Lelaki itu masih saja berdiri.
Dan hujanpun turun lagi. Mungkin
ini hujan yang keseribu kalinya dimana aku harus berdiri menunggu pelangi. Gila.
Pasti orang-orang akan berkata seperti itu ketika mereka melihatku. Yaa..itu
pasti. Pasti mereka akan berkata Bagaimana mungkin dapat melihat pelangi dimalam
hari?
Namun aku masih saja berdiri
menantang langit. Jangankan pelangi, bintang pun segan untuk melihat keberadaan
ku.
Entah sudah berapa juta langkah
terlewati, berapa juta detik yg hilang , dan berapa juta pengharapan yg
terkubur dibenak ini. Hanya untuk satu kata...pelangi.
Aku menyebutnya pelangi. Kenapa?
Mungkin itu yg ada dibenak kalian saat ini. Ahhh...tak perlu kuteruskan. Cerita
tentang pelangi cukup aku saja yg menyimpannya. Pelangi bukan cerpen, bukan
pula puisi ataupun kata mutiara yg diucapkan oleh sang pujangga. Pelangi adalah
warna untuk lelaki sperti aku. Lelaki yg hidupnya dikenalkan dan bergelut dgn
hitam. Gelap.
Dan malam ini pun hujan turun
lagi. Aku tak peduli. Anggap saja aku sudah gila. Walau harus berdiri
diderasnya hentakan hujan. Harus kaku didalam bekunya malam. Dan harus mati
didalam sbuah pengharapan yg telah hilang. Semua untuk pelangi. Dan untuk dunia
ku yg telah kubuang semenjak aku kehilangan nya.
Kosong. Panca indra n segala rasa
ku sudah tak berfungsi lagi. Bayangkan lah. Aku memang masih hidup. Bernafas.
Dan masih bisa menghitung setiap kali jantung itu menendang dadaku. Namun rasaku
sudah mati. Pikiranku sudah mati. Semua mimpi2 itupun ikut mati. Tak ada arah.
Tak ada tujuan. Seperti kapas yang siap melayang kemanapun angin membawanya
pergi dan perlahan hilang.
Kini Hujan telah berhenti.
Mungkin ia sudah bosan melihatku masih saja berdiri disini. Mungkin juga hujan
itu ingin menamparku dan menyadarkanku bahwa ia tak akan pernah lagi memberiku
kesempatan untuk melihat pelangi karena dulu aku telah menyia-nyiakan pelangi
yg ia berikan. Atau mungkin ia ingin memberi isyarat padaku bahwa skrg sudah
saatnya aku pulang.
Bila itu benar, aku akan katakan
kepada hujan bahwa aku tak akan pernah berhenti menunggu pelangi. Meski sang
pemilik waktu tak memberi kesempatan lagi. Akan kulanjutkan menunggu pelangi
didunia tanpa batas waktu.
Persembahan untuk kamu
,pelangiku...
It's your time. Your month. June
will keep your dreams. I'm here.
And still be here till the end of time.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar