Perempuan Hujan

Kamis, 12 November 2015

Menyusuri Masa Lalumu


Aku melihat sesuatu dalam rumahmu,
bernama masa lalu.

Kakiku melangkah ke arah pintu masuk, tapi …
“Jangan! Aku tak ingin membuatmu sakit” ucapmu.
Langkahku terhenti
Mataku kembali menyusuri setiap sudut ruangan.

Aku melihat sesuatu yang menarik untuk kutelusuri,
“Aku ingin ke sana. Ijinkalah, kumohon!” pintaku.
kau mengangguk.

Lagi, kakiku kembali melangkah
Ke tempat yang bernama kenangan.
di sana ada kau dan dia; perempuan yang kau cintai.

Mataku menyusuri lekuk tubuh perempuan itu,
“Kau mencintai perempuan ini dengan sungguh” kataku
“Itu dulu!” suaramu terdengar
“kalau itu dulu, untuk apa kau masih menyimpan perempuan ini dalam rumahmu?”

Aku kembali mengitari sudut kenanganmu
Dan lagi, aku melihat sesuatu
Sebuah televisi yang memutarkan adegan kau bersama perempuan itu;
Terlihat kau sedang memetik senar gitarmu,
Sedangkan perempuan itu, duduk manis di depanmu.
Kau menyanyikan sebuah lagu,
Terdengar sangat sendu.

BERNAFAS UNTUKMU
Lagu yang kaunyanyikan untuknya.

Aku mengarahkan pandanganku padamu
“Lihat, kau yang sedang bersamaku saja, masih begitu mencintainya”
Aku tersenyum menyembunyikan luka.
“Aku hanya mencintaimu” kau memelukku.

Kau melihat hujan di mataku,
Aku memang perempuan yang selalu gagal menyembunyikan kesedihan.
Kau memelukku lagi, dan aku tenggelam.

“Mari kita pergi dari sini, aku tak ingin berlama-lama melihatmu bersedih”
kau merangkulku, aku tersenyum.
kaki kita melangkah bersama ke arah pintu keluar,
Sesekali aku memutar kepalaku ke arah belakang,
Masih kudapati perempuan itu sedang berdiri di belakang punggung kami,
Melihat kaki yang melangkah, tangan yang saling merangkul.
Perempuan itu melihatkan wajah yang tak suka,
Kami tersenyum, melanjutkan langkah.

MENUJU KEBAHAGIAAN.


NB: Keingintahuan dalam sebuah hubungan itu perlu termasuk perihal masa lalumu dengan seseorang. Tujuannya bukan untuk menyakiti diri sendiri, tapi untuk belajar; bagaimana cara untuk tidak menyakiti orang yang kaucintai, seperti kau disakiti/menyakiti masa lalumu. Satu lagi, terima bagaimana pun masa lalunya –jika kau mencintainya dengan sungguh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar