Perempuan Hujan

Sabtu, 20 Desember 2014

Brownis untuk Randa

Terlihat sahabatku, Shanin melambaikan tangan kearahku dari balik pintu kaca di kantin. Aku pun membalas lambaiannya dari kejauhan tempat dudukku. Ia membuka pintu kaca itu. “Lidyaaa…” teriak Shanin sambil berlari menghampiriku. Aku sendiri sedang asik menyantap semangkuk Mie Instans. “Ada apa, Sha? Kaya lagi ngejar maling deh, lari-larian gitu. Aku duduk disini kok gak akan kabur.” Candaku. Aku masih menikmati mie instans yang ada didepanku. “Geser dong, Lid!! Aku capek, mau duduk.” Aku bergeser tempat duduk. Shanin duduk disebelahku dengan nafas yang tak beraturan. “duh pucuk dicinta ulampun tiba!!” Shanin meneguk habis es teh manisku.
“kamu kenapa sih Sha?” aku penasaran. “ini soal Randaa!!!” Shanin merendahkan volume suaranya saat menyebut nama Randa. “hemm.. Randa lagi Randa lagi. Kenapa dia?” kataku menggelengkan kepala. “Aku udah tau makanan kesukaan Randa, Lid!!” Shanin terlihat begitu bersemangat.
“Masa? Apa makanan kesukaannya?” tanyaku. “ Brownis, lid!!” jawabnya singkat dibarengi dengan senyumnya. “Kamu tau darimana?  Hehe maaf yaa kalau aku kepoin kamu, heheh” aku tertawa kecil. “gak apa-apa, lagi pula kamu ’kan sahabatku. Jadi kamu juga harus tau. Jadi gini, lid. Tadi aku ngobrol sama kak Ninda teman sekelas Randa. Awalnya kita cuma bahas-bahas soal paduan suara untuk upacara bendera nanti. Ehh, nyambung ke pembahasan yang mungkin menurut dia gak penting. Aku langsung tanya iseng soal Randa ke kak ninda. Akhirnya, aku tau kalau Randa itu suka sekali sama brownis. Nah!! Pas banget ‘kan?” dia tersenyum lebar. Aku tidak mengerti apa maksud dari senyuman Shanin. “Pas apanya, can?” tanyaku heran. “iish lidyaa.. Ibu kamu ‘kan jago bikin brownis enak banget. Aku minta tolong buat diajarin bikin brownis special buat Randa. Boleh yaa, lidyaaa. Pleaseee….” Shanin memelas. “iya, nanti aku bilang dulu yaa sama ibu aku.” Aku tersenyum. “Thank you, My beloved friend. I love you..” Shanin memelukku saking senangnya.
Muhammad Randa Dwitama yang biasanya dipanggil dengan sebutan Randa adalah kakak kelas kami, bintang lapangan sepak bola, seseorang yang bikin sahabatku, Shanin naksir berat. Shanin selalu berusaha mencari informasi tentang Randa. Setelah sekian lama naksir dengan Randa, akhirnya Shanin sudah mulai terbuka mengungkapkan perasaannya. Setidaknyaia akan memberikan sesuatu yang disukai Randa. Bukankah itu suatu perkembangan yang baik? Kerena selama ini Shanin mengagumi Randa dengan caranya sendiri. Be a secret admirer.
^^^
Seminggu setelah Shanin belajar membuat brownis special untuk Randa. Aku dan Shanin memasuki lapangan sepak bola. Hari ini aka nada pertandingan antar kelas disekolah kami, dan kini yang akan bertanding tim dari kelasnya Randa. Shanin yang menenteng sekotak brownis hangat sengaja menggunakan moment ini untuk bertemu dengan Randa dan memberi brownis buatannya sendiri setelah pertandingan nanti.
“Go!! Randaaa…” sepanjang pertandingan berlangsung tak henti-hentinya ia berteriak untuk menyemangati Randa. Bisa ditebak, tim dari kelas Randa lah yang keluar jadi pemenangnya.
Beberapa menit setelah pertandingan berakhir, suasana lapangan berangsur sepi hanya ada beberapa orang diantaranya para pemain-pemain sepak bola yang tadi bertanding, termasuk Randa diantaranya. “Shanin, ini waktunya kamu beraksi.” Aku pun memberi semangat pada Shanin. “temenin aku yah, lid?” Shanin terlihat gugup. “Oke, Cann..”. kami berjalan menghampiri Randa yang sedang duduk-duduk santai ditepi lapangan. Randa terlihat lelah, ia meneguk sebotol air mineral disampingnya.
Kami semakin dekat dengan jarak tempat duduknya Randa. “Kak Randa?” panggil Shanin dengan nada yang sedikit datar. “Ya?” hanya jawaban singkat yang didapat Shanin. “Kak “Randa?” panggil Shanin agak menggentak. “Ada apa?” Randa yang sedang asyik mengobrol dengan temannya mengalihkan pandangannya ke arah kami.
“ini ada titipan buat kak Randa.” Shanin menyerahkan brownis kepada sang pujaan hatinya itu. “hah? Titipan? Dari siapa yaa ini?” tanya Randa. “ini dari penggemar kakak” kata Shanin semakin gugup. Aku yang berdiri disamping Shanin menatap kearah Shanin bingung. “kenapa sih Can nggak terus terang aja kalau brownisnnya pemberian dari dia sendiri.” Gumamku dalam hati. Shanin membalas pandangku dengan tatapan memohon supaya aku  setuju dengan sikapnya. Aku hanya bisa diam. “ohh brownis? Heemm.. yaudah ini buat kamu aja yaa?!’ kata Randa  setelah membuka kotak brownis itu. Randa menyerhkannya kembali kepada Shanin. “apa kak?” wajah Shanin memucat. Aku berusaha tenang untuk menutupi kaget yang bukan main ini. “kenapa buat aku? Ini kan buat kak Randa.. kakak gak suka sama brownis ini?”.  “dulu sih suka tapi sekarang kakak menghindari  makanan itu. Gara-gara keseringan makan brownis berat badanku jadi naik. Tolong sampaikan ucapan terima kasih kepada orang yang memberikan brownis ini. tapi jangan bilang aku menolak pemberiannya yaa.?” Kata Randa panjang lebar. Aku hanya mengangguk dan menunduk. “yaudah, aku duluan yaa mau keruang ganti. Thanks yaa” Randa tersenyum langsung pergi.
Wajahku langsung mengarahkan pandangan tepat didepan Shanin. Ia masih menundukan kepalanya, sangat terlihat kekecewaannya. “Lid, kita pulang yuk?” Volume suara Shanin rendah dan tubuhnya melemah.


Kami menuju kelas, tanpa bicara sepatah katapun, hanya terdiam. Aku menggandeng tangannya erat. Hanya itu caraku untuk menguatkan Shanin. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuk Shanin kembali kuat dan ceria. Mungkin kalau Shanin mengatakan yang sebenarnya kepada Randa, sikapnya akan lebih baik lagi dari sikap yang ditunjukan Randa pada Shanin. Aku hanya berharap Shanin bisa secepatnya mengatasi kesedihan hatinya dan jika dia perlu aku, aku akan selalu ada untuk sahabatku, Shanin. Semoga sahabatku diberikan seseorang yang lebih baik dari Randa untuk Shanin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar