Perempuan Hujan

Senin, 22 Juni 2015

Untuk Ibu(kota)ku, Jakarta^^

Selamat malam, Ibukota.
Bagaimana kabarmu? Semoga kau selalu baik-baik saja. Meskipun aku tahu, bahwa kau sedang tak baik-baik saja.

Ibukota, ya, Jakarta.
Sudah delapan belas tahu aku menetap di jantungmu yang padat penduduk. Apa kau tak merasakan sesak di dadamu? Mungkin kau ingin mutah, karena tubuhmu sudah terlalu banyak penghuni lalu kau merasakan mual? Hm? Tidak? Sungguh? Kau terlihat munafik, sayang.

Kau tak marah dengan penghuni yang mengotorimu dengan tangan-tangannya yang tak bertanggung jawab?
Kau tak dendam dengan mereka yang mengambil senyummu, yang merampas kegagahanmu dan membiarkanmu menangis dengan sejuta ketidakpedulian mereka? Kau tak dendam? Kau tak ingin marah dengan mereka yang jahat padamu? Mereka menertawakanmu, kau diam saja?

Ah, mulia sekali hatimu. Kau memang seperti ibu yang rela melakukan apa saja demi anak-anaknya.

Tapi, kau perlu ingat, umurmu tak lagi muda; kulitmu keriput, kepalamu digunduli dari pepohonan yang semula subur, badanmu di penuh penyakit timbul berbentuk bangunan-bangunan tinggi nan megah.  Seringkali tubuhnya tak kuat menopang air lalu terendam lumpur setiap kali hujan. Aku prihatin dengan keadaanmu, Bu.

Aku sebagai anak yang hidup di rahimmu saat ini; Aku ingin memelukmu erat dengan kasih sayang sebagai penyertanya. Biarkan aku mencintaimu dengan caraku sendiri. Aku ingin merawatmu sepenuh hati. Aku ingin memaniskan senyummu kembali, yang telah lama masam ini.
Ah, ya, bu. Hari ini, hari kelahiranmu. Aku  ingin menghadiahimu puisi karangan penyair favoritku; W.S Rendra. Semoga kau suka, ya. J

Tuhan yang Maha Esa,
alangkah tegangnya
melihat hidup yang tergadai,
fikiran yang dipabrikkan,
dan masyarakat yang diternakkan.

Malam rebah dalam udara yang kotor.
Di manakah harapan akan dikaitkan
bila tipu daya telah menjadi seni kehidupan?
Dendam diasah di kolong yang basah
siap untuk terseret dalam gelombang edan.
Perkelahian dalam hidup sehari-hari
telah menjadi kewajaran.
Pepatah dan petitih
tak akan menyelesaikan masalah
bagi hidup yang bosan,
terpenjara, tanpa jendela.

Tuhan yang Maha Faham,
alangkah tak masuk akal
jarak selangkah
yang bererti empat puluh tahun gaji seorang buruh,
yang memisahkan
sebuah halaman bertaman tanaman hias
dengan rumah-rumah tanpa sumur dan W.C.
Hati manusia telah menjadi acuh,
panser yang angkuh,
traktor yang dendam.

Tuhan yang Maha Rahman,
ketika air mata menjadi gombal,
dan kata-kata menjadi lumpur becek,
aku menoleh ke utara dan ke selatan –
di manakah Kamu?
Di manakah tabungan keramik untuk wang logam?
Di manakah catatan belanja harian?
Di manakah peradaban?
Ya, Tuhan yang Maha Hakim,
harapan kosong, optimisme hampa.
Hanya akal sihat dan daya hidup
menjadi peganganku yang nyata.

Bagaimana menurutmu? Puisinya indah, kan? Aku sangat menyukainya, di setiap baitnya selalu membuatku tersentuh. Apa kau merasakan hal yang sama denganku? Semoga jawabanmu adalah ya!
Sekali lagi, selamat ulang tahun yang ke-488, Ibu(kota)ku. Semoga senyum dan bahagia dapat kau rasakan kembali. Aku mencintaimu. Selalu^^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar