Ramuan rasa
pahit itu muncul lagi, kali ini pahitnya sangat mendominasi hingga meleburkan
rasa rasa lain. Seandainya yang diramu itu adalah cokelat hangat tentu aku
masih bisa menambah sedikit gula dan susu vanila.
"Nak, jamu
ini sangat baik untuk kesehatan. Ayo
diminum." Ibu meletakan jamu pahit
itu di atas meja sebelah tempat tidurku. Dengan berat hati aku meminum jamu
pahit itu .
Sudah 3 hari aku tidak masuk sekolah,
penyebabnya bukan karena sakit fisik, tapi jiwaku tidak bersahabat dengan
lingkungan sekolah. Aku tidak mau memberi tahu siapapun penyebabnya. Biar aku
dan tuhan saja yang tahu . langit semakin senja, Nada SMS berbunyi sekian
kalinya disore ini, kali ini Fizi yang SMS-ku .
"Apa kabar Bu Sekretaris, udah 3 hari gak
masuk sekolah, masih betah aja gak ketemu gue ?" basa basi Fizi .
aku tidak
membalas SMS Fizi kali ini, dengan alasan pulsa sekarat. Selang waktu beberapa
menit nada SMS kembali berbunyi. "ohh, gue kerumah loe yaa, nin??”" ijin
Fizi. Kali ini aku harus membalasnya dengan berita penolakan. "Gak usah
!" tolakku, dengan singkat.
Tidak ingin misi minta maafnya gagal,
akhirnya Fizi menelponku. Nada dering lagu kesukaan kami berdua bergema. Dering
pertama, dering kedua dan dering ketiga, mengganggu telingaku. handphone segera
aku non-aktif-kan.
30 menit
brlalu. Tiba-tiba ibu mengetuk pintu kamarku. seperti biasa aku memintanya
langsung masuk karena pintu tidak kekunci. Saat pintu ter buka, ku lihat ada
seorang pria dibalik tubuh ibuku. Fizi menyunggingkan senyum termanisnya. Aku
membalasnya dengan kecut.
"untuk apa datang kesini? bukannya ada jadwal untuk bersenang senang dengan
sang putri yang cantik itu ?" Aku hampir menjerit kesal.
"Gue tuh
Sekretaris kalian, bukan pelayan kalian." lanjutku.
" Gua mau
ngasih lo ini." Fizi memberikan kotak berbentuk kubus dan ia letakkan di
atas meja. kemudian Fizi pergi meninggalkan pintu kamarku. Tanpa diminta aku
membuka bungkusan itu. didalamnya, Ada surat pendek , coklat batangan, dan
bunga edelwies kecil. aku membaca kata demi kata dalam surat itu. Butiran air
mata mulai menggenangi pipiku, aku putuskan untuk mengejar Ketua OSIS yang baru
mnghilang dari pandangan.
"Nak ada apa? ko lari lari begitu? kamu
mencari Fizi ? dia ada didapur tuh." kata ibuku, akupun menuju dapur dan
aku melihat Fizi ada disitu . aku mulai melangkah menuju tempat berdiri Fizi. Dengan
serius dia mengaduk larutan kental berwarna cokelat dalam dua cangkir.
"Untuk loe, Sahabat kecil gue. Ramuan ini
paling mujarab dari seluruh dunia." Kata Fizi .
Aku menghirup
asap tipis minuman itu . " Bagaimana loe bisa bikin ini ?" tanyaku terdengar
kurang penting.
"bisa lah,
apa sih yang gak bisa, Alfizi gitu lohh. Oya, Cokelat ini bisa menenangkan
pikiran kita lohh !" kata Fizi.
"cheerss... buat CHOCOLATE LOVERS
sejati." aku mengangkat secangkir coklat itu. "cheerrssss... buat
Adelweis yang pemaaf." puji Fizi ke Aku. "ohh, sejak kapan nama gue berubah?"
tanyaku. "Sejak menerima Edelweis dari pecinta alam yang baru sekali naik
gunung." jawabnya.
Namaku Anindya Putri
Lestari, bukan Adelweis atau Bu Sekretaris. Fizi itu memang jahil, dia suka
mengganti ganti nama orang, tapi justru itu yang membuatku jatuh hati
kepadanya. Sejak SD hingga SMP kami selalu bersama. Dimana ada Fizi , pasti
disitu ada Aku. Setiap aku murung, Fizi selalu menghiburku dengan cokelat
batangan Favorit kami.
Kami terdiam
beberapa menit tanpa suara. Aku mulai pembicaraan lagi. "Gue pikir loe gak
inget hari ulang tahun gue." pikirku.
"Kemarin
gue lagi sibuk, nin. Loe tau sendiri kan acara pensi sekolah sudah deadline,
tugas loe tuh numpuk banyak banget. Kasian Indah, 3 hari ngegantiin tugas loe
sendirian." jelas Fizi panjang lebar. "ishh.. kenapa harus nama itu
lagi sih yang terdengar ditelingaku?" gumamku dalam hati.
Gadis Perfect itu bernama Indah Cahya Ramadani.
Wajahnya ayu bak seorang putri keraton. Bibirnya mungil, kulitnya putih,
otaknya cemerlang sehingga selalu jadi juara disekolah, baik hati, ramah dan
tidak sombong. Semua pria di sekolah yg mengenalnya punya kemungkinan 99% jatuh
hati padanya. Aku merasa ini tidak adil.
"Indah
bisa mendapatkan apa yang dia mau dengan mudah termasuk merebut hati Fizi yang
baru dia kenal beberapa bulan ini. Sementara aku yang telah bertahun tahun
harus kehilangan dia begitu saja . Tuhan sungguh tidak adil bila hal ini sampai
terjadi." Keluhku .
Giliran Fiizi yang yang memecahkan kebekuan .
"Walau Hari ini bukan hari Valentine, tapi bersama loe, Nin, gue ngerasa
setiap hari adalah hari Valentine. Setiap waktu gue bisa berbagi cokelat dengan
loe. Bukan sama Indah." kata Fizi.
Aku masih
terpaku mencoba memahami kalimat yang
baru mengalir dari bibir mungilnya. Tiba tiba Cokelat batangan keluar sebagian
dari bungkusnya. Fizi mematahkan Cokelatnya jadi dua bagian. Satu Fizi berikan kepadaku,
satu lagi dia gigit sedikit ujungya. Patah dalam bahasa jawa adalah Tugel.
Entah patah hatiku atau patah hati si
Cantik yang selalu jadi idaman pria. Dua Gadis dalam bahasa Inggris adalah Two
Girls , Entah aku atau Indah yang terpilih
berdampingan dengan Sang Ketua OSIS itu ? Tapi yang jelas udah menang
satu poin dari ucapannya barusan. dan Homofon Tugel dan Two Girls akan jadi
kenangan hangat buat Pecinta Cokelat Sejati termasuk Aku dan Fizi..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar