Perempuan Hujan

Sabtu, 20 Desember 2014

Separuh Kami, Dirimu :')

Aku masih duduk didepan teras menikmati suasana guyuran hujan sejak pagi tadi. Bahkan hujan mengizinkan senja muncul hari ini, untuk sekedar menjemput mentari kembali keperaduannya. Aku masih terdiam di sini sejak beberapa menit lalu, tiba-tiba telingaku menangkap suara isak tangis yang menyelingi suara rintikan hujan.  Aku segera berdiri menelusuri suara tangisan itu, semakin dekat aku menelusuri semakin jelas suara isakan itu dan ternyata isakan kecil itu milik seseorang yang aku kenal. Cowok tampan dan manis, tinggi dengan rambut ikal yang membingkai diwajahnya, begitu kata orang tentangnya. Tapi kenyataannya aku tidak tau, yaa.. karena aku memang sama sekali belum pernah melihatnya.
Aku Sheilla, aku seorang perempuan yang -katanya- dibuang oleh orang tuaku karena aku cacat fisik. Aku buta sejak lahir dan karena itu juga aku tinggal di panti ini, panti yang menampung orang-orang cacat dan penyakitan seperti aku.  Sudahlah tak perlu berpanjang lebar membahas tentang hal yang menyakitkan untukku, yang jelas aku merasa ada kehidupan yang layak disini dan aku nyaman.
Aku berjalan menghampiri dan memayunginya dengan payung merah mudaku. “Ngapain kamu disini sendirian, Ren? Ini hujan loh!” tanyaku pada laki-laki yang ku sapa Rendy itu. “Kamu yang ngapain disini? Aku gak butuh perhatian dari kamu! Pergi…!!!”  ia membentakku, sambil menepis payungku. Air hujan pun mulai menyapa kulitku. “Ren, ayo kita masuk, kamu kan lagi sakit.” ajakku dengan sedikit paksaan sambil menarik tangan Rendy. “Aaarrgghh,, LEPAS!! Gue bilang gak usah peduliin gue! Gue gak sakit, gue gak cacat. Gue baik-baik aja, jangan lo fikir gue sama kaya lo dan teman-teman lo yang cacat dan penyakitan itu yah?! Pergi sana dari hadapan gue!!!”  bentak Rendy kasar.
Sakit. Ya, tentu aku marah dan aku sedih dengan ucapan Rendy tadi. Tapi dia sahabatku, mana mungkin aku tega  membiarkan Rendy kehujanan sendirian disini, apalagi ia baru sembuh dari sakitnya. “Kalau kamu nggak mau masuk, aku juga bakal tetep disini nemenin kamu!” ancamku. “Udah deh, PERGI SANA!!”  Rendy mendorongku keras
“Sheilaaa….” teriak seorang laki-laki menghampiriku. “Shei, kamu gak apa-apa?” ucap seorang perempuan sambil membantuku untuk berdiri. Tidak salah lagi, mereka adalah sahabatku juga, Riyan dan Tiara. Riyan adalah penderita penyakit kerusakan hati kronis, sedangkan Tiara menderita penyakit gagal ginjal. Sudah kubilang, panti ini memang dibangun khusus untuk anak-anak seperti kami. Disini kami merasa lebih nyaman, kami merasa sama dan senasib, disini kami belajar saling melengkapi, belajar saling peduli dan saling berbagi.
Tapi Rendy… Dia berbeda dengan kami,  dia tidak cacat, apalagi penyakitan. 6 tahun lalu, ibu panti membawa seorang anak laki-laki berusia sekitar 5 tahun kesini. Ibu panti bilang ia menemukan anak itu di terminal. Anak itu menangis mencari ibunya, mungkin Rendy terpisah dari orang tuanya, atau mungkin sengaja di tinggal. Ahh entahlah, itu tidak penting untuk kami.  Saat itu kami hanya berfikir akan mempunyai teman baru lagi dan aku bahagia dengan kehadirannya. Saat ia sedih merindukan orang tuanya, ia selalu bilang “Orang tuaku pasti akan menjemputku disini. Pasti.” itulah kalimat andalan Rendy.
Sejak awal kehadirannya, dia selalu menolak saat kami ajak bermain. Dia tidak ingin berbaur dengan kami, ia sibuk dengan dunianya sendiri, selalu menyendiri. Tetapi seiring berjalannya waktu, Rendy mulai beradaptasi dengan kehadiran kami dikehidupan barunya disini. Rendy anak yang baik hati, pintar dan lucu. Kami pun mulai terbiasa membaurkan diri kami dengannya dan Rendy mulai menerima kami sebagai keluarga barunya, ia anak yang ramah dan penyayang bagiku.
Hari demi hari telah terlewati. Aku, Tiara, Riyan dan Rendy sering bermain dan belajar bersama. Rendy mengajari banyak hal pada kami,  termasuk semangat hidup untuk sembuh. Rendy selalu mengajari Riyan bermain gitar dan menemaninya bermain sepak bola, bahkan Rendy juga mau menemani Tiara yang hobi karaoke-an. Rendy juga selalu menceritakan hal-hal yang tidak bisa aku lihat, seperti keindahan saat mentari terbenam, bunga yang bermekaran, rinai hujan yang mengguyur bumi, juga tentang sosok Riyan dan Tiara. Rendy bilang Riyan itu tampan, tinggi, kulitnya putih. Sedangkan Tiara, cantik, kulitnya putih dan berambut lurus panjang sebahu. Dan Rendy juga bilang kalau aku itu manis, dengan dagu yang agak terbelah dan rambut hitam bergelombang yang membingkai wajahku.
Tapi entah mengapa beberapa bulan ini sikap Rendy berubah total, ia kembali menjadi Rendy yang pertama kita kenal. Rendy sering menyendiri dan tidak ada yang boleh satu orang pun masuk kehidupannya lagi. Kini, Rendy cengderung menjadi sosok yang mudah marah, kasar dan menyebalkan. “Ren, lo apa-apaan sih? Gak usah kasar gini dong. Sheila itu perempuan!” gentak Riyan membelaku.  “Haha, lo? Gak usah ikut campur. Ngerti?!!” kata Rendy dengan nada keras. “Tapi Ren…..” kata Tiara terpotong “Tapi apa??? Lo juga! Gak usah ikut campur sama kehidupan gue!” Rendy kembali membentak.  “Kamu berubah, Ren! Kamu bukan lagi Rendy, yang kami kenal ramah. Kami sahabatmu, Ren. Kamu lupa?!” Mataku mulai berkaca-kaca. “Hah? Apa lo bilang? Gue sahabat kalian? HAHA jangan berkhayal. Gue gak butuh sahabat cacat dan penyakitan seperti kalian!” volume suara Rendy mulai membesar.
Tiba-tiba *Paakkkkkk…… terdengar suara tamparan. “Tiara? Udah berani nampar gue? HAHA hebat. Mau nambah lagi? Tampar gue lagi, tampar sekarang. Dan lo Sheila, mau nampar gue? Ayoo silakan dengan senang hati. Riyan, gimana dengan lo? Lo juga mau nampar gue? Atau lo mau pukul gue sama babak belur? Gak apa-apa, ayo pukul sekarang silakan.” Rendy berceloteh panjang lebar menawari diri untuk menampar dan memukulinya. Tapi sekali lagi, kami sahabatnya. Kami tidak mungkin tega menyakiti diri sahabat kami. Kami terdiam membisu. “Kenapa diam aja? Ayo tampar gue, pukul gue! Tadi Tiara berani tuh.” Emosi Rendy meningkat. “Mana mungkin kami menyakiti sahabat sendiri.” kataku mulai meneteskan air mata. “Halah, Omong kosong! Pergi sana… Gue gak mau lihat muka kalian!” Rendy mengusir kami. “Kami merindukanmu, Ren. Bagaimanapun sikap kamu terhadap kami, kamu akan tetap menjadi seorang sahabat yang kami cintai.” kataku. Rendy terdiam dan kami segera meninggalkan Rendy sendiri.

***

Sore itu selepas hujan. Kami bertiga, aku, Riyan dan Tiara, berencana untuk berkumpul di danau Pelangi. Danau ini, Rendy lah yang menemukannya. Sudah lama Rendy tak mengunjungi Danau Pelangi karena akhir-akhir ini Rendy lebih sering mengunci diri di kamarnya.
Kami menyusuri danau ini, kami dikelilingi daun berwarna hijau cerah, di hiasi butiran-butiran bening sisa air hujan tadi pagi. Air danau nya pun bergerak perlahan membiaskan langit yang kala itu di hiasi pelangi. Saat malam danau ini akan menghamparkan ribuan bintang dan cahaya bulan. Tiba-tiba Riyan menghentikan langkahku dan Tiara. “Hey…. Lihat! Pelangi itu muncul.” Kata Riyan menunjuk langit yang dihiasi pelangi itu. “Ohyaa? Masa sih?” kataku. “Iya , Shei. Lengkungan warna-warninya udah sempurna.” Jawab Tiara dengan semangat. “Andai ada Rendy disini, pasti dia akan menceritakan warna-warni tentang pelangi itu” harapku dalam hati. “Aku kangen Rendy” gumamku. “Kita juga sama, Shei. Kita kangen Rendy” kata Riyan dan Tiara memelukku.
Setelah itu, kami terdiam. Tak beberapa menit kemudian pelangi itu pun hilang, kami beranjak pulang, tapi kemudian derap kami terhenti. “Kenapa berhenti?” tanyaku heran. Ternyata Riyan dan Tiara melihat Rendy melangkah perlahan ke arah sebuah pohon yang tidak terlalu besar. Ia menggali lubang disana dan menguburkan sesuatu, sejenak Rendy terdiam lalu air matanya mulai menetes perlahan dan jatuh sampai ke bumi. “Rendy Ngapain yah disitu, kenapa dia nangis?” Tiara bertanya-tanya. “Apa? Ada Rendy disini? Dia nangis? Aku mau samperin dia.” Kataku sambil melangkahkan kaki menuju pohon itu. “Shei, Jangan Shei. Udahlah jangan kamu pikirin dia lagi, dia bilang sendiri kalau dia nggak butuh kita” cegah Riyan menarik tanganku. “Tapi dia sahabat kita, Yan!” kataku. “Itu dulu, Shei.” sergah Riyan. “Apa kamu bilang, yan? Dulu? Sekaran juga! Dan SELAMANYA!!” aku melepaskan genggaman tangan Riyan di pergelangan tanganku dan aku langsung pergi menjauh.

***

3 Minggu berlalu. Suara Guntur dan angin menghiasi malam ini. Kami membisu, menatap sosok lemah itu dari balik kaca jendela. Ia terlihat begitu letih, guratan kesakitan hampir menghilangkan ketampanannya. Rambutnya menipis, kulitnya memucat, bibirnya pun putih, dan tangan yang dulu selalu diulurkan untuk membantu teman-temannya, kini lemah tak berdaya. Air mata kami tentu tak dapat dihitung, sudah berapa banyak yang tertumpah.
“Rendy selalu bilang kepada ibu, kalau kalian segalanya untuknya, maafkan sikap Rendy selama ini pada kalian, maksud sikap Rendy terhadap kalian kemarin supaya kalian membenci dan menjauhinya. Itulah sebabnya kenapa Rendy berubah mendadak kasar dan seakan menjauhi kalian. Dia hanya tidak ingin kalian merasa sedih saat dia pergi nanti.” Jelas ibu panti kepada kami. “Ibu jangan bilang begitu, Rendy pasti sembuh. Kita selalu mendoakannya.” Ucapku getir.
Semua hanyut dalam kesedihan dan doa. Doa untuk sahabat terbaik kami selalu mengalir deras dari mulut kami. Aku takut,  entah mengapa aku merasa Rendy akan segera pergi meninggalkan kami, tapi segera ku tepis perasaan itu. Bagaimana jadinya kami tanpa dia, bukankah dia yang selama ini menyemangati kami, yang ikut merasakan kesakitan penyakit Riyan, yang ikut menangis melihat Tiara cuci darah, yang menjadi tongkat dan petunjuk arahku. Tentu tuhan tidak akan sejahat itu, mengambilnya dari kami. Bersamaan dengan doa yang terus mengalir untuk Rendy yang sedang berjuang di dalam sana, memori tentang Rendy pun berputar dalam pikiran kami masing –masing.

>> FLASH BACK>>

Siang itu kami berempat berkumpul di danau pelangi untuk bermain bersama. Walaupun hujan mengguyur tubuh kami, kami tetap asyik dengan canda dan tawa yang kami ciptakan. Kami bernyanyi dan menari-nari dibawah siraman air hujan. Rendy, Riyan dan Tiara kompak mencipratkan air hujan ke tubuhku dan aku membalasnya. Kami merasakan kebahagiaan saat itu.
Sudah cukup lama kami bermain dibawah jutaan titik-titik air langit. Kami menatap langit yang sudah mulai cerah, awan-awan hitam pun pudar dan matahari sudah terlihat. Kedatangannya menghangatkan tubuh kami.
“Heeyyy…. Coba lihat diatas sana, pelangi mulai muncul.” Riyan menunjuk kearah lukisan tuhan yang indah itu. “Indahnya…Pengen deh, persahabatan kita kaya warna-warni pelangi, selalu lengkap. Tapi sayangnya gak mungkin, suatu hari nanti salah satu diantara kita pastiii…” kata Tiara terpotong. “Riyan pasti dapet pendonor hati, Tiara pasti dapat ginjal yang cocok dan Sheila pasti dapat pendonor mata dan bisa melihat lagi. Percaya deh, suatu saat kalian akan sembuh dan menatap pelangi itu sambil tersenyum” Rendy memotong pembicaraan Tiara sebelumnya, ia tidak mau membicarakan kematian atau perpisahan. “Iya, aku jadi gak sabar pengen bisa liat pelangi bareng kalian, sahabatku” ucapku sambil memeluk Tiara, Rendy dan Riyan.

>>FLASH BACK OFF>>

Kami berlari kecil di koridor rumah sakit. Tiara terus menggandeng tanganku. Senyum manis merekah di sudut bibir kami, mendengar kabar bahwa Rendy sudah sadarkan diri. Kami masuk ruangan dimana Rendy dirawat, segera kami menghampiri Rendy. “Ren…” sapa Riyan. “Haii, kalian?” Rendy tersenyum, kami menatapnya sedih. “Pada kenapa sih, gak usah di dramatisir gitu deh, Aku sadar bukan buat lihat kalian sedih, apalagi nangis begitu” kata Rendy. “Kamu harus janji, Ren sama kita!” pinta Riyan. “Janji apa?” tanya Rendy. “Janji gak bakal ninggalin kita” lanjut Riyan. “Iya, kamu juga harus cepet sembuh Ren, kamu kan udah janji mau nemenin aku liat pelangi. Sebentar lagi aku bakal bisa lihat loh, Ren” pintaku pada Rendy. “Iya, kita semua dapat pendonor Ren, kita bakal sembuh, kaya yang kamu bilang dulu. Makanya kamu juga harus perjuangin untuk kesembuhanmu.” Tiara tersenyum. “Aku pengen jalan-jalan ke danau pelangi, kalian mau kan anterin aku? Gak akan lama kok, sebentar aja.” pinta Rendy. Melihat keadaannya yang stabil, kami pun akhirnya setuju. “Ya udah, tapi sebentar aja yah, lo kan harus banyak istirahat” kata Riyan, Rendy pun mengangguk setuju. “Aku izin ke dokter dulu yah” usul Tiara. “Okee!!” kami serentak dan tersenyum.
Kami pun mulai menyusuri jalan berumput menuju danau pelangi, dan “Shei, kamu yang dorong kursi rodaku yah?” pinta Rendy. Yaps, Rendy meminta aku yang buta ini untuk mendorong kursi rodanya, aku pun menyetujuinya. Dia selalu mengarahkanku, menuntunku ke jalan yang tepat. Aku semakin sadar akan sangat sulit berpisah darinya, dia adalah titik cerah yang Tuhan kirimkan untuk sosok dalam kegelapan seperti aku.
Sesaat kami sampai di danau pelangi, kami disapa oleh bau tanah yang semerbak dan tetesan air yang bergelantung di ranting-ranting pepohonan. Tapi air danaunya berubah, tidak lagi tenang seperti biasanya, kini air danaunya beriak seakan sedang gelisah. “Eh eh, pelanginya udah muncul tuh” teriak Tiara. “Selalu indah” gumam Rendy sambil tersenyum. Kami semua menatap lengkungan barisan warna itu, aku pun seakan menemukan lengkungan berwarna itu dalam kegelapan. Memang di lihat berapa kali pun tak akan mengurangi keindahannya.
“Aku mau jadi warna merah, kuat dan berani, supaya bisa jagain kalian” kata Riyan tiba-tiba. “Kalo aku mau jadi warna kuning, ceria dan periang, supaya aku bisa bikin hari kalian selalu cerah.” lanjutku. “Aku mau  jadi warna hijaunya, tenang dan lembut, biar aku bisa bawain kalian kesejukan” tambah Tiara. “Kalau kamu, Ren?” tanyaku. “Kalau aku mau jadi sejuta rinai hujan” ucap Rendy, kami semua menoleh ke arahnya. “Kenapa hujan ren? Kenapa gak jadi langitnya, langit tempat pelangi bergantung” saranku.
“Suatu saat kita pasti akan berpisah, dan aku bakal jadi orang pertama yang mempersatukan kita. Kalian tau kan pelangi gak akan muncul tanpa seruan hujan, karena itu aku pengen jadi hujan, hujan yang akan memanggil kalian. Itu artinya akulah yang selalu mengantarkan kebahagiaan pelangi untuk kalian, kapanpun dan dimanapun kalian berada.” Jelas Rendy panjang lebar.
Aku menangkap kata-kata itu sebagai ucapan perpisahan. Aku berfikir bahwa Rendy sadar bukan untuk sembuh, tapi hanya untuk mengizinkan kami melihat senyumnya untuk yang terakhir kali. “Kita pulang yuk Ren.” ajakku. “Sebentar lagi Shei, nunggu pelanginya hilang dulu” Rendy menolak. Kami melanjutkan untuk menatap pelangi itu, pelangi terakhir yang bisa kami nikmati bersama sosok Rendy, karena setelah itu bersamaan dengan pelangi yang lenyap, mata Rendy pun perlahan merapat, tapi kedua sudut bibirnya tetap membentuk lengkungan manis. “Rendy? Rendy… bangun Ren…” kata Tiara terisak. “Rendy kenapa, Ra? Riyan, ada apa dengan Rendy??“ aku panik. “Kamu dan pelangi pergi bersamaan, Ren.” lirih Riyan.
Kita sama-sama tau bahwa jiwa Rendy telah meninggalkan raganya. Aku menggenggam tangan Rendy sangat  dingin. Saat menuju rumah sakit, aku kembali mendorong kursi roda yang dinaiki Rendy. Tapi kini tentu berbeda, karena raga yang duduk di atasnya tak lagi menunjukkan arah yang harus ku tempuh. Kami semua menangis merasakan gejolak kesedihan dalam relung hati.

***

Hari itu cuaca cerah, burung pun beterbangan di angkasa dan kicauannya terdengar merdu saat itu. Sudah beberapa menit berlalu. Kami masih  berdiri disini, di bawah sebuah pohon yang tidak terlalu besar, di tepi danau pelangi. “Sekarang, Yan!” kata Tiara. Riyan pun mulai menggali tanah itu, tak berapa lama sebuah kotak muncul di dasar lubang yang tidak terlalu dalam. Riyan mengambil kotak itu dan membersihkannya dari beberapa bulir tanah. Kami bertiga sepakat untuk segera membukanya, membuka kotak yang Rendy kubur waktu itu. Saat kami membukanya, kami dapati 5 buah benda disana. Lukisan kecil bergambarkan gitar dari Riyan, syal biru tua dari Tiara, gantungan kunci berbentuk gitar dariku dan selembar foto kami berempat sedang tertawa lepas menatap kamera. “Ternyata memang manis. Manis sekali” batinku.
Yaa, inilah kali pertama aku melihat wajah Rendy. Sekarang kami bertiga telah sembuh, pendonor itu telah memberikan separuh dari dirinya untuk menjadi setitik kehidupan untuk kami.. Aku sudah dapat mata, Riyan sudah dapat hati dan Tiara sudah dapat ginjalnya. Kami benar–benar sudah sembuh, tapi tetap saja kehidupan kami belum lengkap tanpa Rendy disisi kami. Terakhir sepucuk surat yang di taruh di dasar kotak. Riyan mulai membuka dan membacanya. Aku dan Tiara mendengarkannya.

Aku Rendy Nugraha , Aku bukan laki-laki hebat, aku juga bukan laki-laki kuat, aku hanya seorang laki-laki yang baru nemuin kehidupan aku disini, aku baru ngerasain gimana rasanya disayangi, gimana diperhatiin dan aku ngerasain indahnya berbagi. Dari kecil aku sendirian, aku dibuang oleh orang tuaku. Tapi aku bersyukur karena dengan begitu akhirnya Ibu panti mempertemukan aku dengan mereka. Yaps! Sheila, Tiara dan Riyan.

Mereka sahabatku, semangatku, hidupku. Aku rela ngasih apapun yang aku punya buat mereka. Saat aku tau mereka bakal cepet ninggalin aku, Aku takut, Aku sedih, Aku berdoa agar aku yang duluan di panggil Tuhan, supaya aku gak perlu ngerasain sedihnya kehilangan mereka. Dan Tuhan mengabulkan doaku, kanker otak stadium akhir, penyakit yang aku  fikir ini anugerah, tapi kemudian aku sadar, gimana dengan mereka kalau aku pergi lebih dulu dari mereka, siapa yang akan mejaga mereka?
Berpura-pura semuanya baik-baik saja, tentu bukan hal yang mudah bagiku,  jadi aku memilih  untuk mejauh dari mereka. Aku gak mau semangat mereka buat sembuh hilang saat mereka tau keadaanku yang sebenarnya seperti ini. Aku nyesel akan doa yang aku pinta pada Tuhan, Aku gak  yakin sanggup biarin mereka sedih, aku gak akan sanggup ninggalin mereka, aku masih pengen liat mereka tersenyum. Akhirnya aku mutusin buat titipin sebagian dari aku ke mereka. Mataku untuk Sheila, hatiku untuk Riyan dan ginjalku tentu saja untuk Tiara. Semoga dengan gini aku bakal tetap bisa disisi mereka meski dalam wujud yang nantinya akan berbeda. Aku harap kalian akan tetap tersenyum walaupun ragaku tidak bersama kalian tapi separuh milikku ada dikehidupan kalian. Aku menyayangi kalian, sahabatku.

Sahabatmu, Rendy Nugraha

Tak ada air mata yang tercurah dari kami bertiga, melepas sahabat terbaik kami tentu bukan dengan air mata tapi dengan doa. Lagi pula hujan telah mewakili air mata kami. Ya, saat itu hujan turun, padahal hari ini cuaca sangat cerah, bahkan mentari tak beranjak dari tempatnya. Kami berlari-lari kecil di tengah hujan, seperti yang sering Rendy lakukan dulu, kami berkejaran dan tertawa lepas menikmati hujan. Biarlah raganya menjauh, tapi kasih sayangnya tentu masih mengalir dalam deru darah kami. “Eh lihat ada pelangi muncul” tunjuk Tiara. “Kamu berhasil jadi rinai hujan, Ren” ucapku lirih, aku menangis terharu. “Iyaa, Rendy berhasil bawa pelangi buat kita” lanjut Riyan. Kami pun berdiri tegak, kami saling bergandengan tangan, menatap barisan warna yang dikirim oleh sahabat kami, Rendy. Terima kasih atas separuh darimu yang akan menjadi bagian dari kami separuh darimu yang memberikan kekuatan pada kami dan separuh darimu menjadi setitik kehidupan untuk kami. Kamu sahabat terbaik untuk kami.


THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar