Perempuan Hujan

Sabtu, 20 Desember 2014

Chocolate Lovers :)

Ramuan rasa pahit itu muncul lagi, kali ini pahitnya sangat mendominasi hingga meleburkan rasa rasa lain. Seandainya yang diramu itu adalah cokelat hangat tentu aku masih bisa menambah sedikit gula dan susu vanila.
"Nak, jamu ini sangat baik untuk kesehatan.  Ayo diminum."  Ibu meletakan jamu pahit itu di atas meja sebelah tempat tidurku. Dengan berat hati aku meminum jamu pahit itu .
    Sudah 3 hari aku tidak masuk sekolah, penyebabnya bukan karena sakit fisik, tapi jiwaku tidak bersahabat dengan lingkungan sekolah. Aku tidak mau memberi tahu siapapun penyebabnya. Biar aku dan tuhan saja yang tahu . langit semakin senja, Nada SMS berbunyi sekian kalinya disore ini, kali ini Fizi yang SMS-ku .
  "Apa kabar Bu Sekretaris, udah 3 hari gak masuk sekolah, masih betah aja gak ketemu gue ?"  basa basi Fizi .
aku tidak membalas SMS Fizi kali ini, dengan alasan pulsa sekarat. Selang waktu beberapa menit nada SMS kembali berbunyi. "ohh, gue kerumah loe yaa, nin??”" ijin Fizi. Kali ini aku harus membalasnya dengan berita penolakan. "Gak usah !" tolakku, dengan singkat.
  Tidak ingin misi minta maafnya gagal, akhirnya Fizi menelponku. Nada dering lagu kesukaan kami berdua bergema. Dering pertama, dering kedua dan dering ketiga, mengganggu telingaku. handphone segera aku non-aktif-kan.
30 menit brlalu. Tiba-tiba ibu mengetuk pintu kamarku. seperti biasa aku memintanya langsung masuk karena pintu tidak kekunci. Saat pintu ter buka, ku lihat ada seorang pria dibalik tubuh ibuku. Fizi menyunggingkan senyum termanisnya. Aku membalasnya dengan kecut.
  "untuk apa datang kesini?  bukannya ada jadwal untuk bersenang senang dengan sang putri yang cantik itu ?" Aku hampir menjerit kesal.
"Gue tuh Sekretaris kalian, bukan pelayan kalian." lanjutku.
" Gua mau ngasih lo ini." Fizi memberikan kotak berbentuk kubus dan ia letakkan di atas meja. kemudian Fizi pergi meninggalkan pintu kamarku. Tanpa diminta aku membuka bungkusan itu. didalamnya, Ada surat pendek , coklat batangan, dan bunga edelwies kecil. aku membaca kata demi kata dalam surat itu. Butiran air mata mulai menggenangi pipiku, aku putuskan untuk mengejar Ketua OSIS yang baru mnghilang dari pandangan.
  "Nak ada apa? ko lari lari begitu? kamu mencari Fizi ? dia ada didapur tuh." kata ibuku, akupun menuju dapur dan aku melihat Fizi ada disitu . aku mulai melangkah menuju tempat berdiri Fizi. Dengan serius dia mengaduk larutan kental berwarna cokelat dalam dua cangkir.
 "Untuk loe, Sahabat kecil gue. Ramuan ini paling mujarab dari seluruh dunia." Kata Fizi .
Aku menghirup asap tipis minuman itu . " Bagaimana loe bisa bikin ini ?" tanyaku terdengar kurang penting.
"bisa lah, apa sih yang gak bisa, Alfizi gitu lohh. Oya, Cokelat ini bisa menenangkan pikiran kita lohh !" kata Fizi.
     "cheerss... buat CHOCOLATE LOVERS sejati." aku mengangkat secangkir coklat itu. "cheerrssss... buat Adelweis yang pemaaf." puji Fizi ke Aku. "ohh, sejak kapan nama gue berubah?" tanyaku. "Sejak menerima Edelweis dari pecinta alam yang baru sekali naik gunung." jawabnya.
Namaku Anindya Putri Lestari, bukan Adelweis atau Bu Sekretaris. Fizi itu memang jahil, dia suka mengganti ganti nama orang, tapi justru itu yang membuatku jatuh hati kepadanya. Sejak SD hingga SMP kami selalu bersama. Dimana ada Fizi , pasti disitu ada Aku. Setiap aku murung, Fizi selalu menghiburku dengan cokelat batangan Favorit kami.
Kami terdiam beberapa menit tanpa suara. Aku mulai pembicaraan lagi. "Gue pikir loe gak inget hari ulang tahun gue." pikirku.
"Kemarin gue lagi sibuk, nin. Loe tau sendiri kan acara pensi sekolah sudah deadline, tugas loe tuh numpuk banyak banget. Kasian Indah, 3 hari ngegantiin tugas loe sendirian." jelas Fizi panjang lebar. "ishh.. kenapa harus nama itu lagi sih yang terdengar ditelingaku?" gumamku dalam hati.
  Gadis Perfect itu bernama Indah Cahya Ramadani. Wajahnya ayu bak seorang putri keraton. Bibirnya mungil, kulitnya putih, otaknya cemerlang sehingga selalu jadi juara disekolah, baik hati, ramah dan tidak sombong. Semua pria di sekolah yg mengenalnya punya kemungkinan 99% jatuh hati padanya. Aku merasa ini tidak adil.
"Indah bisa mendapatkan apa yang dia mau dengan mudah termasuk merebut hati Fizi yang baru dia kenal beberapa bulan ini. Sementara aku yang telah bertahun tahun harus kehilangan dia begitu saja . Tuhan sungguh tidak adil bila hal ini sampai terjadi." Keluhku .
  Giliran Fiizi yang yang memecahkan kebekuan . "Walau Hari ini bukan hari Valentine, tapi bersama loe, Nin, gue ngerasa setiap hari adalah hari Valentine. Setiap waktu gue bisa berbagi cokelat dengan loe. Bukan sama Indah." kata Fizi.

Aku masih terpaku  mencoba memahami kalimat yang baru mengalir dari bibir mungilnya. Tiba tiba Cokelat batangan keluar sebagian dari bungkusnya. Fizi mematahkan Cokelatnya jadi dua bagian. Satu Fizi berikan kepadaku, satu lagi dia gigit sedikit ujungya. Patah dalam bahasa jawa adalah Tugel. Entah patah hatiku  atau patah hati si Cantik yang selalu jadi idaman pria. Dua Gadis dalam bahasa Inggris adalah Two Girls , Entah aku atau Indah yang terpilih  berdampingan dengan Sang Ketua OSIS itu ? Tapi yang jelas udah menang satu poin dari ucapannya barusan. dan Homofon Tugel dan Two Girls akan jadi kenangan hangat buat Pecinta Cokelat Sejati termasuk Aku dan Fizi..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar