Perempuan Hujan

Sabtu, 04 Juli 2015

Aku menuju kesempurnaan-Nya


Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuan dan istri-istri orang Mukmin agar mengulurkan atas diri mereka jilbab-jilbab mereka. Yang demikian itu menjadikan mereka. Lebih mudah untuk dikenal (sebagai wanita Muslimah/wanita merdeka/orang baik-baik) sehingga mereka tidak diganggu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS A1-Ahzab [33]: 59)

Sebelumnya, aku mengucapkan selamat pada diriku sendiri, karena telah istiqomah memakai hijab selama kurang lebih empat tahun lamanya. Semoga dengan hijabnya, aku lebih dan lebih bisa memperbaiki diri menuju kesempurnaanNya.

Nah, kali ini aku akan bercerita tentang proses aku memutuskan untuk berhijab. Tepat empat tahun yang lalu, ketika aku masih duduk di bangku sekolah kejuruan. Aku belum menutup auratku dengan hijab.

Saat bulan Ramadhan, sekolahku menetapkan aturan; selama bulan Ramadhan, diwajibkan untuk perempuan mengenakan hijab. Aku terpaksa mengenakannya. Ya, aku memang terpaksa melakukan hal itu. Karena aku pikir, kalau aku memakai jilbab, teman-teman dekatku bilang sok alim. Pun aku sempat menghina dalam hati kepada mereka yang berjilbab setengah-setengah. Mengenakan jilbab tetapi terlihat leher dan dada. Dan jujur, itu sangat menyiksaku. Sudah tidak suka dengan kain persegi yang tipis berkibar-kibar itu Jelas-jelas akan menyusahkan ruang gerakku. Sedikit-sedikit lepas jilbab. Gerah. Rambut rasanya gatal. Panas.

Menyedihkan, sampai segitunya aku dengan jilbab.

Hingga suatu hari, aku mengikuti kegiatan rohani islam (rohis) di sekolah yang di adakan setiap hari jumat setelah jam pelajaran selesai. Aku ingat sekali, pembicara saat itu membahas tentang virus merah jambu dan hijab yang diwajibkan untuk kaum hawa. Pembicara itu bilang; “Ketika wanita memamerkan auratnya, meski pakaian yang ia kenakan sopan (tapi tak memakai jilbab) itu berarti ia adalah sumber dosa. Dosa bagi setiap laki-laki yang melihatnya. Itulah sebab banyak laki-laki melakukan zina mata.” Katanya.

“Aku sering digoda laki-laki genit yang kurang ajar ketika aku lewat di depan mereka, padahal pakaian yang kupakai tak terbuka; aku masih mengenakan pakaian lengan panjang dan celana panjang.” Aku bersuara.

“Nah, dengan berjilbab lah, kita bisa menjaga diri kita dari rasa tidak aman. Kalian pasti pernah merasakan hal yang sama seperti yang diceritakan Lidya; ketika kamu lewat di depan segerombolan laki-laki (baik yang kamu kenal, maupun tidak) dalam keadaan kamu tidak menutup aurat, ia akan menggoda ‘ssttt.. cewek boleh kenalan gak?’ bahkan sering dibarengi dengan colekan atau sentuhan nakalnya. lain halnya ketika kita memakai jilbab, mereka menggoda dengan cara sopan; mengucapkan salam ‘Assalamualaikum, cantik, mau kemana?’, seperti itu, kan?.” Kamipun menganggukan kepala, tanda setuju dengan apa yang diceritakan kakak pembicara tersebut. Dan memang kejadian itu sering terjadi.

Lagi, pembicara itu menjelaskan hadits mengenai hijab; “Wahai anakku Fatimah! Adapun perempuan-perempuan yang akan digantung rambutnya hingga mendidih otaknya dalam Neraka adalah mereka itu di dunia tidak mahu menutup rambutnya daripada dilihat oleh lelaki yang bukan mahramnya.”

Selangkah anak perempuan keluar dari rumah tanpa menutup aurat, maka selangkah juga ayahnya itu hampir ke neraka. Selangkah seorang isteri keluar rumah tanpa menutup aurat, maka selangkah juga suaminya itu hampir ke neraka. -H.r Bukhari dan Muslim-“

Deg! Istighfar terus mengalir dari bibirku. Aku yang berbuat dosa, mereka ikut di masukan ke dalam api neraka? Egois sekali diri ini. Mungkin dari situ, Allah membukakan pintu hidayah untukku. Aku mulai berniat untuk berhijab.

Hari demi hari selama bulan Ramadhan, aku melakukan aktivitas dengan jilbabku di sekolah. Aku menemukan kenyamanan, ada rasa tak ingin melepaskannya. Aku ingin terus bersamanya.

Akhirnya pelan-pelan kumantapkan hati. Semakin mencari-cari hukum tentang berjilbab bagi wanita. Baca sana baca sini. Memahami ini dan itu tentang agama. Semakin aku tahu, semakin terasa ngeri hati ini. Sungguh, dalam hati aku bertanya, kemana saja kau selama ini, Lid?! Ini agamamu, mengapa hal wajib yang mendasar seperti ini saja selama delapan belas tahun kau tidak mengetahuinya! Hellooo~

Lagi lagi istighfar mengalir deras dari bibirku.

Aku pernah membaca salah satu postingan dari fanpage di facebook. Isinya sangat menginspirasi sekali, benar-benar menyentuh perjuangan para wanita-wanita muslim dalam mempertahankan jilbab mereka. Hatiku tersentuh dan bergetar hebat! “Hei, lihat perjuangan dan semangat itu. Bahkan ujianmu ini belum seberapa jika dibanding dengan mereka. Ayo berdiri dan kuatkan hatimu. Ini wajib, penyempurna agamamu. Maka berjuanglah!” Kurang lebih isi pesannya seperti itu.

Aku semakin ingin memantapkan hati untuk berjilbab. Kadang, aku masih memikirkan bagaimana dengan kegiatanku di luar sekolah yang menurutku tak pantas dilakukan untuk seorang perempuan yang berjilbab seperti ini; dance. Yaa! Aku punya kegiatan ngedance di luar sekolah. Mana mungkin aku menari dengan balutan kain panjang di sekujur tubuhku? Sedangkan aku tak ingin meninggalkan kegiatan tersebut. Aku pusing memikirkan jalan keluarnya.

Lalu suatu hari, aku bertemu kak Ricky. Ia kakak kelasku yang sudah aku anggap sebagai kakak kandungku sendiri, sekaligus yang mengajariku menari. Aku memintainya pendapat; “Bagaimana aku bisa terus belajar menari dengan hijabku ini, kak? Tubuhku tertutup tapi menari-nari seakan memamerkan tubuh dengan gerakan dance yang sudah aku pelajari meski tidak terlalu eksotis, tapi aku rasa itu kurang etis aja gitu, kak” “Kamu masih bisa menari, sayang. Dengan catatan, kamu harus memantaskan gerakan dengan hijabmu. Tidak semua tarian itu eksotis dan terkesan seksi, banyak tarian dan gerakannya yang masih pantas kamu pelajari.” Aku diam. “Kamu tenang aja, jangan ragu melakukan hal baik, hanya karena sebuah hobimu. Itu sifat syetan, sayang. Kamu manusia kan, bukan syetan?” Dia tertawa geli. Aku hanya tersenyum dan memahami apa yang dikatakannya. Dan, Aku rasa ada benarnya juga apa yang di bilang kak Ricky. Aku semakin semangat.

Tepat di hari turunnya Al Qur’an, 17 Ramadhan. Aku sudah mulai memakai jilbab dengan kain panjang yang meutupi seluruh tubuhku, ketika aku keluar rumah, kemana dan sedekat apapun itu jaraknya. Kalian tahu? Aku merasakan kalau jilbab itu benar-benar mampu menahan semua keburukan yang keluar dari jiwa kita. Kebencian, kemarahan, dan emosi yang dulu meluap-luap, sudah mampu kutata dengan baik. Karena apa? Karena pengaruh jilbab. Ingat dengan semua larangan-Nya. Rasa panas, gerah atau gatal di rambut tidak kurasakan lagi. Subhanallah, inilah yang namanya niat. Kekuatan yang kurasakan karena hangatnya agama yang menyejukanku benar-benar menenangkan! Aku sudah memulai mengajak ibu dan adikku untuk memakai jilbab, dan mereka mengikuti saranku. Ah, aku bahagia.

Memang, belum sempurna kemampuanku memahami kembali agama yang dulu pernah kutinggalkan. Perjuangan dan perjalanan hijabku pun belum berlabuh pada kata selesai. Dan aku sadar, hijabku belum sempurna, tapi izinkan aku untuk berproses menuju kesempurnaan. Rangkul aku dengan nasehat, jangan pukul aku dengan hujatan ketika akhlakku melakukan kesalahan. Aku masih perlu banyak belajar dan belajar. Menambal semua kekurangan yang tertinggal jauh. Tetapi aku yakin, Allah, pasti menjagaku.
Aamiin..


Jadi, kapan kalian berproses menuju kesempurnaanNya sepertiku, Girls? J

Tidak ada komentar:

Posting Komentar