Setiap
wanita muslimah di muka bumi ini pastilah mengidolakan sosok Nabi nya Muhammad
SAW. Beliau adalah sosok laki-laki sempurna yang tiada tandingannya di dunia
ini. Tutur
kata, tingkah laku, dan segala yang dilakukan beliau adalah contoh untuk kita
semua. Nah,
kali ini kita bahas tentang sifat dan perlakuan Rasulullah SAW terhadap istri
beliau, kita bahas satu per satu yaa...
- Saat Marah kepada Aisyah
Kita
ketahui bahwa Nabi Muhammad SAW sangatlah menyayangi Aisyah, beliau sering
memanggilnya dengan sebutan Humaira (yang kemerah-merahan pipinya). Panggilan
yang terdengar sangan romantis sekali. Beliau tidak
pernah sekalipun mengeluarkan kata-kata penuh emosi kepada sang istri meskipun
sedang marah, walaupun sesungguhnya beliau juga manusia biasa yang diberi rasa
kecewa dan amarah. Saat beliau marah kepada istrinya, maka beliau biasa memijit
hidung Aisyah, sambil berkata, “Wahai Aisyah, bacalah do’a, ‘Wahai Tuhanku,
Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku, dan
lindungilah diriku dari fitnah yang menyesatkan’.” (HR Ibnu Sunni). Bahkan
beliau juga memperlakukan Aisyah dengan sangat lembut. Rasulullah tidak pernah
melibatkan emosi. Ketika sedang marah kepada Aisyah, beliau berkata, “Tutuplah
matamu!” Kemudian Aisyah menutup matanya dengan perasaan cemas, khawatir
dimarahi Rasulullah. Nabi berkata, “Mendekatlah!” Tatkala Aisyah mendekat,
Rasulullah kemudian memeluk Aisyah sambil berkata, “Humairahku, telah pergi
marahku setelah memelukmu.” Hhm so sweet :')
- Romantisme saat berpuasa
Ketika
diantara kita yang enggan untuk tetap memberi perhatian kepada pasangan dengan
alasan berpuasa, maka inilah sikap Rasulullah yang patut dicontoh: Dalam keadaan
puasa pun beliau mengecup Aisyah Ia
bertutur, “Rasulullah Saw. mendekatiku untuk mengecupku. Aku katakan bahwa aku
sedang berpuasa. Beliau bersabda, ‘Aku juga sedang berpuasa.’ Beliau
menghampiriku lalu mengecupku" .Nah, puasa bukan alasan untuk tidak
harmonis dan romantis kan, buat para pasangan suami istri.
- Lemah Lembut bahkan saat seharusnya beliau marah.
Dari
Anas bin Malik ia berkisah, “Suatu saat Nabi halallahu ‘alaihi wa sallam di
tempat salah seorang istrinya maka istrinya yang lain mengirim sepiring
makanan. Maka istrinya yang sedang bersamanya ini memukul tangan pembantu
sehingga jatuhlah piring dan pecah sehingga makanan berhamburan. Lalu Nabi
shalallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan pecahan piring tersebut dan
mengumpulkan makanan yang tadinya di piring, beliaushalallahu ‘alaihi wa sallam
berkata, “Ibu kalian cemburu…”. Perhatikanlah, Nabi shalallahu ‘alaihi wa
sallam sama sekali tidak marah akibat perbuatan istrinya yang menyebabkan
pecahnya piring. Nabi tidak mengatakan, “Lihatlah! makanan berhamburan!!, ayo kumpul
makanan yang berhamburan ini!. ini adalah perbuatan mubadzir!” Akan tetapi ia
mendiamkan hal tersebut dan membereskan bahkan dengan rendah hati nabi langsung
mengumpulkan pecahan piring dan mengumpulkan makanan yang berhamburan, padahal
di sampingnya ada seorang pembantu. Tidak cukup sampai di situ saja, nabi juga
memberi alasan untuk membela sikap istrinya tersebut agar tidak dicela. Nabi
mengatakan, “Ibu kalian sedang cemburu.”
- Menghormati hak istri
suatu
hari beliau juga pernah tidur di depan pintu rumah. Ketika itu Rasulullah
pulang terlalu malam, mungkin di sebabkan karna ada urusan yang mengharuskan
beliau pulang malam. Ketika Rasulullah Saw mengetuk pintu rumahnya 3 kali,
ketukan pertama biasa aja, ketukan kedua dan ketiga menjadi tambah pelan. Ketika
Rasulullah Saw tidak mendapati istrinya aisyah membukakan pintu, lantas beliau
tidur didepan pintu. Rasulullah melakukan hal itu karna beliau sangat
menghormati istrinya. Beliau mengargai hak dari sang istri untuk bisa tidur
tanpa mendapatkan gangguan. Padahal waktu itu Aisyah sedang menunggu kedatangan
beliau. waktu itu aisyah kaget karna tidak mendapati beliau di dalam ruamah,
sehingga aisyah keluar membuka pintu rumah yang sebenarnya kedatangan
Rasulullah Saw sedang di tunggu oleh aisyah. Ketika Aisyah membuka pintu rumah,
yang beliau dapatkan adalah Rasulullah Saw sedang tidur disana. Aisyah pun
berkata “kenapa engkau tidur disini?” Nabi Muhammmad menjawab, “Aku pulang
sudah larut malam, aku khawatir mengganggu tidurmu sehingga aku tidak mengetuk
pintu. itulah sebabnya aku tidur di depan pintu.”
- Menjaga perasaan istri
Rasulullah
Saw juga sangat menjaga perasaan istrinya. suatu ketika, Rasulullah SAW pulang
pada waktu pagi. Beliau pasti sangat lapar saat itu. Tetapi dilihatnya tidak
ada apapun untuk sarapan, bahkan yang mentah pun tidak ada karena waktu itu
‘Aisyah belum ke pasar. Maka beliau bertanya, “Belum ada sarapan ya, Humaira?”
Aisyah menjawab dengan agak serba salah, “Belum ada apa-apa ya Rasulullah.”
Rasulullah SAW lantas berkata, “Jika begitu aku puasa saja hari ini.” tanpa
sedikit pun tergambar raut kesal di muka beliau.
- Membersihkan titisan darah haid isteri
Dari
Aisyah r.a., dia berkata, “Aku pernah tidur bersama Rasulullah s.a.w. di atas
satu tikar ketika aku sedang haid. Apabila darahku menitis di atas tikar itu,
Baginda mencucinya pada bahagian yang terkena titisan darah dan baginda tidak
berpindah dari tempat itu, kemudian beliau sembahyang di tempat itu pula, lalu
Baginda berbaring kembali di sisiku. Apabila darahku menitis lagi di atas tikar
itu, Baginda mencuci pada bahagian yang terkena titisan darah itu saja dan
tidak berpindah dari tempat itu, kemudian baginda pun sembahyang di atas tikar
itu.” (Hadist Riwayat Nasai).
Hhm.. Masih
banyak lagi yang bisa kita petik dari sikap Nabi Muhammad SAW. Beliau memang
suami idaman bagi setiap wanita muslimah. Jika menginginkan suami seperti
beliau, maka bersikaplah seperti istri beliau. Berusaha yang terbaik untuk
suami, walaupun sulit, yuk kita berusaha. J

Tidak ada komentar:
Posting Komentar