Hari
ini langit tak begitu cerah, matahari yang tertutup awan membuat cuaca hari ini
menjadi mendung. Aku masih berdiri di depan jendela rumahku, menatap langit
yang mulai gelap. Pikiranku melayang kesuatu cerita masa lalu tentang aku,
langit dan hujan. Aku sangat merindukan hujan karena beberapa waktu lalu disini
sedang musim kemarau, tak ada hujan yang turun, semua kering. “Aku rasa hari
ini hujan akan turun.” gumamku sambil menatap langit yang gelap.
Gerimis
kecil mulai berdatangan. Aku menikmatinya. Aroma hujan telah tercium dan aku
merasakan ketenangan hati.
“Assalamualaikum,
pelangi..” salam seseorang, mengagetkanku.
“Waalaikumsalam,
ehh langit?! sini masuk hujannya udah mulai deras tuh!!” kataku sambil beranjak
dari tempat berdiri.
Aku
menghampiri langit, lalu mengajaknya masuk ke dalam rumah. “Langit.. tubuhmu
basah? cepat kamu hangatkan tubuhmu dengan ini, nanti kamu sakit.” aku
memberinya handuk. “Cuaca di luar sana sangat gelap!! Sebelum kamu kesini pasti
Kamu tahu kalau hujan akan mengguyur bumi siang ini” Langit hanya diam, dia
sibuk mengeringkan tubuhnya dari sisa-sisa basah air hujan yang membasahinya.
“Langit? Kamu ke sini hanya untuk membisu, diam tanpa kata? Merespon
kata-kataku pun tidak sama sekali.” Dengan nada yang lirih sambil menuangkan
secangkir teh manis hangat di samping mejanya. Lagi-lagi Langit tidak menjawab
pertanyaanku, dia hanya tersenyum masam, lalu menunduk. Terlihat tampak gelisah
raut wajah langit, tak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya.
Suasana
menjadi hening, hanya suara gemuruh petir dan rintikan hujan deras yang
terdengar ditelinga kami. Tidak seperti biasanya langit bersikap seperti ini,
aku tidak melihat langit membawa keceriaannya dan senyumannya dihadapanku. Dia
hanya terdiam, seperti orang yang kehabisan kata-kata. Sungguh ini tidak
seperti biasanya.
“langit?
Kamu keliatannya sedang gelisah. Apa yang kamu pikirin? Kamu bisa cerita sama
aku, insya Allah kalau aku bisa bantu kamu. Aku akan lakuin itu buat kamu” aku
membuka percakapan antara aku dan langit di tengah suasana yang tenang.
Lagi-lagi langit tersenyum kecil.
“aku
tidak apa-apa pelangi” jawabnya masih datar. “terus kenapa kamu diam aja? Aku
punya salah sama kamu? Maafin aku, langitt..” Mataku mulai berkaca-kaca. Langit
tertunduk seakan tidak ingin ia melihat air mataku jatuh.
“kamu
gak punya salah apa-apa kok, sayang. Maaf kedatanganku kesini cuma bikin kamu
khawatir, kamu cemas dan gelisah kaya gini. Aku kesini cuma mau ngajak main
kamu, pelangiku.” Katanya, Langit mencubit pipiku dan dia tersenyum. Aku
merasakan kedamaian hati saat melihat langit tersenyum lagi.
“kamu
kesini mau ngajak main aku dengan muka yang gak karuan gitu, emangnya bagus?
Aku sebel langit sama kamu!!” aku tersenyum sambil mencubit-cubit pinggangnya.
Langit tertawa geli, aku senang melihatnya.
#Flashback..
Aku
dan langit sudah genap 4 tahun berpacaran. Kami sangat menikmati masa-masa
kebersamaan ini. Banyak lika-liku yang kami alami selama 2 tahun ini, tidak
hanya senang tapi susahnya pun kami bersama. Langit adalah guru bagiku, ia
mengajarkanku banyak hal terutama tentang keikhlasan dan kesabaran dalam
mengartikan hidup. Aku mencintai hujan pun karena dia. Awalnya, aku benci
dengan kedatangan hujan. Karena tidak ada yang special dari hujan. Hujan hanya menyisakan
basah dan becek. Saat itulah langit mengajarkanku agar selalu mencintai apapun
yang Allah ciptakan termasuk ‘hujan’. Ia membacakan arti dari Al-quran Surat
Ar-Rum ayat 48 yang berbunyi: “Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angina
itu menggerakan awan dan Allah membentangkannya dilangit menurut yang
dikehendakinya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal. Lalu kamu lihat hujan
keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai
hamba-hambanya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka merasakan kegembiraan.”
“Lalu
apa alasanmu membenci hujan?” itulah pertanyaan langit yang sempat membuatku
terdiam. “Hujan selalu menghantarkan aroma tanah yang mengepul karena timpaan
rintikannya. Setiap kali hujan berurai, aku selalu merasakan ketenangan. Itulah
alasan kenapa aku sangat mencintai hujan. lalu, apa kamu tetap mau membencinya
atau mau belajar untuk mencintainya?” lagi-lagi kata-katanya membuat aku
terdiam dan berfikir.
Aku
mencoba semua apa yang dilakukan oleh langit ketika hujan datang. Aku menghirup
udara yang amat segar, pikiranku tenang. Aku menghirup udaranya lagi, lagi… dan
lagi. Pikiranku pun makin tenang. Langit benar, Aku mulai menyadari bahwa
sebenarnya hujan itu membawa ketenangan bukan kegelisahan. Dan kini, hujan
telah mejadi sahabatku dan aku senang bermain dibawah guyuran hujan. Aku sangat
mencintainya.
Tiba-tiba
langit beranjak dari tempat duduk. Ia melangkah menuju pintu keluar, terus
melangkah sampai akhirnya dia berhenti tepat dibawah derasnya air hujan. Ia
membentangkan tangannya dan mengangkat wajahnya kearah langit. Terlihat
senyumannya yang manis. “Pelangiiii.. Ayo kesini!!” teriak langit dari luar,
seakan dia menantangku untuk bermain dibawah guyuran hujan.
“Ohh
jadi kamu mau main hujan-hujanan? Kamu kira aku takut??” Aku menghampirinya
dengan senyuman yang terkesan agak sedikit sombong.
Aku
dan langit menari-nari dibawah jutaan tetes air yang turun dari langit sana.
Aku dan langit sangat menikmati ini. Aku menadahkan air hujan di tanganku dan
aku lemparkan air itu kearah langit, dia membalasnya. Hujan membawa canda dan
tawa diantara kami.
“Pelangi
hidupku??” dia memanggilku jahil. “yaa? Ada apa Langit yang selalu membentang
dihatiku?” balasku tidak mau kalah so sweet. “hahaha kamu bisa aja!!” dia mencubit pipiku.
“hey
Pelangi hidupku? Lihat, langit udah mulai terang. Kamu tau gak? Kalau kita
berdoa disaat hujan turun Insya Allah doa kita akan dijabah oleh Allah. Yuk
kita berdoa sesuai dengan permintaan kita masing-masing.”
Kami
pun menutup mata seraya menadahkan tangan, meminta sesuatu kepada Allah dengan
hati yang penuh keimanan. “aamiin” selesai berdoa kami mengusap wajah, lalu
membuka mata dan kami saling bertatapan dibarengi dengan senyuman. Yaa, kita
sama-sama menyukai hujan. Mencintai setiap titik yang terlahir dari awan
mendung.
Aku
dan Langit menatap langit yang sudah mulai cerah, awan awan hitam pun pudar dan
matahari sudah terlihat. Kedatangannya menghangatkan tubuh kami.
“Langit,
coba lihat itu!!” aku menunjuk ke arah langit yang membentang luas.
“kayanya
langit udah mempersilakan pelangi berspektrum sempurna” kata langit lalu
tersenyum.
“Indahnya…
Pelangi itu sangat memikat hati siapapun, termasuk aku.” kagumku.
“tapi
Pelangi yang berada disampingku sekaranglah yang lebih memikat hati aku!! Yaa
hanya aku, tidak untuk orang lain. Siapapun itu!!” cetusnya.
“ihh
Langit? Kamu ngomong apa sih?” aku tersipu malu.
“Aku
gak mau kehilangan kamu, Pelangi!!” kata langit menatap pelangi yang masih
berspektrum.
“Aku
yang lebih gak mau kehilangan kamu!!” Aku tidak mau kalah dengan langit.
“Ihh
Pelangi? Kamu tuh ngomong buat siapa?” tanyanya. “buat pelangi diatas sana”
kataku sambil menunjuk kearah pelangi itu.
“Kamu
juga ‘kan??” tanyaku lagi. “Yaa, aku juga sama buat pelangi. Tapi pelangi yang
aku maksud itu kamu bukan yang ada diatas sana, sayaaanngg!!!” jawab langit
agak sedikit kesal.
Aku
memang sering membuatnya kesal. Bagi langit ini sebuah ujian melatih kesabaran
untuk menghadapi wanita seperti aku ini, yang sering membuatnya kesal. Dari
situlah aku mengambil pelajaran dari langit,. Sudah kubilang dia bukan hanya
sekedar kekasihku tapi dia adalah guruku sekaligus sahabat sejatiku.
Kami
terus menatap pelangi yang menyajikan keindahan tiada tara. Cahaya siluet yang
menyimpan berjuta-juta warna nampaknya mulai terlihat pudar. Sungguh aku tak
ingin ia segera pergi. Aku masih ingin menikmati keindahannya.
“Pelangi?”
panggilnya “Yaa?” “Aku mau ngomong sesuatu sama kamu” kata langit dengan wajah
yang sangat murung.
“kamu
keliatannya serius. Mau ngomong apa emang?” Tanyaku penasaran. Langit
tertunduk. “Langit?” panggilku pelan seraya menaikan wajahnya yang masih
menunduk. “jujurlah sayang. Apa yang kamu mau omongin? Jangan bikin aku cemas.”
Kataku dengan nada datar.
“Pelangi?
Aku sangat menyayangimu!!” langit menatapku penuh kasih sayang. Aku sangat
merasakannya. “Aku juga sangat menyayangimu, langit. Cepat apa yang mau kamu
katakan?” Aku masih penasaran.
“Sore
ini, aku akan berangkat ke Malaysia untuk segera memeriksa keadaanku saat ini.
Rumah sakit disini belum bisa menanganiku secara total. Ayahku menyarankan aku
untuk pergi ke Malaysia agar penanganannya segera selesai. Setelah selesai, aku
akan kembali ke Jakarta untuk menemuimu, kita akan sama-sama lagi. Kita akan
main sama-sama lagi bareng hujan dan menikmati keindahan pelangi sama-sama.
Pokoknya kita akan sama-sama terus setelah aku sehat nanti. Kamu gak apa-apa
kan?”
Aku
menunduk. Aku tidak ingin langit melihat air mata yang kini sedang mengalir
jatuh dipipiku. Aku hanya terdiam mendengar kata-kata yang langit ucapkan.
Ternyata kebahagiaan hari ini adalah kebahagiaan terakhir yang kami rasakan,
dan ternyata juga ini adalah kebahagiaan dalam suatu perpisahan diantara kita.
“Pelangi?
Kamu baik-baik yaa? Jaga kesehatan kamu,
jangan mau kamu kaya aku yang penyakitan ini. Aku mau kamu selalu sehat. Kamu
jangan sedih yaa? aku pasti akan baik-baik aja disana. Aku janji akan selalu
menjaga hati aku untuk kamu. You’re the only one, my rainbow.” Katanya. Ia
melihat aku masih tertunduk. “Pelangi? Kamu nangis?” langit menaikan wajahku.
“Pelangi sayang, tatap mata aku!! Aku janji, aku akan selalu ingat sama kamu.
Aku gak akan lupain kamu. Aku cinta sama kamu, Pelangi!! Aku mohon, jangan
keluarin air mata ini untuk hari terakhir pertemuan kita.” Kata langit
menghapus air mata yang membasahi pipiku.
Sungguh,
sebelumnya aku belum pernah merasakan hal seperti ini. Merasakan akan
kehilangan seseorang yang berarti dalam hidupku. “Aku sangat mencintainya, Ya
Allah. Aku gak mau kehilangan sosok langit. Aku mau dia selalu ada disampingku” kataku dalam hati yang mulai
terluka.
“Sayang,
aku titip liontin berbentuk hati ini sama kamu, didalamnya tersimpan foto kita
berdua. Anggaplah liontin ini adalah hati aku. Kalungkan lionton itu tepat
didadamu, maka kamu akan merasakan hati aku akan selalu ada didekat kamu.
Percaya deh, kamu pasti merasakan hal itu.” Langit memakaikan kalung liontin
hati itu.
Aneh!!
Langit masih berada disampingku, dia belum pergi tapi aku sudah merasakan hal
yang tadi diucapkannya ketika langit memakaikan kalung itu tepat dileherku.
“Langit?
Bisakah aku pegang semua janji-janjimu?” Aku berhasil mengusir semua kebisuan
dari mulutku. “Apa kamu melihat kebohongan dari mataku ini?” langit
meyakinkanku dan ia pun berhasil. Aku mulai percaya dengan keyakinanku.
“Aku
pamit pulang yaa, Pelangi Hidupku? Jaga diri kamu selama aku jauh dari kamu.
jangan lupain kenangan yang baru aja kita bikin. Aku juga janji gak akan lupain
kenangan ini, aku pastiin aku gak akan lupa!! Kamu percaya kan sama aku?” dia
kembali meyakinkanku.
“Percaya
sama kamu itu musyrik, langit!!” aku tertawa.“nah gitu dong ceria lagi, jangan
cengeng kaya tadi. Bagus, kamu tadi nangis tetep cantik kalau kamu nangis malah
jadi jelek kaya tadi, rugi disiapa?” tanyanya mulai jahil. “rugi di aku?”
jawabku spontan. “dihh geer haha. Jelas rugi di aku lah pelangiku sayaanngg”
kata langit sambil tertawa. “lah? Kok dikamu langit?” tanyaku keheranan.
“sekarang kamu pikir deh, kalau kamu nangis sampai jelek kaya tadi yaa akulah
yang rugi. Aku kan jadi gak bisa ngeliat kecantikan kamu yang udah terhapus
oleh air mata yang gak berguna.” Kata langit meledekku. Aku dan Langit tertawa
lepas. Beban terasa hilang saat itu.
Akhirnya
aku bisa melepaskan Langit pergi untuk sementara ini. Aku akan selalu menunggunya
walau aku tidak tahu kapan ia akan kembali lagi bersamaku.
Sungguh
terasa begitu lama, ketika aku menunggu langit datang kembali ke Jakarta. Tapi,
ketita aku dan langit masih bersama sama, waktu terasa cepat. Waktu sangat
tidak adil bagiku. Saat aku menikmatinya, terasa begitu cepat untuk dirasakan
dan saat aku menunggunya terasa lama sekali. Kini aku sedang menunggu langit
yang sudah tiga bulan belum juga kembali ke Jakarta. Aku merindukannya.
Nada
dering tanda telepon masuk terdengar ditelingaku. Aku meraih hp yang diatas
meja. Tidak ada Contact Name tertulis dilayar hpku.
”Assalamualaikum,
Pelangi?” salam dari si penelpon.
“Waalaikumsalam. Siapa ini?” tanyaku. “Aku Rere, kamu masih ingat sama aku
‘kan?”.
“Ohh
kamu, re? Ya ampun gimana kabarnya
kamu?”.
“Alhamdulillah,
Aku baik kok. Kamu juga kan? Oya, Pelangi. Aku punya kabar buruk buat kamu
tentang Langit disini.” Katanya tampak serius.
“Iya
kabarku juga baik kok. kabar buruk apa? Gimana langit disana, re?” tanyaku
penasaran.
“Langit
sakit sekarang dia lagi dirawat, udah 2 minggu dia diinapkan dirumah sakit. Keadaannya
sekarang semakin menurun. Dia baru sadar setelah 4 hari dia pingsan. Aku lagi
disamping langit nih, dia mau ngomong sesuatu sama kamu.” kata rere dengan nada
sedikit terisak-isak seperti habis menangis. Aku tidak merespon kata-katanya.
Aku masih tidak percaya dengan apa yang rere katakan.
“Assalamualaikum,
Pelangiku sayaanngg?” terdengar salam yang sangat lembut suaranya.
“Waalaikumsalam,
Langit? Gimana keadaan kamu? Aku sangat mencemaskanmu.” Aku menahan air mata
yang ingin jatuh dari kelopak mataku.
“Kamu
jangan cemas sayang. Aku gak apa-apa kok. Gimana kabar kamu? kamu sehat kan?”
tanyanya.
“Jangan
kamu tanyain keadaanku sekarang, itu gak penting!! Yang penting itu keadaan
kamu, langit..” Langit terdiam, tidak ada suara langit yang terdengar.
“Langit?
Jawab pertanyaanku. Kamu sakit apa? Sampai kamu dirawat inap selama 2 minggu?
Jawab jujur langit!! Aku butuh jawabanmu..” desakku.
“Maaf…”
jawabnya singkat agak lirih.
“Maaf
? buat apa?”.
“Maaf
aku udah bohongin kamu. tapi ini demi kebaikan kamu, sayang.” Dia meyakinkanku.
“bohong?
Tentang apa?” Aku masih belum mengerti.
”Sebernernya
aku punya penyakit kanker lambung, bukan maag biasa yang pernah aku bilang ke
kamu. Maafin aku yaa?!” Jelas langit.
“Ini
yang kamu maksud dengan kebaikan buat aku? Kamu jahat, langit!! Kamu menutupi
rasa sakitmu demi aku yang gak mau sakitin? Justru ini yang sangat menyakitkan
aku, kamu jujur ketika aku tidak ada disampingmu dan tidak bisa menguatkanmu
saat kamu dalam keadaan seperti ini!! aku benci sama kamu!!” dengan nada
sedikit menggetak.
“Yaa..
Aku emang jahat!! Aku egois. Aku hanya mementingkan diriku sendiri yang gak mau
mataku melihat kesedihanmu apa lagi melihat tangisan air matamu seperti yang
kamu keluarkan saat ini, pelangi. Sungguh, aku gak bermaksud untuk menyakiti
hatimu. Aku sangat menyayangimu!!! Sangat menyayangimu!!!”
Aku
mengeluarkan air mata, aku sedih mendengar kejujuran langit yang selama ini ia
sembunyikan dariku. Aku masih tak menyangka, ternyata saat ia masih bersamaku
dulu ia sedang menahan rasa sakitnya. Yaa.. ini demi aku, setiap waktu ia
selalu menciptakan canda serta tawa untukku. Dan kini ia hanya bisa terbaring
lemah dikasur putih rumah sakit itu. Aku dapat merasakan apa yang ia rasakan
saat ini. “Ya Allah, kenapa disaat langit membutuhkanku untuk selalu
disampingnya, jarak malah menjauh dan memisahkan kita?” gumamku dalam hati.
“Pelangi?
Kamu masih denger suara aku kan?” tanyanya membuka perbincangan antara aku
dengannya setelah aku terdiam.
“Aku
mau kamu sehat lagi!! Aku masih mau main sama kamu. Aku masih mau lihat pelangi
sama kamu ditaman belakang rumahku. Aku masih mau bareng-bareng sama kamu. kamu
bisa perjuangkan kesehatanmu demi aku kan, langit? Aku sayang sama kamu!!”
“Aku
juga sayang sama kamu. Tapi kalau Allah udah memanggilku dan aku harus
tinggalin kamu, kamu harus janji jangan pernah kamu menghabiskan air mata kamu
cuma untuk aku. Aku mau kamu mengikhlaskan aku pergi. Aku gak mau kamu
mengantar kepergianku dengan tangisan. Kamu mau aku bahagia disana kan,
pelangi?”
Air
mataku semakin deras membasahi pipi, aku tidak bisa menahannya saat ia
mengatakan hal itu kepadaku. Aku mulai terisak-isak, dadaku terasa sakit
sakali.
“Pelangi?
aku mau denger suara kamu sayang, bukan tangisanmu”. Pintanya
Sudah
tiga bulan langit tidak ada disampingku, jauh sekali. aku sangat merindukanya.
Saat ini aku hanya ingin buat langit merasa bahagia saat dia mendengar suaraku
bukan malah membuatnya merasa bersalah karena sudah membuatku menangis seperti
ini. Bagaimanapun juga langit adalah milik Allah, mau tidak mau ia akan kembali
pada sang pencipnya. Lagipula aku telah diajarkan oleh langit tentang bagaimana
untuk mengikhlaskan sesuatu yang telah pergi, begitupun dengan aku yang harus
mengikhlaskan langit jika ia memang ditakdirkan harus pergi dari dunia ini dan
memulai kehidupan baru dialam lain.
“Langit?
Apa kamu bisa meyakiniku, kalau kamu akan terus ada didekat kamu walau ragamu
jauh dari aku, nanti?”
“Pelangi,
kamu masih pakai liontin yang aku kalungkan dilehermu ‘kan? Itu akan membuatmu
selalu dekat denganku. Aku yakin kamu akan merasakannya nanti.” Kata langit
meyakinkanku.
“Langit
akan selalu membentang dan ketika kamu melihat kearahnya kamu juga akan melihat
aku. Ketika hujan, kamu akan selalu merasakan ditengah rintikannya selalu ada
aku. Dan ketika hujan reda, akan ada pembiasan cahaya muncul. warna-warni yang
melengkung berspektrum sempurna. Rasakan kalau aku ada didekatmu, sama seperti
waktu kenangan terakhir kita bersama dulu. Jadi kamu jangan takut merasa
kehilangan. Ingat, masih ada Allah selain aku yang selalu ada didekat kamu!!”
Lanjutnya.
Aku
menerima kata-katanya yang tersusun indah, akan selalu terukir dihatiku
sehingga aku akan dapat lebih mudah mengingat langit.
Cukup
lama aku meneleponnya, hampir satu jam aku mendengar suara tanpa aku banyak
bicara. Terdengar suara kesakitan dari mulutnya. “Langit? Langitkamu kenapa?”
tanyaku panik.
“Pelangi,
kamu mau kan tolongin aku?” pinta langit padaku. Deg!! Dadaku mulai terasa
sakit.
“Pelangi,
tolong bacakan dua kalimat syahadat ditelingaku.” Dengan suara rintihan
kesakitan.
Aku
menangis, dadaku semakin terasa sakit sekali dan tekanan darahku mengalir
sangat deras saat mendengar pintanya. Aku pun langsung membacakan dua kalimat
syahadat lewat telepon yang ditaruhkan ditelinganya. Terdengar helaan nafas
panjangnya yang sesak, aku pun merasakan hal itu.
“Sekali
lagi, pelangi” pintanya dengan nada suara yang semakin sesak. Aku kembali
membacakan dua kalimat syahadat. Semakin deras air mata yang jatuh membasahi pipi
ini, mataku membengkak, hati masih terasa sakit. Aku tak mendengar suara Langit
lagi.
“Langit?” panggilku. Sangat hening, tidak ada jawaban
dari suara langit.
Tiba-tiba
aku mendengar beberapa orang meneriaki nama ‘Langit’ diiringi dengan tangisan
yang terisak-isak.
“Langiiittt… jangan tinggalin kakak !! kakak
sayang kamu, langiittt. Bangun sayangggg.” teriak seserang yang terdengar di
telepon.
“innalillahi
wainnailaihi rajiun..” tubuhku melemas seperti manusia yang tak bertulang,
handphone yang ku pegang terjatuh. Sungguh sulit kuterima kenyataan ini, langit
meninggalkan aku di dunia ini. ia akan menjalani kehidupan baru dialam sana
tanpa aku.
Diantara
aku dan Langit, hanya ada satu nama yang tersisa di dunia ini yaitu ‘Pelangi’
yaa!! Hanya aku sendiri, tanpa langit. Berlinang semakin deras air mataku,
doaku untuk Langit selalu mengalir deras dibibirku. “Ya Allah, berikan tempat
terbaik untuk Langit. aku mengikhlaskannya. Tapi aku mohon kepadamu jangan
Engkau yang pergi meninggalkan aku, ya Allah. Engkau adalah tuhan yang mampu
membolak-balikkan hati. Sesungguhnya cinta yang aku rasakan untuk Langit
berasal dari-Mu, karena-Mu dan Untuk-Mu” Kataku dalam hati.
*3
tahun, kemudian*
Siang
itu disekolah, hujan masih membasahi bumi. Segera aku langkahkan kaki menuju
koridor sekolah tepat di depan kelasku. Aku menadahkan tanganku dibawah
rintikan hujan sambil menatap langit yang masih gelap. Saat itu aku merasakan
Langit ada di dekatku. aku langsung menuruni anak tangga, kulangkahkan kaki
menuju ke tengah lapangan. Aku menekatkan diri membasahi seluruh tubuhku dengan
rintikan air hujan yang turun ke bumi.
Aku
membentangkan kedua tanganku dan mengangkat wajahku kearah langit mendung. Aku
merasakan langit semakin dekat denganku. Air mataku tiba-tiba jatuh dengan deras
dibawah siraman air hujan, tapi hujan menghapusnya seperti langit saat ia
menghapuskan air mataku.
“ehh
cewek aneh!! Hujan deras ini!! ngapain hujan-hujanan?” kata seseorang
dibelakangku, ia menghampiriku dengan payung diatasnya. Aku yang sedang asik menikmati
guyuran hujan, aku tidak mempedulikannya. Aku terus menikmati hujan ini.
“Hellooo…
kamu dengar aku gak sih?” tanyanya.
“kamu
siapa?” tanyaku heran. Laki-laki yang menghampiriku ini seperti warga baru
disekolahku, aku belum pernah melihatnya selama sekolah disini.
“udah,
jangan banyak tanya!! Ayo masuk kelas. Hujannya semakin deras nih”. “Gak mau!!
aku mau liat pelangi setelah hujan ini reda” aku menolak ajakkannya.
“Kan
bisa dikelas, nanti kalau udah reda baru keluar!!” dia berteriak, volume suaranya
terdengar kecil karena rintikan suara hujan lebih terdengar di telingaku.
“Gak
mau!! Kamu aja sana pergi!! Aku masih mau menikmati hujan ini.” balasku.
“Aku
gak akan pergi kalau kamu gak mau pergi dari sini.” Dia meneduhkanku dibawah
payung yang dibawanya.
“yaudah,
terserah kamu!! emang kamu siapa sih? Kok aku baru lihat kamu disekolah ini?
Sok perhatian lagi” cetusku.
“Aku
Badar!! Murid baru di sekolah ini, aku duduk dikelas 1 Akuntansi 1. Aku udah
genap dua minggu disini. Kamu anak kelas 1 Perkantoran 2, kan?” dia balik
bertanya.
“Ohh
jadi kamu murid baru disini? Pantes aku baru lihat kamu. Iyaa, aku di kelas 1
Perkantoran 2. Kok kamu tau?” tanyaku lagi.
“Gak
penting kamu tau, yang jelas selama dua minggu ini aku selalu lihat kamu!!”
jelasnya.
Aku
terdiam, suasana mulai hening ditengah hujan ini. Aku melihat Badar memucat,
tubuhnya menggigil kedinginan seperti orang yang tidak terbiasa main-main di
bawah hujan. Lain halnya dengan aku yang senang bermain di bawah guyuran air
hujan seperti anak kecil yang kegirangan saat rintikan air hujan membasahi
bumi. Ini karena sepenggal kisah manisku bersama Langit yang tidak akan pernah
bisa aku lupakan. Berawal dengan titik-titik embun yang luruh membentuk ribuan
panah air yangt menghujam tanah dibumi.
“Badar,
kamu kenapa? Lebih baik kamu pergi dari sini. Nanti kamu sakit!!” kataku yang
mulai mencemaskannya. Ia hanya menggelengkan kepalanya.
“Badar?
Ayo kita ke kelas, wajahmu memucat” aku memutuskan untuk mengakhiri bermain
hujan di tengah lapangan. Aku menuntun Badar menuju kelasnya. Tiba-tiba Badar
terjatuh dan pingsan saat menaiki tangga.
“Badar!!
Badar kamu kenapa?” aku berteriak. Wajah dan seluruh tubuhnya sangat pucat. Aku
meminta pertolongan pada petugas UKS, kebetulan saat Badar terjatuh persis di
depan UKS. Badar tak kunjung sadarkan diri. Sesuai saran dokter, usai insiden
tadi dia langsung dibawa ke Rumah Sakit. Entah kenapa aku menawarkan diri untuk
menunggunya. Seperti ada perasaan yang mengganjal setiap aku melihatnya. Badar
masih terbaring di ranjang putih, aku memakaikannya selimut tapi ia masih
terlihat pucat. Aku takut terjadi apa-apa dengan Badar. “ya Allah, Semoga badar
baik-baik aja.” Doaku dalam hati sambil menggenggamkan tangannya. Mungkin ini
adalah salah satu caraku untuk menghangatkannya dari kedinginan tadi yang ia
rasakan.
Aku
menunggu Badar yang sudah hampir dua jam tak kunjung sadar. Mataku terasa
berat, aku ingin memejamkan mata ini untuk sebentar saja. Selang waktu beberapa
menit, aku pun tertidur. Saat itu aku bermimpi Langit berada disampingku
persis, ia tidak mengatakan banyak padaku. Langit hanya mengatakan ”Semoga aku
memilih orang yang tepat untukmu, pelangiku” Ia tersenyum tenang, lalu pergi.
Saat
aku tertidur, aku merasakan genggaman tangan yang kuat dan lembut. Aku terbangun
dari tidurku, aku melihat tangan Badar yang menggenggam tanganku. “Badar? Kamu
udah sadar? Alhamdulillah…” Aku tersenyum.
“Aku
baik-baik aja kok, Pelangi.” Jawabnya dengan nada suara yang lemah.
“Gak
mungkin kamu baik-baik aja, kamu tuh pingsan setelah hujan-hujanan tadi!! kamu
badung sih, disuruh pergi malah gak mau, gini kan akibatnya? Kamu udah bikin
aku ngerasa bersalah tau!!” Ocehku.
“sssttt
bawel banget sih cewek ini!! bisa diem gak? Aku baik-baik aja, aku cuma pusing
sebentar lagi juga sembuh..” katanya sambil mencubit pipiku.
“Apa
kamu bilang? Aku udah dua jam loh nunggu kamu yang gak sadar-sadar!! Kamu
bilang sebentar lagi sembuh?” Aku mulai kesal.
“Selama
dua minggu aku sekolah disini, memperhatikan kamu dari jauh dan baru hari ini
aku tau kalau kamu tuh bener-bener cerewet!! Bikin berisik!!”. Aku terdiam
kaget.
“hah?
Ternyata selama ini Badar memperhatikan aku dari jarak jauh? Ah masa iyasih?”
tanyaku dalam hati tak percaya.
“ehh
cewek bawel..” panggilnya mengagetkanku yang sedang melamun.
”Kenapa
diam? Bengong lagi”. Ia menampar pelan pipiku.
“ohh
yaa, gak apa-apa kok. Maaf yaa gara-gara aku kamu jadi sakit kaya gini.”
lirihku dan tertunduk.
“Hey..
Gak usah begitu!! Ini bukan salahmu.” ia menyentuh wajahku lalu menaikkannya
dengan pelan.
“Ya
Allah, sentuhannya? sama seperti langit saat ia menaikan wajahku yang
tertunduk. Ia benar-benar seperti langit.!!” gumamku dalam hati. Jantung
berdetak hebat.
Beberapa
saat kami terdiam. Namun aku tetap menunggu dia memulihkan kondisinya.
Kupandangi dia, sampai lagi-lagi aku teringat pada satu sosok di masa laluku
itu.
“Dulu
aku emang sakit. Kanker hati. Tapi alhamdulillah sekarang udah nggak.” Jelas
badar.
“Kok
bisa?” tanyaku penasaran.
“Sebulan
yang lalu ada orang tua yang baik banget sama aku, dia ngasih hati anaknya buat
aku. Dan untungnya tubuh aku bisa nerima hati itu,”
“Kok
bisa ngasih sih?” semakin penasaran.
“Iyaa.
Anaknya sendiri yang bilang, kalo dia meninggal dia mau donorin apa yang ada di
tubuhnya buat orang yang ngebutuhin. Kebetulan saat itu aku lagi butuhin organ
vitalnya, yaa karena aku punya penyakit kanker hati jadi setelah dia meninggal
dia ngasih hatinya buat aku.”
“Baik
banget yaa.. Berarti yang donorin itu udah meninggal?”
“Yaa..
Dia sakit Gagal ginjal. Kita sempet satu rumah sakit, dia sendiri yang minta ke
orang tuanya buat ngasih hatinya ke aku. Tapi sayang, tempat pemakamannya jauh
banget dari Jakarta. Jadi aku gak bisa berziarah ke orang yang udah berjasa
banget buat hidup aku.” Jelasnya.
“Emang
dia dimakamin dimana?” aku tak berhenti bertanya tentang hal itu.
“di
Malaysia. Jauh banget kan?”
“di
Malaysia? Kamu tau namanya siapa?” tanyaku lagi.
“Namanya
Muhammad Langit Laksamana, kalau aku gak salah.” Jawabnya.
“di
Malaysia dan dia Langit?” tanyaku tak percaya.
“Iyah.
Kamu kenal?” Badar tampak bingung.
“Aku...aku...aku
pacarnya” ucapku terbata-bata, pelupuk mataku sudah mulai mengeluarkan air
matanya.
“Jadi...
Kamu Pelangi yang selama ini Langit ceritain sama aku?” tanya Badar tak
percaya.
“Cerita
apa?” tanyaku heran. “Banyak! yang jelas katanya kamu itu berarti banget buat
dia,”
Ruangan
itu kembali hening. Aku tak percaya, ternyata ada organ tubuh langit di dalam
tubuhnya badar? Pantas saja setiap aku melihat badar ada bayang-bayang akan
hadirnya langit disampingku. Dan hati yang ada di dalam tubuh Badar, itu milik
langit yang selalu membuatku melihat badar sebagai bayangan langit.
*keesokan
harinya*
Bel
sekolah berbunyi tanda pelajaran usai, aku segera bergegas membereskan
alat-alat tulisku dan memasukkannya ke tas. Tapi hujan mencegahku untuk
meninggalkan sekolah, karena mataku tertuju pada Badar yang sedang bersandar di
koridor tempat aku biasa menikmati hujan dan ia menadahkan tangannya. Kuhampiri
dia dengan membawa senyuman.
“Badar?
Kamu belum pulang?” Tanpa Badar mengeluarkan satu katapun, ia hanya
menggelengkan kepalanya saja.
Suasana
kembali hening. Setelah beberapa menit berlalu, hujan mulai reda. Tiba-tiba
Badar menggenggam tanganku, erat. Aku menghelakan nafas, aku merasakan langit
ada didekatku lagi.
“pulang
yuk? Mumpung hujannya udah reda” ajakku. “aku mau kamu ngajak aku ke tempat
biasa kamu dan langit melihat pelangi setelah hujan reda” pinta badar sambil
menatapku, terlihat sangat indah.
Aku
pun langsung mengajak Badar ketempat biasa aku dan langit melihat keindahan
alam yang sempurna. Yaa… tepat di taman belakang rumahku, aku mengajaknya
kesana.
“Ini
tempat biasa kami melihat pelangi” kataku. Badar celingak-celinguk menikmati
ketenangan di taman ini. “Aku suka…” kata badar singkat sambil menganggukkan
kepalanya.
“Oya,
Pelangi… Sebelum langit mendonorkan hatinya buat aku, dia menitipin ini buat
kamu.” Ia mengeluarkan sepucuk surat dari kantong jaket birunya.
Kuraih
surat itu, dan kubaca. Butir-butir air mata mulai mengalir. Tangis yang selama
ini tak pernah kuperlihatkan lagi semenjak kepergian Ara 3 tahun yang lalu,
kini memecah saat aku membaca kata demi kata yang tertulis di surat itu.
Assalamualaikum,
Pelangi hidupku
Waktu
kamu baca surat ini, bisa aku pastiin kalau aku udah nggak ada di sisi kamu
lagi. Yaa, sekarang pasti ada Badar di deket kamu kan? Anggep aja itu aku yaa..
Maaf
pelangi, aku dateng tanpa ragaku bahkan jiwaku, aku dateng hanya dengan surat
ini. Hidupku udah berakhir, Allah udah manggil aku buat pulang lagi ke sisiNya,
ini takdirku. Kuatin diri kamu yaa, sayanngg. Maaf aku nggak bisa tepatin janji
aku buat bareng-bareng lagi sama kamu, tapi sekarang aku bawain Badar buat
menggantikan posisi aku untuk hidup kamu. Kamu masih bisa ‘kan main-main
dibawah hujan, lihat pelangi bareng badar? Aku bisa tebak, kamu pasti bisa
ngerasain apa yang kita rasain waktu kita masih sama-sama dulu. Kamu bahkan
lebih bisa merasakan ketenangan, dan lebih nyaman saat kamu ada disamping
badar, iya ‘kan? Aku seneng bisa lihat kamu tersenyum, kembali ceria seperti
dulu. Aku mohon, sayangi badar sama seperti kamu sayangi aku. Aku yakin saat
aku memilih Badar untuk menggantikan aku, aku tidak akan salah pilih. Kamu tahu
kenapa? Karena Allah swt telah memberiku sebuah petunjuk indah yang aku
persembahkan buat kamu. Sekali lagi, untukmu pelangi yang abadi di hatiku,
nikmatilah masa depanmu yaa sayang...
Wassalam..
M.
Langit Laksamana
Aku
tersenyum setelah membaca surat itu. Kutatap langit yang mulai cerah membentang
bersama awan-awan yang melayang-layang diudara. Terlihat lukisan tuhan yang
melengkung indah sedang berspektrum sempurna.
“Hey, lihat!!! Pelangi mulai menampakkan
dirinya dihadapan kita.” kataku dan menunjuk kearah pelangi itu. “Indah yaa?”
tanya badar sambil tersenyum manis. Aku membalas senyumannya. Aku tak berhenti
menatap pesona ciptaan tuhan yang sampai saat ini aku bingung, bagaimana bisa
Allah melukis pelangi itu dengan 7 warna yang berbeda-beda tetapi tetap
terlihat sangat indah tanpa cat warna, tanpa kuas dan langit sebagai kanvasnya.
Sungguh tak ada yang bisa menandingi. Aku tersenyum lagi.
“Pelangi,
kamu suka pelangi itu?” tanya badar membuka pembicaraan
Aku
mengangguk dan tersenyum. “Aku suka banget sama pelangi, karena hanya pelangi
lah lukisan alam yang dapat membuatku jatuh cinta kepadanya.
“Iya
emang indah.. tapi setelah aku
pikir-pikir keindahannya nggak abadi”
katanya, dia memanyunkan bibir kecilnya.
“Iya
sih, apa yang kamu bilang itu benar. Tapi bagaimana pun juga aku bakal tetep
suka sama pelangi. Yaa.. sama kamu juga, badar. Kamu mau kan jadi pelanginya
aku.” aku mengalihkan wajah kearah langit dan aku pun tersenyum kecil.
“Tapi
aku gak mau jadi pelanginya kamu!!” cetusnya “Lah? Kenapa?” tanyaku.
“kaya
apa yang aku bilang tadi, pelangi itu datangnya hanya sesaat dia gak abadi. Aku
gak mau seperti itu!! Aku lebih mau jadi sejuta rinai hujan buat kamu.” dia
tersenyum
“sejuta
rinai hujan? Kenapa?” tanyaku heran
“Iya,
sejuta rinai hujan. Karena tanpanya pelangi tidak akan muncul. Aku hujan dan
kamu pelangi. Kalau begitu kita cocok ‘kan? Saat kamu menginginkan keindahan
lukisan alam berwarna-warni itu, mau gak mau kamu harus menginginkan
kehadiranku. Itu artinya akulah yang selalu mengantarkan kebahagiaan pelangi
untuk kamu, dimanapun kamu berada.” Dia merangkul pundakku dan tersenyum.
“berarti
kamu hujan dan aku pelanginya?” tanyaku tersenyum. “Jangan lupa sama Langit.
Bukankah hujan itu turun hanya dari langit dan pelangi akan terlukis jika ada
langit yang membentang luas? Dia juga segala-galanya bagi kita” dia merangkulku
lagi, sangat erat. Kami tersenyum bersama-sama.
Aku
tak pernah berharap banyak., yang aku harapkan jangan sampai aku pisahkan lagi
dengan orang yang kusayang. Karena aku ingin menikmati indahnya pelangi setelah
hujan dilangit bersama Badar yang aku cintai. Aku mencintai karena hati yang
bertemu. Aku sangat bahagia mengenal Langit yang baru dengan sosok Badar
sebagai penggantinya di hidupku. Semoga Allah menakdirkan Aku dan Badar seperti
dua sisi koin yang akan saling menyatu, meski gambarnya berbeda namun bentuk
dan ukurannya tetap sama. Jika kami berkomitmen selalu bersama, kami percaya
tidak akan ada yang bisa menghancurkan kami apalagi memisahkan kami, dikala
sedih dan dikala senang kami akan tetap bersama-sama.
“Ya
Allah, aku sedang jatuh cinta dengan Insan-Mu yang bisa menghargaiku tapi tetap
dengan mengandalkan cinta-Mu. Karena sesungguhnya cinta yang aku rasakan
berasal dari-Mu dan jangan biarkan cintaku untuk insan-Mu ini tumbuh hanya
karena nafsuku.” Aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar