Perempuan Hujan

Sabtu, 20 Desember 2014

Langit Menyatukan Hujan dan Pelangi

Hari ini langit tak begitu cerah, matahari yang tertutup awan membuat cuaca hari ini menjadi mendung. Aku masih berdiri di depan jendela rumahku, menatap langit yang mulai gelap. Pikiranku melayang kesuatu cerita masa lalu tentang aku, langit dan hujan. Aku sangat merindukan hujan karena beberapa waktu lalu disini sedang musim kemarau, tak ada hujan yang turun, semua kering. “Aku rasa hari ini hujan akan turun.” gumamku sambil menatap langit yang gelap.
Gerimis kecil mulai berdatangan. Aku menikmatinya. Aroma hujan telah tercium dan aku merasakan ketenangan hati.
“Assalamualaikum, pelangi..” salam seseorang, mengagetkanku.
“Waalaikumsalam, ehh langit?! sini masuk hujannya udah mulai deras tuh!!” kataku sambil beranjak dari tempat berdiri.
Aku menghampiri langit, lalu mengajaknya masuk ke dalam rumah. “Langit.. tubuhmu basah? cepat kamu hangatkan tubuhmu dengan ini, nanti kamu sakit.” aku memberinya handuk. “Cuaca di luar sana sangat gelap!! Sebelum kamu kesini pasti Kamu tahu kalau hujan akan mengguyur bumi siang ini” Langit hanya diam, dia sibuk mengeringkan tubuhnya dari sisa-sisa basah air hujan yang membasahinya. “Langit? Kamu ke sini hanya untuk membisu, diam tanpa kata? Merespon kata-kataku pun tidak sama sekali.” Dengan nada yang lirih sambil menuangkan secangkir teh manis hangat di samping mejanya. Lagi-lagi Langit tidak menjawab pertanyaanku, dia hanya tersenyum masam, lalu menunduk. Terlihat tampak gelisah raut wajah langit, tak ada satu katapun yang keluar dari mulutnya.
Suasana menjadi hening, hanya suara gemuruh petir dan rintikan hujan deras yang terdengar ditelinga kami. Tidak seperti biasanya langit bersikap seperti ini, aku tidak melihat langit membawa keceriaannya dan senyumannya dihadapanku. Dia hanya terdiam, seperti orang yang kehabisan kata-kata. Sungguh ini tidak seperti biasanya.
“langit? Kamu keliatannya sedang gelisah. Apa yang kamu pikirin? Kamu bisa cerita sama aku, insya Allah kalau aku bisa bantu kamu. Aku akan lakuin itu buat kamu” aku membuka percakapan antara aku dan langit di tengah suasana yang tenang. Lagi-lagi langit tersenyum kecil.
“aku tidak apa-apa pelangi” jawabnya masih datar. “terus kenapa kamu diam aja? Aku punya salah sama kamu? Maafin aku, langitt..” Mataku mulai berkaca-kaca. Langit tertunduk seakan tidak ingin ia melihat air mataku jatuh.
“kamu gak punya salah apa-apa kok, sayang. Maaf kedatanganku kesini cuma bikin kamu khawatir, kamu cemas dan gelisah kaya gini. Aku kesini cuma mau ngajak main kamu, pelangiku.” Katanya, Langit mencubit pipiku dan dia tersenyum. Aku merasakan kedamaian hati saat melihat langit tersenyum lagi.
“kamu kesini mau ngajak main aku dengan muka yang gak karuan gitu, emangnya bagus? Aku sebel langit sama kamu!!” aku tersenyum sambil mencubit-cubit pinggangnya. Langit tertawa geli, aku senang melihatnya.

#Flashback..
Aku dan langit sudah genap 4 tahun berpacaran. Kami sangat menikmati masa-masa kebersamaan ini. Banyak lika-liku yang kami alami selama 2 tahun ini, tidak hanya senang tapi susahnya pun kami bersama. Langit adalah guru bagiku, ia mengajarkanku banyak hal terutama tentang keikhlasan dan kesabaran dalam mengartikan hidup. Aku mencintai hujan pun karena dia. Awalnya, aku benci dengan kedatangan hujan. Karena tidak ada yang special dari hujan. Hujan hanya menyisakan basah dan becek. Saat itulah langit mengajarkanku agar selalu mencintai apapun yang Allah ciptakan termasuk ‘hujan’. Ia membacakan arti dari Al-quran Surat Ar-Rum ayat 48 yang berbunyi: “Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angina itu menggerakan awan dan Allah membentangkannya dilangit menurut yang dikehendakinya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal. Lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambanya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka merasakan kegembiraan.”
“Lalu apa alasanmu membenci hujan?” itulah pertanyaan langit yang sempat membuatku terdiam. “Hujan selalu menghantarkan aroma tanah yang mengepul karena timpaan rintikannya. Setiap kali hujan berurai, aku selalu merasakan ketenangan. Itulah alasan kenapa aku sangat mencintai hujan. lalu, apa kamu tetap mau membencinya atau mau belajar untuk mencintainya?” lagi-lagi kata-katanya membuat aku terdiam dan berfikir.
Aku mencoba semua apa yang dilakukan oleh langit ketika hujan datang. Aku menghirup udara yang amat segar, pikiranku tenang. Aku menghirup udaranya lagi, lagi… dan lagi. Pikiranku pun makin tenang. Langit benar, Aku mulai menyadari bahwa sebenarnya hujan itu membawa ketenangan bukan kegelisahan. Dan kini, hujan telah mejadi sahabatku dan aku senang bermain dibawah guyuran hujan. Aku sangat mencintainya.


Tiba-tiba langit beranjak dari tempat duduk. Ia melangkah menuju pintu keluar, terus melangkah sampai akhirnya dia berhenti tepat dibawah derasnya air hujan. Ia membentangkan tangannya dan mengangkat wajahnya kearah langit. Terlihat senyumannya yang manis. “Pelangiiii.. Ayo kesini!!” teriak langit dari luar, seakan dia menantangku untuk bermain dibawah guyuran hujan.
“Ohh jadi kamu mau main hujan-hujanan? Kamu kira aku takut??” Aku menghampirinya dengan senyuman yang terkesan agak sedikit sombong.
Aku dan langit menari-nari dibawah jutaan tetes air yang turun dari langit sana. Aku dan langit sangat menikmati ini. Aku menadahkan air hujan di tanganku dan aku lemparkan air itu kearah langit, dia membalasnya. Hujan membawa canda dan tawa diantara kami.
“Pelangi hidupku??” dia memanggilku jahil. “yaa? Ada apa Langit yang selalu membentang dihatiku?” balasku tidak mau kalah so sweet. “hahaha kamu bisa aja!!” dia  mencubit pipiku.
“hey Pelangi hidupku? Lihat, langit udah mulai terang. Kamu tau gak? Kalau kita berdoa disaat hujan turun Insya Allah doa kita akan dijabah oleh Allah. Yuk kita berdoa sesuai dengan permintaan kita masing-masing.”

Kami pun menutup mata seraya menadahkan tangan, meminta sesuatu kepada Allah dengan hati yang penuh keimanan. “aamiin” selesai berdoa kami mengusap wajah, lalu membuka mata dan kami saling bertatapan dibarengi dengan senyuman. Yaa, kita sama-sama menyukai hujan. Mencintai setiap titik yang terlahir dari awan mendung.
Aku dan Langit menatap langit yang sudah mulai cerah, awan awan hitam pun pudar dan matahari sudah terlihat. Kedatangannya menghangatkan tubuh kami.
“Langit, coba lihat itu!!” aku menunjuk ke arah langit yang membentang luas.
“kayanya langit udah mempersilakan pelangi berspektrum sempurna” kata langit lalu tersenyum.
“Indahnya… Pelangi itu sangat memikat hati siapapun, termasuk aku.” kagumku.
“tapi Pelangi yang berada disampingku sekaranglah yang lebih memikat hati aku!! Yaa hanya aku, tidak untuk orang lain. Siapapun itu!!” cetusnya.
“ihh Langit? Kamu ngomong apa sih?” aku tersipu malu.
“Aku gak mau kehilangan kamu, Pelangi!!” kata langit menatap pelangi yang masih berspektrum.
“Aku yang lebih gak mau kehilangan kamu!!” Aku tidak mau kalah dengan langit.
“Ihh Pelangi? Kamu tuh ngomong buat siapa?” tanyanya. “buat pelangi diatas sana” kataku sambil menunjuk kearah pelangi itu.
“Kamu juga ‘kan??” tanyaku lagi. “Yaa, aku juga sama buat pelangi. Tapi pelangi yang aku maksud itu kamu bukan yang ada diatas sana, sayaaanngg!!!” jawab langit agak sedikit kesal.
Aku memang sering membuatnya kesal. Bagi langit ini sebuah ujian melatih kesabaran untuk menghadapi wanita seperti aku ini, yang sering membuatnya kesal. Dari situlah aku mengambil pelajaran dari langit,. Sudah kubilang dia bukan hanya sekedar kekasihku tapi dia adalah guruku sekaligus sahabat sejatiku.


Kami terus menatap pelangi yang menyajikan keindahan tiada tara. Cahaya siluet yang menyimpan berjuta-juta warna nampaknya mulai terlihat pudar. Sungguh aku tak ingin ia segera pergi. Aku masih ingin menikmati keindahannya.
“Pelangi?” panggilnya “Yaa?” “Aku mau ngomong sesuatu sama kamu” kata langit dengan wajah yang sangat murung.
“kamu keliatannya serius. Mau ngomong apa emang?” Tanyaku penasaran. Langit tertunduk. “Langit?” panggilku pelan seraya menaikan wajahnya yang masih menunduk. “jujurlah sayang. Apa yang kamu mau omongin? Jangan bikin aku cemas.” Kataku dengan nada datar.
“Pelangi? Aku sangat menyayangimu!!” langit menatapku penuh kasih sayang. Aku sangat merasakannya. “Aku juga sangat menyayangimu, langit. Cepat apa yang mau kamu katakan?” Aku masih penasaran.
“Sore ini, aku akan berangkat ke Malaysia untuk segera memeriksa keadaanku saat ini. Rumah sakit disini belum bisa menanganiku secara total. Ayahku menyarankan aku untuk pergi ke Malaysia agar penanganannya segera selesai. Setelah selesai, aku akan kembali ke Jakarta untuk menemuimu, kita akan sama-sama lagi. Kita akan main sama-sama lagi bareng hujan dan menikmati keindahan pelangi sama-sama. Pokoknya kita akan sama-sama terus setelah aku sehat nanti. Kamu gak apa-apa kan?”
Aku menunduk. Aku tidak ingin langit melihat air mata yang kini sedang mengalir jatuh dipipiku. Aku hanya terdiam mendengar kata-kata yang langit ucapkan. Ternyata kebahagiaan hari ini adalah kebahagiaan terakhir yang kami rasakan, dan ternyata juga ini adalah kebahagiaan dalam suatu perpisahan diantara kita.
“Pelangi? Kamu baik-baik yaa?  Jaga kesehatan kamu, jangan mau kamu kaya aku yang penyakitan ini. Aku mau kamu selalu sehat. Kamu jangan sedih yaa? aku pasti akan baik-baik aja disana. Aku janji akan selalu menjaga hati aku untuk kamu. You’re the only one, my rainbow.” Katanya. Ia melihat aku masih tertunduk. “Pelangi? Kamu nangis?” langit menaikan wajahku. “Pelangi sayang, tatap mata aku!! Aku janji, aku akan selalu ingat sama kamu. Aku gak akan lupain kamu. Aku cinta sama kamu, Pelangi!! Aku mohon, jangan keluarin air mata ini untuk hari terakhir pertemuan kita.” Kata langit menghapus air mata yang membasahi pipiku.
Sungguh, sebelumnya aku belum pernah merasakan hal seperti ini. Merasakan akan kehilangan seseorang yang berarti dalam hidupku. “Aku sangat mencintainya, Ya Allah. Aku gak mau kehilangan sosok langit. Aku mau dia selalu ada  disampingku” kataku dalam hati yang mulai terluka.
“Sayang, aku titip liontin berbentuk hati ini sama kamu, didalamnya tersimpan foto kita berdua. Anggaplah liontin ini adalah hati aku. Kalungkan lionton itu tepat didadamu, maka kamu akan merasakan hati aku akan selalu ada didekat kamu. Percaya deh, kamu pasti merasakan hal itu.” Langit memakaikan kalung liontin hati itu.
Aneh!! Langit masih berada disampingku, dia belum pergi tapi aku sudah merasakan hal yang tadi diucapkannya ketika langit memakaikan kalung itu tepat dileherku.
“Langit? Bisakah aku pegang semua janji-janjimu?” Aku berhasil mengusir semua kebisuan dari mulutku. “Apa kamu melihat kebohongan dari mataku ini?” langit meyakinkanku dan ia pun berhasil. Aku mulai percaya dengan keyakinanku.
“Aku pamit pulang yaa, Pelangi Hidupku? Jaga diri kamu selama aku jauh dari kamu. jangan lupain kenangan yang baru aja kita bikin. Aku juga janji gak akan lupain kenangan ini, aku pastiin aku gak akan lupa!! Kamu percaya kan sama aku?” dia kembali meyakinkanku.
“Percaya sama kamu itu musyrik, langit!!” aku tertawa.“nah gitu dong ceria lagi, jangan cengeng kaya tadi. Bagus, kamu tadi nangis tetep cantik kalau kamu nangis malah jadi jelek kaya tadi, rugi disiapa?” tanyanya mulai jahil. “rugi di aku?” jawabku spontan. “dihh geer haha. Jelas rugi di aku lah pelangiku sayaanngg” kata langit sambil tertawa. “lah? Kok dikamu langit?” tanyaku keheranan. “sekarang kamu pikir deh, kalau kamu nangis sampai jelek kaya tadi yaa akulah yang rugi. Aku kan jadi gak bisa ngeliat kecantikan kamu yang udah terhapus oleh air mata yang gak berguna.” Kata langit meledekku. Aku dan Langit tertawa lepas. Beban terasa hilang saat itu.
Akhirnya aku bisa melepaskan Langit pergi untuk sementara ini. Aku akan selalu menunggunya walau aku tidak tahu kapan ia akan kembali lagi bersamaku.


Sungguh terasa begitu lama, ketika aku menunggu langit datang kembali ke Jakarta. Tapi, ketita aku dan langit masih bersama sama, waktu terasa cepat. Waktu sangat tidak adil bagiku. Saat aku menikmatinya, terasa begitu cepat untuk dirasakan dan saat aku menunggunya terasa lama sekali. Kini aku sedang menunggu langit yang sudah tiga bulan belum juga kembali ke Jakarta. Aku merindukannya.
Nada dering tanda telepon masuk terdengar ditelingaku. Aku meraih hp yang diatas meja. Tidak ada Contact Name tertulis dilayar hpku.
”Assalamualaikum, Pelangi?”  salam dari si penelpon. “Waalaikumsalam. Siapa ini?” tanyaku. “Aku Rere, kamu masih ingat sama aku ‘kan?”.
“Ohh kamu, re? Ya ampun gimana  kabarnya kamu?”.
“Alhamdulillah, Aku baik kok. Kamu juga kan? Oya, Pelangi. Aku punya kabar buruk buat kamu tentang Langit disini.” Katanya tampak serius.
“Iya kabarku juga baik kok. kabar buruk apa? Gimana langit disana, re?” tanyaku penasaran.
“Langit sakit sekarang dia lagi dirawat, udah 2 minggu dia diinapkan dirumah sakit. Keadaannya sekarang semakin menurun. Dia baru sadar setelah 4 hari dia pingsan. Aku lagi disamping langit nih, dia mau ngomong sesuatu sama kamu.” kata rere dengan nada sedikit terisak-isak seperti habis menangis. Aku tidak merespon kata-katanya. Aku masih tidak percaya dengan apa yang rere katakan.

“Assalamualaikum, Pelangiku sayaanngg?” terdengar salam yang sangat lembut suaranya.
“Waalaikumsalam, Langit? Gimana keadaan kamu? Aku sangat mencemaskanmu.” Aku menahan air mata yang ingin jatuh dari kelopak mataku.
“Kamu jangan cemas sayang. Aku gak apa-apa kok. Gimana kabar kamu? kamu sehat kan?” tanyanya.
“Jangan kamu tanyain keadaanku sekarang, itu gak penting!! Yang penting itu keadaan kamu, langit..” Langit terdiam, tidak ada suara langit yang terdengar.
“Langit? Jawab pertanyaanku. Kamu sakit apa? Sampai kamu dirawat inap selama 2 minggu? Jawab jujur langit!! Aku butuh jawabanmu..” desakku.
“Maaf…” jawabnya singkat agak lirih.
“Maaf ? buat apa?”.
“Maaf aku udah bohongin kamu. tapi ini demi kebaikan kamu, sayang.” Dia meyakinkanku.
“bohong? Tentang apa?” Aku masih belum mengerti.
”Sebernernya aku punya penyakit kanker lambung, bukan maag biasa yang pernah aku bilang ke kamu. Maafin aku yaa?!” Jelas langit.
“Ini yang kamu maksud dengan kebaikan buat aku? Kamu jahat, langit!! Kamu menutupi rasa sakitmu demi aku yang gak mau sakitin? Justru ini yang sangat menyakitkan aku, kamu jujur ketika aku tidak ada disampingmu dan tidak bisa menguatkanmu saat kamu dalam keadaan seperti ini!! aku benci sama kamu!!” dengan nada sedikit menggetak.

“Yaa.. Aku emang jahat!! Aku egois. Aku hanya mementingkan diriku sendiri yang gak mau mataku melihat kesedihanmu apa lagi melihat tangisan air matamu seperti yang kamu keluarkan saat ini, pelangi. Sungguh, aku gak bermaksud untuk menyakiti hatimu. Aku sangat menyayangimu!!! Sangat menyayangimu!!!”
Aku mengeluarkan air mata, aku sedih mendengar kejujuran langit yang selama ini ia sembunyikan dariku. Aku masih tak menyangka, ternyata saat ia masih bersamaku dulu ia sedang menahan rasa sakitnya. Yaa.. ini demi aku, setiap waktu ia selalu menciptakan canda serta tawa untukku. Dan kini ia hanya bisa terbaring lemah dikasur putih rumah sakit itu. Aku dapat merasakan apa yang ia rasakan saat ini. “Ya Allah, kenapa disaat langit membutuhkanku untuk selalu disampingnya, jarak malah menjauh dan memisahkan kita?” gumamku dalam hati.
“Pelangi? Kamu masih denger suara aku kan?” tanyanya membuka perbincangan antara aku dengannya setelah aku terdiam.
“Aku mau kamu sehat lagi!! Aku masih mau main sama kamu. Aku masih mau lihat pelangi sama kamu ditaman belakang rumahku. Aku masih mau bareng-bareng sama kamu. kamu bisa perjuangkan kesehatanmu demi aku kan, langit? Aku sayang sama kamu!!”
“Aku juga sayang sama kamu. Tapi kalau Allah udah memanggilku dan aku harus tinggalin kamu, kamu harus janji jangan pernah kamu menghabiskan air mata kamu cuma untuk aku. Aku mau kamu mengikhlaskan aku pergi. Aku gak mau kamu mengantar kepergianku dengan tangisan. Kamu mau aku bahagia disana kan, pelangi?”
Air mataku semakin deras membasahi pipi, aku tidak bisa menahannya saat ia mengatakan hal itu kepadaku. Aku mulai terisak-isak, dadaku terasa sakit sakali.
“Pelangi? aku mau denger suara kamu sayang, bukan tangisanmu”.  Pintanya
Sudah tiga bulan langit tidak ada disampingku, jauh sekali. aku sangat merindukanya. Saat ini aku hanya ingin buat langit merasa bahagia saat dia mendengar suaraku bukan malah membuatnya merasa bersalah karena sudah membuatku menangis seperti ini. Bagaimanapun juga langit adalah milik Allah, mau tidak mau ia akan kembali pada sang pencipnya. Lagipula aku telah diajarkan oleh langit tentang bagaimana untuk mengikhlaskan sesuatu yang telah pergi, begitupun dengan aku yang harus mengikhlaskan langit jika ia memang ditakdirkan harus pergi dari dunia ini dan memulai kehidupan baru dialam lain.
“Langit? Apa kamu bisa meyakiniku, kalau kamu akan terus ada didekat kamu walau ragamu jauh dari aku, nanti?”
“Pelangi, kamu masih pakai liontin yang aku kalungkan dilehermu ‘kan? Itu akan membuatmu selalu dekat denganku. Aku yakin kamu akan merasakannya nanti.” Kata langit meyakinkanku.
“Langit akan selalu membentang dan ketika kamu melihat kearahnya kamu juga akan melihat aku. Ketika hujan, kamu akan selalu merasakan ditengah rintikannya selalu ada aku. Dan ketika hujan reda, akan ada pembiasan cahaya muncul. warna-warni yang melengkung berspektrum sempurna. Rasakan kalau aku ada didekatmu, sama seperti waktu kenangan terakhir kita bersama dulu. Jadi kamu jangan takut merasa kehilangan. Ingat, masih ada Allah selain aku yang selalu ada didekat kamu!!” Lanjutnya.
Aku menerima kata-katanya yang tersusun indah, akan selalu terukir dihatiku sehingga aku akan dapat lebih mudah mengingat langit.
Cukup lama aku meneleponnya, hampir satu jam aku mendengar suara tanpa aku banyak bicara. Terdengar suara kesakitan dari mulutnya. “Langit? Langitkamu kenapa?” tanyaku panik.
“Pelangi, kamu mau kan tolongin aku?” pinta langit padaku. Deg!! Dadaku mulai terasa sakit.
“Pelangi, tolong bacakan dua kalimat syahadat ditelingaku.” Dengan suara rintihan kesakitan.
Aku menangis, dadaku semakin terasa sakit sekali dan tekanan darahku mengalir sangat deras saat mendengar pintanya. Aku pun langsung membacakan dua kalimat syahadat lewat telepon yang ditaruhkan ditelinganya. Terdengar helaan nafas panjangnya yang sesak, aku pun merasakan hal itu.
“Sekali lagi, pelangi” pintanya dengan nada suara yang semakin sesak. Aku kembali membacakan dua kalimat syahadat. Semakin deras air mata yang jatuh membasahi pipi ini, mataku membengkak, hati masih terasa sakit. Aku tak mendengar suara Langit lagi.
“Langit?”  panggilku. Sangat hening, tidak ada jawaban dari suara langit.
Tiba-tiba aku mendengar beberapa orang meneriaki nama ‘Langit’ diiringi dengan tangisan yang terisak-isak.
 “Langiiittt… jangan tinggalin kakak !! kakak sayang kamu, langiittt. Bangun sayangggg.” teriak seserang yang terdengar di telepon.
“innalillahi wainnailaihi rajiun..” tubuhku melemas seperti manusia yang tak bertulang, handphone yang ku pegang terjatuh. Sungguh sulit kuterima kenyataan ini, langit meninggalkan aku di dunia ini. ia akan menjalani kehidupan baru dialam sana tanpa aku.
Diantara aku dan Langit, hanya ada satu nama yang tersisa di dunia ini yaitu ‘Pelangi’ yaa!! Hanya aku sendiri, tanpa langit. Berlinang semakin deras air mataku, doaku untuk Langit selalu mengalir deras dibibirku. “Ya Allah, berikan tempat terbaik untuk Langit. aku mengikhlaskannya. Tapi aku mohon kepadamu jangan Engkau yang pergi meninggalkan aku, ya Allah. Engkau adalah tuhan yang mampu membolak-balikkan hati. Sesungguhnya cinta yang aku rasakan untuk Langit berasal dari-Mu, karena-Mu dan Untuk-Mu” Kataku dalam hati.


*3 tahun, kemudian*
Siang itu disekolah, hujan masih membasahi bumi. Segera aku langkahkan kaki menuju koridor sekolah tepat di depan kelasku. Aku menadahkan tanganku dibawah rintikan hujan sambil menatap langit yang masih gelap. Saat itu aku merasakan Langit ada di dekatku. aku langsung menuruni anak tangga, kulangkahkan kaki menuju ke tengah lapangan. Aku menekatkan diri membasahi seluruh tubuhku dengan rintikan air hujan yang turun ke bumi.
Aku membentangkan kedua tanganku dan mengangkat wajahku kearah langit mendung. Aku merasakan langit semakin dekat denganku. Air mataku tiba-tiba jatuh dengan deras dibawah siraman air hujan, tapi hujan menghapusnya seperti langit saat ia menghapuskan air mataku.
“ehh cewek aneh!! Hujan deras ini!! ngapain hujan-hujanan?” kata seseorang dibelakangku, ia menghampiriku dengan payung diatasnya. Aku yang sedang asik menikmati guyuran hujan, aku tidak mempedulikannya. Aku terus menikmati hujan ini.
“Hellooo… kamu dengar aku gak sih?” tanyanya.
“kamu siapa?” tanyaku heran. Laki-laki yang menghampiriku ini seperti warga baru disekolahku, aku belum pernah melihatnya selama sekolah disini.
“udah, jangan banyak tanya!! Ayo masuk kelas. Hujannya semakin deras nih”. “Gak mau!! aku mau liat pelangi setelah hujan ini reda” aku menolak ajakkannya.
“Kan bisa dikelas, nanti kalau udah reda baru keluar!!” dia berteriak, volume suaranya terdengar kecil karena rintikan suara hujan lebih terdengar di telingaku.
“Gak mau!! Kamu aja sana pergi!! Aku masih mau menikmati hujan ini.” balasku.
“Aku gak akan pergi kalau kamu gak mau pergi dari sini.” Dia meneduhkanku dibawah payung yang dibawanya.
“yaudah, terserah kamu!! emang kamu siapa sih? Kok aku baru lihat kamu disekolah ini? Sok perhatian lagi” cetusku.
“Aku Badar!! Murid baru di sekolah ini, aku duduk dikelas 1 Akuntansi 1. Aku udah genap dua minggu disini. Kamu anak kelas 1 Perkantoran 2, kan?” dia balik bertanya.
“Ohh jadi kamu murid baru disini? Pantes aku baru lihat kamu. Iyaa, aku di kelas 1 Perkantoran 2. Kok kamu tau?” tanyaku lagi.
“Gak penting kamu tau, yang jelas selama dua minggu ini aku selalu lihat kamu!!” jelasnya.
Aku terdiam, suasana mulai hening ditengah hujan ini. Aku melihat Badar memucat, tubuhnya menggigil kedinginan seperti orang yang tidak terbiasa main-main di bawah hujan. Lain halnya dengan aku yang senang bermain di bawah guyuran air hujan seperti anak kecil yang kegirangan saat rintikan air hujan membasahi bumi. Ini karena sepenggal kisah manisku bersama Langit yang tidak akan pernah bisa aku lupakan. Berawal dengan titik-titik embun yang luruh membentuk ribuan panah air yangt menghujam tanah dibumi.
“Badar, kamu kenapa? Lebih baik kamu pergi dari sini. Nanti kamu sakit!!” kataku yang mulai mencemaskannya. Ia hanya menggelengkan kepalanya.
“Badar? Ayo kita ke kelas, wajahmu memucat” aku memutuskan untuk mengakhiri bermain hujan di tengah lapangan. Aku menuntun Badar menuju kelasnya. Tiba-tiba Badar terjatuh dan pingsan saat menaiki tangga.
“Badar!! Badar kamu kenapa?” aku berteriak. Wajah dan seluruh tubuhnya sangat pucat. Aku meminta pertolongan pada petugas UKS, kebetulan saat Badar terjatuh persis di depan UKS. Badar tak kunjung sadarkan diri. Sesuai saran dokter, usai insiden tadi dia langsung dibawa ke Rumah Sakit. Entah kenapa aku menawarkan diri untuk menunggunya. Seperti ada perasaan yang mengganjal setiap aku melihatnya. Badar masih terbaring di ranjang putih, aku memakaikannya selimut tapi ia masih terlihat pucat. Aku takut terjadi apa-apa dengan Badar. “ya Allah, Semoga badar baik-baik aja.” Doaku dalam hati sambil menggenggamkan tangannya. Mungkin ini adalah salah satu caraku untuk menghangatkannya dari kedinginan tadi yang ia rasakan.
Aku menunggu Badar yang sudah hampir dua jam tak kunjung sadar. Mataku terasa berat, aku ingin memejamkan mata ini untuk sebentar saja. Selang waktu beberapa menit, aku pun tertidur. Saat itu aku bermimpi Langit berada disampingku persis, ia tidak mengatakan banyak padaku. Langit hanya mengatakan ”Semoga aku memilih orang yang tepat untukmu, pelangiku” Ia tersenyum tenang, lalu pergi.
Saat aku tertidur, aku merasakan genggaman tangan yang kuat dan lembut. Aku terbangun dari tidurku, aku melihat tangan Badar yang menggenggam tanganku. “Badar? Kamu udah sadar? Alhamdulillah…” Aku tersenyum.
“Aku baik-baik aja kok, Pelangi.” Jawabnya dengan nada suara yang lemah.
“Gak mungkin kamu baik-baik aja, kamu tuh pingsan setelah hujan-hujanan tadi!! kamu badung sih, disuruh pergi malah gak mau, gini kan akibatnya? Kamu udah bikin aku ngerasa bersalah tau!!” Ocehku.

“sssttt bawel banget sih cewek ini!! bisa diem gak? Aku baik-baik aja, aku cuma pusing sebentar lagi juga sembuh..” katanya sambil mencubit pipiku.
“Apa kamu bilang? Aku udah dua jam loh nunggu kamu yang gak sadar-sadar!! Kamu bilang sebentar lagi sembuh?” Aku mulai kesal.
“Selama dua minggu aku sekolah disini, memperhatikan kamu dari jauh dan baru hari ini aku tau kalau kamu tuh bener-bener cerewet!! Bikin berisik!!”. Aku terdiam kaget.
“hah? Ternyata selama ini Badar memperhatikan aku dari jarak jauh? Ah masa iyasih?” tanyaku dalam hati tak percaya.
“ehh cewek bawel..” panggilnya mengagetkanku yang sedang melamun.
”Kenapa diam? Bengong lagi”. Ia menampar pelan pipiku.
“ohh yaa, gak apa-apa kok. Maaf yaa gara-gara aku kamu jadi sakit kaya gini.” lirihku dan tertunduk.
“Hey.. Gak usah begitu!! Ini bukan salahmu.” ia menyentuh wajahku lalu menaikkannya dengan pelan.
“Ya Allah, sentuhannya? sama seperti langit saat ia menaikan wajahku yang tertunduk. Ia benar-benar seperti langit.!!” gumamku dalam hati. Jantung berdetak hebat.
Beberapa saat kami terdiam. Namun aku tetap menunggu dia memulihkan kondisinya. Kupandangi dia, sampai lagi-lagi aku teringat pada satu sosok di masa laluku itu.
“Dulu aku emang sakit. Kanker hati. Tapi alhamdulillah sekarang udah nggak.” Jelas badar.
“Kok bisa?” tanyaku penasaran.
“Sebulan yang lalu ada orang tua yang baik banget sama aku, dia ngasih hati anaknya buat aku. Dan untungnya tubuh aku bisa nerima hati itu,”
“Kok bisa ngasih sih?” semakin penasaran.
“Iyaa. Anaknya sendiri yang bilang, kalo dia meninggal dia mau donorin apa yang ada di tubuhnya buat orang yang ngebutuhin. Kebetulan saat itu aku lagi butuhin organ vitalnya, yaa karena aku punya penyakit kanker hati jadi setelah dia meninggal dia ngasih hatinya buat aku.”
“Baik banget yaa.. Berarti yang donorin itu udah meninggal?”
“Yaa.. Dia sakit Gagal ginjal. Kita sempet satu rumah sakit, dia sendiri yang minta ke orang tuanya buat ngasih hatinya ke aku. Tapi sayang, tempat pemakamannya jauh banget dari Jakarta. Jadi aku gak bisa berziarah ke orang yang udah berjasa banget buat hidup aku.” Jelasnya.
“Emang dia dimakamin dimana?” aku tak berhenti bertanya tentang hal itu.
“di Malaysia. Jauh banget kan?”
“di Malaysia? Kamu tau namanya siapa?” tanyaku lagi.
“Namanya Muhammad Langit Laksamana, kalau aku gak salah.” Jawabnya.
“di Malaysia dan dia Langit?” tanyaku tak percaya.
“Iyah. Kamu kenal?” Badar tampak bingung.
“Aku...aku...aku pacarnya” ucapku terbata-bata, pelupuk mataku sudah mulai mengeluarkan air matanya.
“Jadi... Kamu Pelangi yang selama ini Langit ceritain sama aku?” tanya Badar tak percaya.
“Cerita apa?” tanyaku heran. “Banyak! yang jelas katanya kamu itu berarti banget buat dia,”
Ruangan itu kembali hening. Aku tak percaya, ternyata ada organ tubuh langit di dalam tubuhnya badar? Pantas saja setiap aku melihat badar ada bayang-bayang akan hadirnya langit disampingku. Dan hati yang ada di dalam tubuh Badar, itu milik langit yang selalu membuatku melihat badar sebagai bayangan langit.

*keesokan harinya*
Bel sekolah berbunyi tanda pelajaran usai, aku segera bergegas membereskan alat-alat tulisku dan memasukkannya ke tas. Tapi hujan mencegahku untuk meninggalkan sekolah, karena mataku tertuju pada Badar yang sedang bersandar di koridor tempat aku biasa menikmati hujan dan ia menadahkan tangannya. Kuhampiri dia dengan membawa senyuman.
“Badar? Kamu belum pulang?” Tanpa Badar mengeluarkan satu katapun, ia hanya menggelengkan kepalanya saja.
Suasana kembali hening. Setelah beberapa menit berlalu, hujan mulai reda. Tiba-tiba Badar menggenggam tanganku, erat. Aku menghelakan nafas, aku merasakan langit ada didekatku lagi.
“pulang yuk? Mumpung hujannya udah reda” ajakku. “aku mau kamu ngajak aku ke tempat biasa kamu dan langit melihat pelangi setelah hujan reda” pinta badar sambil menatapku, terlihat sangat indah.

Aku pun langsung mengajak Badar ketempat biasa aku dan langit melihat keindahan alam yang sempurna. Yaa… tepat di taman belakang rumahku, aku mengajaknya kesana.
“Ini tempat biasa kami melihat pelangi” kataku. Badar celingak-celinguk menikmati ketenangan di taman ini. “Aku suka…” kata badar singkat sambil menganggukkan kepalanya.
“Oya, Pelangi… Sebelum langit mendonorkan hatinya buat aku, dia menitipin ini buat kamu.” Ia mengeluarkan sepucuk surat dari kantong jaket birunya.
Kuraih surat itu, dan kubaca. Butir-butir air mata mulai mengalir. Tangis yang selama ini tak pernah kuperlihatkan lagi semenjak kepergian Ara 3 tahun yang lalu, kini memecah saat aku membaca kata demi kata yang tertulis di surat itu.

Assalamualaikum, Pelangi hidupku 

Waktu kamu baca surat ini, bisa aku pastiin kalau aku udah nggak ada di sisi kamu lagi. Yaa, sekarang pasti ada Badar di deket kamu kan? Anggep aja itu aku yaa..
Maaf pelangi, aku dateng tanpa ragaku bahkan jiwaku, aku dateng hanya dengan surat ini. Hidupku udah berakhir, Allah udah manggil aku buat pulang lagi ke sisiNya, ini takdirku. Kuatin diri kamu yaa, sayanngg. Maaf aku nggak bisa tepatin janji aku buat bareng-bareng lagi sama kamu, tapi sekarang aku bawain Badar buat menggantikan posisi aku untuk hidup kamu. Kamu masih bisa ‘kan main-main dibawah hujan, lihat pelangi bareng badar? Aku bisa tebak, kamu pasti bisa ngerasain apa yang kita rasain waktu kita masih sama-sama dulu. Kamu bahkan lebih bisa merasakan ketenangan, dan lebih nyaman saat kamu ada disamping badar, iya ‘kan? Aku seneng bisa lihat kamu tersenyum, kembali ceria seperti dulu. Aku mohon, sayangi badar sama seperti kamu sayangi aku. Aku yakin saat aku memilih Badar untuk menggantikan aku, aku tidak akan salah pilih. Kamu tahu kenapa? Karena Allah swt telah memberiku sebuah petunjuk indah yang aku persembahkan buat kamu. Sekali lagi, untukmu pelangi yang abadi di hatiku, nikmatilah masa depanmu yaa sayang...
Wassalam..

M. Langit Laksamana

Aku tersenyum setelah membaca surat itu. Kutatap langit yang mulai cerah membentang bersama awan-awan yang melayang-layang diudara. Terlihat lukisan tuhan yang melengkung indah sedang berspektrum sempurna.
 “Hey, lihat!!! Pelangi mulai menampakkan dirinya dihadapan kita.” kataku dan menunjuk kearah pelangi itu. “Indah yaa?” tanya badar sambil tersenyum manis. Aku membalas senyumannya. Aku tak berhenti menatap pesona ciptaan tuhan yang sampai saat ini aku bingung, bagaimana bisa Allah melukis pelangi itu dengan 7 warna yang berbeda-beda tetapi tetap terlihat sangat indah tanpa cat warna, tanpa kuas dan langit sebagai kanvasnya. Sungguh tak ada yang bisa menandingi. Aku tersenyum lagi.
“Pelangi, kamu suka pelangi itu?” tanya badar membuka pembicaraan
Aku mengangguk dan tersenyum. “Aku suka banget sama pelangi, karena hanya pelangi lah lukisan alam yang dapat membuatku jatuh cinta kepadanya.
“Iya emang indah..  tapi setelah aku pikir-pikir keindahannya nggak abadi”  katanya, dia memanyunkan bibir kecilnya.
“Iya sih, apa yang kamu bilang itu benar. Tapi bagaimana pun juga aku bakal tetep suka sama pelangi. Yaa.. sama kamu juga, badar. Kamu mau kan jadi pelanginya aku.” aku mengalihkan wajah kearah langit dan aku pun tersenyum kecil.
“Tapi aku gak mau jadi pelanginya kamu!!” cetusnya “Lah? Kenapa?” tanyaku.
“kaya apa yang aku bilang tadi, pelangi itu datangnya hanya sesaat dia gak abadi. Aku gak mau seperti itu!! Aku lebih mau jadi sejuta rinai hujan buat kamu.” dia tersenyum
“sejuta rinai hujan? Kenapa?” tanyaku heran
“Iya, sejuta rinai hujan. Karena tanpanya pelangi tidak akan muncul. Aku hujan dan kamu pelangi. Kalau begitu kita cocok ‘kan? Saat kamu menginginkan keindahan lukisan alam berwarna-warni itu, mau gak mau kamu harus menginginkan kehadiranku. Itu artinya akulah yang selalu mengantarkan kebahagiaan pelangi untuk kamu, dimanapun kamu berada.” Dia merangkul pundakku dan tersenyum.
“berarti kamu hujan dan aku pelanginya?” tanyaku tersenyum. “Jangan lupa sama Langit. Bukankah hujan itu turun hanya dari langit dan pelangi akan terlukis jika ada langit yang membentang luas? Dia juga segala-galanya bagi kita” dia merangkulku lagi, sangat erat. Kami tersenyum bersama-sama.
Aku tak pernah berharap banyak., yang aku harapkan jangan sampai aku pisahkan lagi dengan orang yang kusayang. Karena aku ingin menikmati indahnya pelangi setelah hujan dilangit bersama Badar yang aku cintai. Aku mencintai karena hati yang bertemu. Aku sangat bahagia mengenal Langit yang baru dengan sosok Badar sebagai penggantinya di hidupku. Semoga Allah menakdirkan Aku dan Badar seperti dua sisi koin yang akan saling menyatu, meski gambarnya berbeda namun bentuk dan ukurannya tetap sama. Jika kami berkomitmen selalu bersama, kami percaya tidak akan ada yang bisa menghancurkan kami apalagi memisahkan kami, dikala sedih dan dikala senang kami akan tetap bersama-sama.


“Ya Allah, aku sedang jatuh cinta dengan Insan-Mu yang bisa menghargaiku tapi tetap dengan mengandalkan cinta-Mu. Karena sesungguhnya cinta yang aku rasakan berasal dari-Mu dan jangan biarkan cintaku untuk insan-Mu ini tumbuh hanya karena nafsuku.” Aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar