Malam ini, entah mengapa memori
otakku memutar semua kenangan tentang kamu, sahabatku. Yaa! Aku memang
merindukanmu. Malam ini otakku berputar-putar, aku masih bertanya-tanya pada
diriku sendiri. Kenapa (dulu) keberadaan kamu disisiku kurang aku perhatikan?
bahkan cenderung terlupakan. Menyesal? tentu. Karena, rasa kehilangan mulai
menghantuiku. Kamu telah membuka mataku, dan aku bisa sangat jelas melihat
bahwakamu sangat menyayangiku. Sedangkan, aku...?? Aku memang menyayangimu,
tapi mungkinbelum sebesar kamu menyayangiku. Aku memang ingin
selalu membuatmu tertawa, mendengar cerita cinta dan kekonyolanmu tapi nyatanya
aku masih belum bisa terima kalau aku tak bisa lagi LEBIH menyayangimu, membuat
kamu tertawa, mendengar cerita cinta juga kekonyolanmu selama ini. Aku menyesal karena sikapku yang terkadang egois.
Aku masih merasakan bahwa aku belum rela kehilanganmu. Aku belum sepenuhnya ikhlas atas kepergianmu. Aku masih ingin bermanja-manja denganmu, aku masih ingin bercerita banyak hal padamu, aku masih ingin bersama-sama denganmu dan aku masih mau ditanya "kenapa, de? kok sedih. cerita yuk!" itu tanda bukti kalau kamu peduli sama aku.
Kini, aku sangat merasa bersalah ketika aku berfikir tentang hatiku. Berfikir sejenak tentang apa yang telah banyak kamu lakukan untukku. Sempat aku berfikir bahwa aku tidak pantas untuk kamu sebut Sahabatmu.
Sahabatku, (Almh. Desi Lestari)
Apa kamu masih mau menganggapku sebagai sahabatmu lagi ketika kamu tahu tentang kejujuranku ini? Ahh entah apa jawabanmu disana, yang jelas aku masih sangat berharap kalau kamu masih mau menganggapku seorang sahabat. Sahabat yang akan selalu menemanimu lewat lantunan doa-doaku, sahabat yang selalu membantumu ketika kamu mendatangi mimpiku untuk meminta tolong, sahabat yang selalu mau mendengarkan ceritamu walau dalam mimpi. Semuanya akan aku lakukan untukmu, sahabatku. Terlambat?? Tidak! Aku rasa tidak ada kata terlambat untuk melakukan kebaikan. Aku ikhlas, aku tulus jika aku harus melakukan itu semua.
Dengan tulisan ini,
ketika aku mengetikan jari-jari ini pada keyboard dan kalimat panjang lebar yang kubacakan saat aku mengetik tulisan ini, kamu bisa membaca bahkan mendengar bisikan suaraku ini. Maafkan aku yang (mungkin) terlambat menjadi sahabatmu. Ini bukan karena ku tak sayang padamu, aku sangat menyayangimu tapi (mungkin) rasa sayangku kalah hebat dengan rasa sayangmu. Wajar saja, kamu yang sering mengucapkan kata sayang lewat lisan daripada aku yang selalu mengungkapkan kata sayang lewat tulisan. Yaa! Aku egois. Maafkan aku....
Teruntukmu, sahabatku...
Semoga Allah mengampuni segala dosamu, memaafkan segala kesalahanmu, menerima semua amal dan ibadahmu dan menempatkanmu di tempat yang paling terbaik di sisi-Nya. Aamiin..
Baik-baik disana yaa, aku akan selalu merindukanmu...
Ur Friendship
Maulidya Wibawanti

Tidak ada komentar:
Posting Komentar