Kali
ini aku mau berbagi cerita tentang idola aku, sebut saja Torres yang sering banget dihujat sama –yang katanya-
fans sepakbola tapi gak ngerti sama sekali tentang –Apa itu- respect.
Sering aku bertanya-tanya, suporter macam apaan itu? Suporter berjenis apa itu?
Kok lisan-nya mudah sekali untuk menghina, menghujat, mencemooh dan mencaci-maki.
Sebenarnya
tulisan yang ingin aku tulis ini adalah inspirasi dari mereka –yang rasis-.
Kali ini mereka menjadi alasan untuk terus menulis dan mengisi blog ini. Terima kasih yakJ *senyum gak ikhlas tapi diikhlas-ikhlasin*.
Maaf yaa, aku emang agak-agak sinis
gitu kalau ngomongin mereka . Hahah oke,
jangan bahas tentang mereka –yang rasis-
dan –yang gak ngerti tentang arti respect-
itu yah, aku malas dan aku jijik. Itu
bukan topic yang ingin aku bahas kali ini, yaps!
Lebih baik kita membahas DIA (Fernando Torres) yang berhasil bikin
aku bangga dan kagum akan sosok kepribadiannya. Tapi, alangkah lebih baiknya,
para Haters Torres juga membaca
tulisan ini. jangan lupa buka mata hati dan pikiran kalian. Semoga setelah
kalian membaca tulisanku ini, mata hati kalian terbuka dan pikiran jelek kalian
tentang Torres segera pergi melayang terbang tinggi jauh keatas awan *eaakk
haha. Semoga kalian selalu diberi kesadaran bahwa sesuatu yang baik dan benar
menurut kalian itu belum tentu jelek,
dan sebaliknya. Semoga setelah kalian membaca tulisanku ini, kalian tidak lagi
membenci torres malah kalian akan
mencintainya. Ingat loh, benci itu bisa saja menjadi cinta! *Nah loh?!.
Dan semoga apa yang aku semoga-kan bisa terwujud. Aamiin J Oke, kita mulai yaa. Check it out!
Dia
adalah Fernando José Torres Sanz, ia dijuluki dengan sebutan El Niño yang artinya (kalau tidak salah)
Anak Laki-laki. Siapa yang tidak kenal dengan Fernando Torres, sosok striker milik Chelsea kelahiran Spanyol
ini memiliki segala atribut yang dibutuhkan untuk menjadi striker kelas dunia. Penuh talenta, cepat, kuat, dan sangat
berbahaya di muka gawang lawan. Akan tetapi, kiprah Torres langsung meredup
ketika ia memutuskan bergabung bersama Chelsea. Torres kehilangan kebuasannya
sebagai striker yang “kejam” di depan
gawang lawan. Torres tidak mampu menunjukkan performa yang sesuai. Tidak ada
yang menduga ternyata kemudian talentanya seolah menguap, hilang tak berbekas.
Torres berubah dari seorang macan ganas, menjadi tak lebih dari macan kertas.
Tragis.
Nilai
transfer sebesar 50 juta poundsterling membuat Torres disebut-sebut sebagai
pemain matre yang bermental uang. Bagaimana tidak, semenjak bersama Liverpool,
Torres telah mampu menjadi primadona dan kata-kata pujian terus mengalir dari lisan para Liverpudlian.
Akhirnya kepindahan Torres ke Chelsea dianggap sebagai pengkhiatan bagi The
Reds. Tapi Torres tetap pada pilihannya, ia memutuskan pindah karena ingin
merasakan juara. Itulah konsistensi diri Torres. Salut!
Derita
Torres ternyata bukan hanya berakhir pada hinaan dan cemoohan para pendukung
The Reds yang kecewa dengan kepindahannya. Performanya bersama The Blues menjadikannya
sebagai bahan lawakan seantero Inggris. Dari seorang ahli penjebol gawang
menjadi striker yang alergi menjebol gawang lawan. Entah apa sebenarnya yang
tejadi pada diri Torres sehingga ia yang dulunya sangat tajam dan berbahaya di
depan gawang lawan, sekarang hanya menjadi pemain berstatus bintang namun tak
bersinar gemilang. Minim gol dan minus kontribusi bagi The Blues. Pamornya
seketika meredup, puncaknya ialah ketika Del Bosque mengumumkan bahwa Torres
tidak diikut sertakan sebagai pemain timnas Spanyol pada Euro 2012 di
Polandia-Ukraina.
Sudah jatuh tertimpa tangga. Torres
terjebak pada situasi yang buruk melalui pengharapan pada capaian prestasi
terbaik. Bukan hanya para pencinta bola yang bingung, Torres pun tentunya
bingung. Ia yang sebelumnya begitu bersinar, kini hanya kebagian bola-bola liar
di lapangan. Rekan-rekan di Chelsea pun kurang mempercayakan umpan-umpan indah
padanya. Mereka mendukung Torres dari berbagai pernyataannya di media, tetapi
mereka juga bersama pasti setuju bahwa ada yang salah pada diri Torres dan ia
butuh waktu untuk menemukan performa terbaiknya kembali.
Kisah hidup Torres tentunya juga
relevan dengan kehidupan kita sehari-hari. Khususnya bagi mereka yang pernah
merasakan indahnya karir dan manisnya prestasi. Kemudian, di saat kita semua
sedang merasa akan mencapai puncak karir dan prestasi, di saat itu pula kita
dicoba dengan cobaan yang tidak pernah mampu kita prediksi.
Mengejar cita-cita dan mimpi memang
membutuhkan perjuangan yang keras. Mewujudkan harapan bukanlah hal yang
dilakukan dengan membalikkan telapak tangan. Mimpi dan cita-cita membutuhkan
lebih dari sekedar usaha yang luar biasa. Kedua hal ini juga membutuhkan
kesabaran. Ketika kita mendapatkan cobaan dalam perjalanan menggapai impian,
sesungguhnya ini merupakan bentuk untuk mendewasakan pribadi kita yang masih
lemah. Berbagai kesulitan itu ingin menguji semampu dan sekuat apa kita dalam
perjalanan mengejar cita-cita.
Dalam mengejar impian pun kerap
sekali kita berada pada anggapan remeh dari orang lain. Tapi apakah kita harus
menyerah? Di sinilah letak perbedaan antara para pemenang dengan pecundang.“The
winner never quit, and the quitter never win” merupakan kalimat yang memiliki
makna “Pemenang tidak pernah mundur dan mereka yang mundur tidak akan pernah
menjadi pemenang” membedakan mereka yang takut dengan impiannya dan mereka yang
kuat berjuang mewujudkannya. Tidak ada kesuksesan yang instan tanpa penderitaan
dan perjuangan. Ketika kita melewatkan perjuangan dan takut menghadapi
penderitaan, maka saat itulah kita makin jauh untuk merasakan manisnya sebuah
kesuksesan.
Sebuah proses dalam menggapai mimpi
itulah yang membuat indah cerita biografi kita jika suatu saat kita tuliskan.
Kisah hebat dalan bertahan dari segala kesulitan untuk mencapai impian itulah
yang akan menjadi teladan bagi keluarga dan handai taulan. Ibarat metamorfosis
seekor ulat daun menjadi kupu-kupu, tidak ada keindahan hidup yang luar biasa
tanpa tekanan, himpitan, dan derita dalam berjuang.
Saat ini mungkin kita menganggap
berbagai kegagalan yang terjadi pada rencana-rencana kita berasal dari tidak
adanya keberuntungan (lucky). Tapi yakinlah, bahwa keberuntungan itu pun perlu
dipersiapkan melalui kegigihan. Kita menyaksikan bagaimana tidak menyerahnya
Torres berjuang membuktikan bahwa dirinya masih layak diakui sebagai seorang
pemain yang luar biasa. Ia tidak menyerah meskipun setelah berpindah ke Chelsea
beberapa kali ia tidak mendapatkan posisi sebagai seorang penyerang. Tetap
berjuang untuk membawa Chelsea menang. Hingga kemudian sebuah gol indah penutup
kemenangan Chelsea atas Barca terjadi di Camp Nou sebagai pembuktian bahwa ia
masih menjadi pembobol ulung.
Bagi yang menyaksikan pertandingan
tersebut tentunya tidak akan menyangka bagaimana Torres yang dimasukkan di
menit-menit akhir pertandingan mampu mendapatkan bola yang kemudian menjadi
petaka bagi tim Catalan sehingga kemudian segenap media massa di dunia
memberitakan hal ini berulang-ulang. Memunculkan harapan dan pujian yang sangat
besar bahwa El Nino sudah kembali pada jalan yang benar. Bagaikan efek domino,
penampilannya terus mengalami perbaikan, dan puncaknya ialah ketika menjadi
hattrick dalam pertandingan menghadapi sebuah tim liga Inggris.
Ah
iyaa, untuk melengkapi info. Aku pernah membaca sebuah artikel disebuah blog,
aku lupa apa nama blog tersebut. Kabarnya, sebelum Torres hijrah ke Chelsea ia
mengalami cedera lutut yang bisa dibilang kronis dan ia sudah dua kali
menjalani operasi lutut pada tahun 2010 silam. Saat itu lah titik kejatuhan
Torres yang benar-benar menghilangkan ketajamannya. Torres bukan lagi El Niño
dua kali melakoni operasi lutut, dimulai dengan performa tumpulnya di Piala
Dunia 2010. Memang lutut adalah jantung kedua
bagi pemain seperti Torres yang mengandalkan kecepatannya. Saat jantung
itu hilang kekuatannya, hilang pula masa ke-emas-annya.
Aku
sangat prihatin dengan keadaannya, apalagi usia-nya yang sekarang sudah tidak
bisa dibilang muda lagi. Tidak sedikit kemungkinan jika Torres bisa saja suatu
saat nanti rentan mengalami cedera lutut. Tapi, aku sih selalu berharap yang
terbaik untuknya. Selalu sehat-panjang umur, dimudahkan rejekinya dan
disukseskan karirnya. HAHAH aamiin J
Kisah Torres dalam menghadapi
masa-masa sulitnya untuk kembali pada kegemilangan karir tentunya memiliki
nilai pelajaran hidup yang sangat sayang untuk dilewatkan. Terlepas dari
prasangka Torres adalah seorang pesepak bola yang mementingkan uang, yang jelas
berprasangka buruk tidaklah akan membawa pelajaran yang positif bagi diri kita.
Dalam menggapai sebuah kesuksesan, potensi dan kemampuan yang kita miliki
sering sekali tidak berarti banyak tanpa berada pada tempat yang tepat dalam
waktu yang tepat. Dalam mencari tempat yang tepat inilah dibutuhkan keberanian
untuk melewati batas kenormalan dengan mencari tantangan-tantangan baru.
Sementara waktu yang tepat hanya akan tercipta setelah usaha benar-benar
maksimal dilakukan.
Torres boleh saja dihina, disebut
matre, dan pernah diremehkan ketika berada pada masa-masa sulit menggapai
impiannya. Akan tetapi, tanggal 20 Mei 2012 harapan Torres merasakan juara di
level Eropa sudah menjadi kenyataan.
Chelsea juara, sehingga tidak ada yang sia-sia dengan pilihan Torres.
Meskipun ia tidak mencetak gol penentu kemenangan Chelsea, tetapi menurut saya
Torres telah menemukan momentum yang tepat untuk mendapatkan impiannya. Menjadi
juara Liga Champion Sementara bagi para Haters
atau pembenci Torres, boleh jadi mereka akan terus membenci dan tidak
menyukainya, karena dalam hidup ini orang-orang yang seperti itu akan selalu
hadir dalam setiap perjuangan para pengejar mimpi. Namun, apakah harus selalu
berusaha disukai orang lain untuk sesuatu yang benar-benar baik dan berarti
bagi diri Anda?
Sekian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar