Selamat
malam, Ibukota.
Bagaimana
kabarmu? Semoga kau selalu baik-baik saja. Meskipun aku tahu, bahwa kau
sedang tak baik-baik saja.
Ibukota,
ya, Jakarta.
Sudah
delapan belas tahu aku menetap di jantungmu yang padat penduduk. Apa kau tak
merasakan sesak di dadamu? Mungkin kau ingin mutah, karena tubuhmu sudah terlalu
banyak penghuni lalu kau merasakan mual? Hm? Tidak? Sungguh? Kau terlihat
munafik, sayang.
Kau
tak marah dengan penghuni yang mengotorimu dengan tangan-tangannya yang tak
bertanggung jawab?
Kau
tak dendam dengan mereka yang mengambil senyummu, yang merampas kegagahanmu dan
membiarkanmu menangis dengan sejuta ketidakpedulian mereka? Kau tak dendam? Kau
tak ingin marah dengan mereka yang jahat padamu? Mereka menertawakanmu, kau
diam saja?
Ah,
mulia sekali hatimu. Kau memang seperti ibu yang rela melakukan apa saja demi
anak-anaknya.
Tapi,
kau perlu ingat, umurmu tak lagi muda; kulitmu keriput, kepalamu digunduli dari
pepohonan yang semula subur, badanmu di penuh penyakit timbul berbentuk bangunan-bangunan
tinggi nan megah. Seringkali tubuhnya tak
kuat menopang air lalu terendam lumpur setiap kali hujan. Aku
prihatin dengan keadaanmu, Bu.
Aku
sebagai anak yang hidup di rahimmu saat ini; Aku ingin memelukmu erat dengan
kasih sayang sebagai penyertanya. Biarkan aku mencintaimu dengan caraku
sendiri. Aku ingin merawatmu sepenuh hati. Aku ingin memaniskan senyummu kembali,
yang telah lama masam ini.
Ah,
ya, bu. Hari ini, hari kelahiranmu. Aku
ingin menghadiahimu puisi karangan penyair favoritku; W.S Rendra. Semoga
kau suka, ya. J
Tuhan yang Maha
Esa,
alangkah tegangnya
melihat hidup yang
tergadai,
fikiran yang
dipabrikkan,
dan masyarakat yang
diternakkan.
Malam rebah dalam
udara yang kotor.
Di manakah harapan
akan dikaitkan
bila tipu daya
telah menjadi seni kehidupan?
Dendam diasah di
kolong yang basah
siap untuk terseret
dalam gelombang edan.
Perkelahian dalam
hidup sehari-hari
telah menjadi
kewajaran.
Pepatah dan petitih
tak akan
menyelesaikan masalah
bagi hidup yang
bosan,
terpenjara, tanpa
jendela.
Tuhan yang Maha
Faham,
alangkah tak masuk
akal
jarak selangkah
yang bererti empat
puluh tahun gaji seorang buruh,
yang memisahkan
sebuah halaman
bertaman tanaman hias
dengan rumah-rumah
tanpa sumur dan W.C.
Hati manusia telah
menjadi acuh,
panser yang angkuh,
traktor yang
dendam.
Tuhan yang Maha
Rahman,
ketika air mata
menjadi gombal,
dan kata-kata
menjadi lumpur becek,
aku menoleh ke
utara dan ke selatan –
di manakah Kamu?
Di manakah tabungan
keramik untuk wang logam?
Di manakah catatan
belanja harian?
Di manakah
peradaban?
Ya, Tuhan yang Maha
Hakim,
harapan kosong,
optimisme hampa.
Hanya akal sihat
dan daya hidup
menjadi peganganku
yang nyata.
Bagaimana
menurutmu? Puisinya indah, kan? Aku sangat menyukainya, di setiap baitnya
selalu membuatku tersentuh. Apa kau merasakan hal yang sama denganku? Semoga jawabanmu
adalah ya!
Sekali
lagi, selamat ulang tahun yang ke-488, Ibu(kota)ku. Semoga senyum dan bahagia
dapat kau rasakan kembali. Aku mencintaimu. Selalu^^

Tidak ada komentar:
Posting Komentar