Terlihat sahabatku, Shanin melambaikan tangan
kearahku dari balik pintu kaca di kantin. Aku pun membalas lambaiannya dari
kejauhan tempat dudukku. Ia membuka pintu kaca itu. “Lidyaaa…” teriak Shanin
sambil berlari menghampiriku. Aku sendiri sedang asik menyantap semangkuk Mie
Instans. “Ada apa, Sha? Kaya lagi ngejar maling deh, lari-larian gitu. Aku
duduk disini kok gak akan kabur.” Candaku. Aku masih menikmati mie instans yang
ada didepanku. “Geser dong, Lid!! Aku capek, mau duduk.” Aku bergeser tempat duduk.
Shanin duduk disebelahku dengan nafas yang tak beraturan. “duh pucuk dicinta
ulampun tiba!!” Shanin meneguk habis es teh manisku.
“kamu kenapa sih Sha?” aku penasaran. “ini
soal Randaa!!!” Shanin merendahkan volume suaranya saat menyebut nama Randa. “hemm..
Randa lagi Randa lagi. Kenapa dia?” kataku menggelengkan kepala. “Aku udah tau
makanan kesukaan Randa, Lid!!” Shanin terlihat begitu bersemangat.
“Masa? Apa makanan kesukaannya?” tanyaku. “
Brownis, lid!!” jawabnya singkat dibarengi dengan senyumnya. “Kamu tau
darimana? Hehe maaf yaa kalau aku kepoin
kamu, heheh” aku tertawa kecil. “gak apa-apa, lagi pula kamu ’kan sahabatku.
Jadi kamu juga harus tau. Jadi gini, lid. Tadi aku ngobrol sama kak Ninda teman
sekelas Randa. Awalnya kita cuma bahas-bahas soal paduan suara untuk upacara
bendera nanti. Ehh, nyambung ke pembahasan yang mungkin menurut dia gak
penting. Aku langsung tanya iseng soal Randa ke kak ninda. Akhirnya, aku tau
kalau Randa itu suka sekali sama brownis. Nah!! Pas banget ‘kan?” dia tersenyum
lebar. Aku tidak mengerti apa maksud dari senyuman Shanin. “Pas apanya, can?”
tanyaku heran. “iish lidyaa.. Ibu kamu ‘kan jago bikin brownis enak banget. Aku
minta tolong buat diajarin bikin brownis special buat Randa. Boleh yaa,
lidyaaa. Pleaseee….” Shanin memelas. “iya, nanti aku bilang dulu yaa sama ibu
aku.” Aku tersenyum. “Thank you, My beloved friend. I love you..” Shanin
memelukku saking senangnya.
Muhammad Randa Dwitama yang biasanya
dipanggil dengan sebutan Randa adalah kakak kelas kami, bintang lapangan sepak
bola, seseorang yang bikin sahabatku, Shanin naksir berat. Shanin selalu
berusaha mencari informasi tentang Randa. Setelah sekian lama naksir dengan
Randa, akhirnya Shanin sudah mulai terbuka mengungkapkan perasaannya.
Setidaknyaia akan memberikan sesuatu yang disukai Randa. Bukankah itu suatu
perkembangan yang baik? Kerena selama ini Shanin mengagumi Randa dengan caranya
sendiri. Be a secret admirer.
^^^
Seminggu setelah Shanin belajar membuat
brownis special untuk Randa. Aku dan Shanin memasuki lapangan sepak bola. Hari
ini aka nada pertandingan antar kelas disekolah kami, dan kini yang akan
bertanding tim dari kelasnya Randa. Shanin yang menenteng sekotak brownis
hangat sengaja menggunakan moment ini untuk bertemu dengan Randa dan memberi brownis
buatannya sendiri setelah pertandingan nanti.
“Go!! Randaaa…” sepanjang pertandingan
berlangsung tak henti-hentinya ia berteriak untuk menyemangati Randa. Bisa
ditebak, tim dari kelas Randa lah yang keluar jadi pemenangnya.
Beberapa menit setelah pertandingan berakhir,
suasana lapangan berangsur sepi hanya ada beberapa orang diantaranya para
pemain-pemain sepak bola yang tadi bertanding, termasuk Randa diantaranya.
“Shanin, ini waktunya kamu beraksi.” Aku pun memberi semangat pada Shanin.
“temenin aku yah, lid?” Shanin terlihat gugup. “Oke, Cann..”. kami berjalan
menghampiri Randa yang sedang duduk-duduk santai ditepi lapangan. Randa
terlihat lelah, ia meneguk sebotol air mineral disampingnya.
Kami semakin dekat dengan jarak tempat
duduknya Randa. “Kak Randa?” panggil Shanin dengan nada yang sedikit datar.
“Ya?” hanya jawaban singkat yang didapat Shanin. “Kak “Randa?” panggil Shanin
agak menggentak. “Ada apa?” Randa yang sedang asyik mengobrol dengan temannya
mengalihkan pandangannya ke arah kami.
“ini ada titipan buat kak Randa.” Shanin
menyerahkan brownis kepada sang pujaan hatinya itu. “hah? Titipan? Dari siapa
yaa ini?” tanya Randa. “ini dari penggemar kakak” kata Shanin semakin gugup.
Aku yang berdiri disamping Shanin menatap kearah Shanin bingung. “kenapa sih
Can nggak terus terang aja kalau brownisnnya pemberian dari dia sendiri.”
Gumamku dalam hati. Shanin membalas pandangku dengan tatapan memohon supaya
aku setuju dengan sikapnya. Aku hanya
bisa diam. “ohh brownis? Heemm.. yaudah ini buat kamu aja yaa?!’ kata
Randa setelah membuka kotak brownis itu.
Randa menyerhkannya kembali kepada Shanin. “apa kak?” wajah Shanin memucat. Aku
berusaha tenang untuk menutupi kaget yang bukan main ini. “kenapa buat aku? Ini
kan buat kak Randa.. kakak gak suka sama brownis ini?”. “dulu sih suka tapi sekarang kakak
menghindari makanan itu. Gara-gara
keseringan makan brownis berat badanku jadi naik. Tolong sampaikan ucapan
terima kasih kepada orang yang memberikan brownis ini. tapi jangan bilang aku
menolak pemberiannya yaa.?” Kata Randa panjang lebar. Aku hanya mengangguk dan
menunduk. “yaudah, aku duluan yaa mau keruang ganti. Thanks yaa” Randa
tersenyum langsung pergi.
Wajahku langsung mengarahkan pandangan tepat
didepan Shanin. Ia masih menundukan kepalanya, sangat terlihat kekecewaannya.
“Lid, kita pulang yuk?” Volume suara Shanin rendah dan tubuhnya melemah.
Kami menuju kelas, tanpa bicara sepatah
katapun, hanya terdiam. Aku menggandeng tangannya erat. Hanya itu caraku untuk
menguatkan Shanin. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk Shanin
kembali kuat dan ceria. Mungkin kalau Shanin mengatakan yang sebenarnya kepada
Randa, sikapnya akan lebih baik lagi dari sikap yang ditunjukan Randa pada
Shanin. Aku hanya berharap Shanin bisa secepatnya mengatasi kesedihan hatinya
dan jika dia perlu aku, aku akan selalu ada untuk sahabatku, Shanin. Semoga
sahabatku diberikan seseorang yang lebih baik dari Randa untuk Shanin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar