoritku; W.S Rendra. Semoga kau suka, ya. J

Tuhan yang Maha Esa,
alangkah tegangnya
melihat hidup yang tergadai,
fikiran yang dipabrikkan,
dan masyarakat yang diternakkan.

Malam rebah dalam udara yang kotor.
Di manakah harapan akan dikaitkan
bila tipu daya telah menjadi seni kehidupan?
Dendam diasah di kolong yang basah
siap untuk terseret dalam gelombang edan.
Perkelahian dalam hidup sehari-hari
telah menjadi kewajaran.
Pepatah dan petitih
tak akan menyelesaikan masalah
bagi hidup yang bosan,
terpenjara, tanpa jendela.

Tuhan yang Maha Faham,
alangkah tak masuk akal
jarak selangkah
yang bererti empat puluh tahun gaji seorang buruh,
yang memisahkan
sebuah halaman bertaman tanaman hias
dengan rumah-rumah tanpa sumur dan W.C.
Hati manusia telah menjadi acuh,
panser yang angkuh,
traktor yang dendam.

Tuhan yang Maha Rahman,
ketika air mata menjadi gombal,
dan kata-kata menjadi lumpur becek,
aku menoleh ke utara dan ke selatan –
di manakah Kamu?
Di manakah tabungan keramik untuk wang logam?
Di manakah catatan belanja harian?
Di manakah peradaban?
Ya, Tuhan yang Maha Hakim,
harapan kosong, optimisme hampa.
Hanya akal sihat dan daya hidup
menjadi peganganku yang nyata.

Bagaimana menurutmu? Puisinya indah, kan? Aku sangat menyukainya, di setiap baitnya selalu membuatku tersentuh. Apa kau merasakan hal yang sama denganku? Semoga jawabanmu adalah ya!
Sekali lagi, selamat ulang tahun yang ke-488, Ibu(kota)ku. Semoga senyum dan bahagia dapat kau rasakan kembali. Aku mencintaimu. Selalu^^

Senin, 01 Juni 2015

Dari hambaMU.

Ya Allah,
Entah harus mulai dari mana aku menulis surat cintaku ini. Surat dari seorang hamba yang telah Engkau ciptakan di bumiMu yang begitu indah. Surat dari seorang yang tidak tahu balas budi atas semua kebaikan yang telah diberikan Allah kepadanya. Surat yang datang dari seorang makhluk yang paling sempurna menurutMu, berwujud manusia. Semoga Engkau berkehendak membacanya ya Allah, surat cinta yang kutujukan padaMu dengan linangan air mata.

Ya Allah,
Hampir 19 tahun Kau hadirkan aku di bumiMu ini. Begitu banyak coretan pena yang telah kutulis di dalam buku catatan harianku. Baik coretan itu berupa kebaikan maupun keburukan, tentu Engkau lebih tahu seperti apa diriku ini. Tentu pula malaikat di kanan dan kiriku tak pernah lengah dengan apa yang aku lakukan, semua tercatat rapih dalam buku catatan amalku.

Ya Allah,
Terkadang aku merasa begitu Engkau sayangi. Bagaimana tidak, seburuk apapun perlakuanku padaMu, tetapi Engkau tak pernah marah. Kau tetap sabar menghadapiku. Dengan tatapan kasih sayang dan kelembutanMu, Kau penuhi segala kebutuhanku, Kau penuhi semua permintaanku. Benarlah jika ada ungkapan yang pernah aku dengar dari orang lain yang mengatakan bahwa kasih sayangMu kepada makhluk ciptaanMu melebihi kasih sayang seorang ibu walaupun ada satu juta ibu yang dikumpulkan di muka bumi ini. Kasih sayangMu selalu mendahului murkaMu.

Ya Allah,
Maafkan aku jika sering berjalan di muka bumiMu dengan mata bisa melihat, tetapi buta. Telinga bisa mendengar, tetapi tuli. Mulut bisa berbicara, tetapi bisu. Kaki bisa berjalan, tetapi lumpuh. Dan kami sering merasa paling pintar, tetapi sesungguhnya bodoh. Kami berjalan bagai mayat sombong, tertawa terbahak-bahak, tak mengerti untuk apa hidup di dunia ini. Astaghfirullah.

Ya Allah,
Maafkan aku jika masih sering mengeluh atas setiap takdir yang Kau tetapkan untukku. Kadang aku tak mampu membaca rahasiaMu, membaca maksud yang tersirat atas setiap takdirMu. Aku masih suka merasa bahwa Kau tak memberikan yang aku pinta. Padahal seharusnya aku yakin, apapun yang Kau berikan untukku, apapun yang terjadi dalam hidupku, semua itu pasti yang terbaik untukku, taka da yang sia-sia sedikitpun. Tak mungkin Kau mencelakai hambaMu, seharusnya aku sadar akan hal itu.

Ya Allah,
Maafkan aku jika masih kurang bersyukur atas setiap nikmat yang Kau berikan. Seringkali kenikmatakan membutakan mata hatiku. Hingga tanpa sadar akupun lupa mengucap syukur kepadaMu. Padahal semua nikmat adalah pemberian dariMu dan aku pun tahu Kau pernah berjanji, apabila aku besyukur, Kau akan tambah nikmat itu padaku. Tetapi kenyataannya aku pun sering tak bersyukur, dan kufur atas setiap nikmat yang Kau berikan.

Ya Allah,
Engkaupun tahu masih sedikit sekali amal sholehku selama ini. Sudah sedikit, amal sholeh itupun masih kurang sempurna, terkadang masih aku nodai dengan niat-niatan duniawi yang terkadang tak kusadari. Terkadang ada rasa riya dan ingin dilihat oleh orang lain. Engkau pasti lebih tahu bisikan hatiku. Mungkin kalaupun amal sholehku dikumpulkan, itupun takkan cukup untuk menutupi dosa-dosa yang telah kuperbuat.

Ya Allah,
Betapa seringnya aku bertaubat, tetapi tanpa kusadari aku kembali ingkar kepadaMu. Betapa sering aku memohon ampun, tetapi setelah itupun aku kembali mengotori hatiku. Lagi-lagi Engkaupun lebih tahu daripada diriku sendiri. Bahkan tanpa sadar dosa-dosa itupun aku lakukan dengan kebanggaan. Astagfirullah.

Ya Allah,
Kedua orang tuaku, keluargaku, adik-adikku, sahabat-sahabatku mungkin menganggapku orang baik. Padahal jika mereka tahu seberapa hinanya diriku, seberapa kotornya hati ini, mungkin jangankan mereka mau mengenalku, menatap wajahku pun mereka tak kan pernah sudi. Tetapi lagi-lagi Kau tutupi semua aib-aibku di depan mereka. Kau biarkan aku terlihat baik di depan mereka, padahal sesungguhnya aku hanya seorang hamba yang hina dihadapaMu.

Ya Allah,
Aku tak tahu sampai kapan Kau izinkan aku hidup di dunia ini. Semua adalah rahasiaMu. Tetapi ya Allah, jika aku boleh memohon padaMu, sudilah kiranya Kau tetap menyangiku hingga kelak kematian tiba. Mungkin setelah menulis surat inipun, aku akan melakukan dosa kembali, tetapi satu pintaku ya Allah, jangan pernah Kau tinggalkan aku sedikitpun, walaupun aku sering pergi meninggalkanMu. Tegur aku dengan lembut ya Allah, jika aku mulai jauh dariMu. Bimbing setiap bisikkan hatiku, setiap lisanku, dan setiap langkahku agar setia pada jalanMu.

Ya Allah,
Jangan Kau panggil aku sebelum aku bisa membahagiakan dan membalas kebaikan kedua orang tuaku. Walaupun aku tahu, apabila aku bisa memberi dunia dan seisinya kepada mereka, itupun takkan pernah sebanding dengan pengorbanan yang mereka lakukan untukku. Tetapi jika Kau berkehendak memanggil aku sebelum aku bisa membahagiakan keduanya, maka aku titipkan mereka padaMu. Bahagiakanlah mereka ya Allah, dunia dan alhirat. Jadikan setiap kebaikan yang mereka lakukan untukku sebagai penghapus dosa-dosa mereka. Aku yakin Engkaulah sebaik-baiknya pemberi balasan.

Ya Allah,
Ada juga orang-orang yang kusayangi selain orang tua dan keluargaku. Mereka tak satu darah denganku, mereka tak satu orangtua denganku, tetapi mereka sangat menyayangiku dan aku pun menyayangi mereka. Merekalah saudara spiritualku di jalanMu. Mereka yang mengajariku tentang indahnya mencintaiMu dan KekasihMu. Mereka yang selalu hadir saat aku jauh dari orangtua dan keluargaku. Mereka dengan sabar mau menerima segala kekurangku. Aku mohon ya Allah, sayangi pula mereka. Bimbing jalan mereka saat aku tak berada di dekatnya. Kumpulkan kelak kami di surgaMu sebagaimana Kau kumpulkan kami di dunia ini.

Ya Allah,
Pintaku yang terakhir, jikalau nanti saat itu tiba, saat dimana malaikat maut menjemputku, bimbinglah lisan hamba untuk hanya menyebut namaMu. Jangan biarkan aku menyebut sesuatu yang kucintai di dunia ini. Karena aku ingin kembali kepadaMu, tanpa membawa cinta yang lain selain cintaku padaMu. Matikan aku khusnul khotimah ya Allah dan penuhi dadaku dengan rasa rindu berjumpa denganMu dan kekasihMu. Tak ada yang lebih kuinginkan kecuali bisa menatap wajahMu dan memelukMu kelak di surga.

Terimalah semua doaku ya Allah, ampuni segala dosaku, kasihanilah aku dan sayangi aku hingga di hari aku menutup mata selamanya, kembali kepelukanMu. Jika Kau tak mau menerimaku, kemana lagi aku harus kembali? Karena aku berasal dariMu dan kelak akan kembali kepadaMu.

Sembah Sujudku,

Hamba yang penuh dosa.

Minggu, 31 Mei 2015

Selamat Hari Jadi Kita, Hikari NiJi♥



Satu Juni, pertama. Satu Juni, kedua. Dan, hari ini adalah Satu Juni yang ketiga.

Selamat ulang tahun, Hikari NiJi.

Sungguh, aku tak bisa berkata apa-apa. Yang jelas, aku bangga dengan hubungan persahabatan ini. Rasanya baru kemarin kita saling berkenalan, saling bertukar cerita di setiap harinya.
Aku masih tak percaya dengan hubungan ini; hubungan yang tak pernah kita rencanakan, tapi berjalan manis. Amat manis. Hubungan yang tanpa sengaja kita buat ini sudah sangat terikat, meski tahun ini, kebersamaan tak selalu memihak kepada kita.

Ya! Tahun ini, jarak ada di antara kita setelah lulus sekolah. Aku dengan kuliah, Dewi dan Amel dengan pekerjaannya. Hhm.. Satu lagi, Almh. Desi, Ia dengan alam barunya. Jarak yang sangat jauh sekali, tapi dengan doa lah batin kita terasa jauh lebih dekat.

Di sini, aku ingin mengucapkan banyak terima kasih atas jiwa dan raga kalian, keluarga keduaku; Almh. Desi, Amel, dan Dewi.
Terima kasih atas mata yang ikhlas melihat segala kekuranganku, atas telinga yang selalu setia mendengarkan ceritaku. Terima kasih juga atas mulut serta suaranya yang kalian berikan untuk menasihatiku, menegurku dan mengingatkanku ketika aku bersalah. Terima kasih atas uluran tanganmu yang senantiasa selalu membantuku ketika aku sedang kesusahan. Terima kasih atas kekuatan yang kalian berikan melalui genggaman tangan dan sebuah pelukan ketika aku sedang melemah. Terima kasih atas segala-galanya yang kalian persembahkan untukku.

Sungguh, terlalu banyak kebaikan yang kalian berikan untukku. Aku saja sampai bingung, apa yang aku harus tulis lagi, cerita kita terlalu banyak. Intinya, aku merasakan kebahagiaan saat bersama kalian. Kita belajar menghargai semua perbedaan yang terjadi diantara kita.

Aku berharap, Hikari Niji akan terus seperti namanya; Cahaya Pelangi. Keindahannya terpancar karena kita saling menghargai satu sama lain. Meski banyak warna, tapi kita tetap berjalan sejajar, saling menghargai, dan tidak mendominasi ego dengan warna diri masing-masing, itulah yang kita lihat dalam persahabatan dan kekeluargaan kita. Selama perbedaan yang ada di antara kita bisa saling menghargai dan tidak mencoba merusak warna lainnya, atau berjalan sesuai jalan warnanya masing-masing dan tidak pula mengambil jalan warna lain, maka perbedaan itu adalah sebuah nikmat persahabatan yang begitu besar untuk kita rasakan. Ah, indahnya kita, Sahabatku.

Ah, yaa ini khusus teruntuk Emakku; Almh. Desi Lestari
Kau tak usah khawatir, kita tak mungkin melupakanmu begitu saja setelah kepergianmu. Melalui doa, kita akan mengirimkanmu sebuah hadiah. Kita yakin, kau pasti tersenyum senang di alam sana. Kita sayang kamu, mak:'*

Duh ya ampun, maaf, aku terlalu banyak berkata-kata. Aku sangat bergairah dengan hari ini, bahagia bisa menikmati hari bertambah usia persahabatan kita. Sekali lagi, Selamat ulang tahun, Hikari Niji; Cahaya Pelangi(ku). Semoga ikatan persahabatan ini selalu kuat; tak mudah putus, meski benda setajam apapun yang mencoba untuk memutuskan ikatan ini. Aamiin…


Selasa, 01 Juni 2015



Senin, 25 Mei 2015

Akhirnya Kumenemukanmu.


Kau masih berbicara di depanku, menceritakan apa saja yang ada di dalam kepalamu. Aku tenggelam dalam lautan kata-kata yang ada di bibirmu. Saat aku menatapmu tanpa kedip, aku melihat semesta yang ingin aku tinggali, yaitu hatimu.

“Mau kah kau menikah denganku?” ucapmu lembut, namun pasti. Aku terkejut, jantungku berdetak tak seperti biasanya. “Biarkan aku mencintamu hingga ujung usiaku, kasih. Aku mohon.” kau memeluk erat jemariku, tanda kau tak sedang main-main.

Ya Tuhan, aku tak bisa berkata apa-apa selain mengangguk. Seketika air mataku jatuh dengan pelan tanpa kusadari. Kau tersenyum, lalu memeluk tubuhku. Aku bahagia.


Akhirnya aku menemukanmu, kasihku. Pertanyaan atas kerisauan hatiku, kini semua sudah terjawab. Aku bersedia hidup dalam semestamu, mencintai apa yang ada di dalamnya hingga ujung usiaku. Sempurnalah cinta kita.

"Akhirnya Kumenemukanmu" - Naff #FiksiLaguku