Perempuan Hujan

Sabtu, 20 Desember 2014

Masih tentang Pelangi

Lelaki itu masih saja berdiri.


Dan hujanpun turun lagi. Mungkin ini hujan yang keseribu kalinya dimana aku harus berdiri menunggu pelangi. Gila. Pasti orang-orang akan berkata seperti itu ketika mereka melihatku. Yaa..itu pasti. Pasti mereka akan berkata Bagaimana mungkin dapat melihat pelangi dimalam hari?
Namun aku masih saja berdiri menantang langit. Jangankan pelangi, bintang pun segan untuk melihat keberadaan ku.
Entah sudah berapa juta langkah terlewati, berapa juta detik yg hilang , dan berapa juta pengharapan yg terkubur dibenak ini. Hanya untuk satu kata...pelangi.
Aku menyebutnya pelangi. Kenapa? Mungkin itu yg ada dibenak kalian saat ini. Ahhh...tak perlu kuteruskan. Cerita tentang pelangi cukup aku saja yg menyimpannya. Pelangi bukan cerpen, bukan pula puisi ataupun kata mutiara yg diucapkan oleh sang pujangga. Pelangi adalah warna untuk lelaki sperti aku. Lelaki yg hidupnya dikenalkan dan bergelut dgn hitam. Gelap.
Dan malam ini pun hujan turun lagi. Aku tak peduli. Anggap saja aku sudah gila. Walau harus berdiri diderasnya hentakan hujan. Harus kaku didalam bekunya malam. Dan harus mati didalam sbuah pengharapan yg telah hilang. Semua untuk pelangi. Dan untuk dunia ku yg telah kubuang semenjak aku kehilangan nya.
Kosong. Panca indra n segala rasa ku sudah tak berfungsi lagi. Bayangkan lah. Aku memang masih hidup. Bernafas. Dan masih bisa menghitung setiap kali jantung itu menendang dadaku. Namun rasaku sudah mati. Pikiranku sudah mati. Semua mimpi2 itupun ikut mati. Tak ada arah. Tak ada tujuan. Seperti kapas yang siap melayang kemanapun angin membawanya pergi dan perlahan hilang.
Kini Hujan telah berhenti. Mungkin ia sudah bosan melihatku masih saja berdiri disini. Mungkin juga hujan itu ingin menamparku dan menyadarkanku bahwa ia tak akan pernah lagi memberiku kesempatan untuk melihat pelangi karena dulu aku telah menyia-nyiakan pelangi yg ia berikan. Atau mungkin ia ingin memberi isyarat padaku bahwa skrg sudah saatnya aku pulang.
Bila itu benar, aku akan katakan kepada hujan bahwa aku tak akan pernah berhenti menunggu pelangi. Meski sang pemilik waktu tak memberi kesempatan lagi. Akan kulanjutkan menunggu pelangi didunia tanpa batas waktu.

Persembahan untuk kamu ,pelangiku...

It's your time. Your month. June


will keep your dreams. I'm here. And still be here till the end of time.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar