Perempuan Hujan

Jumat, 06 Mei 2016

Bu, Yuyun Pamit.


Kata Ibu, aku hidup di Negara yang berperikemanusiaan.
Tapi, bu. Kenapa masih banyak hewan yang berkedok manusia, di tanah ini?

Rabu, 04 November 2015

Untuk Perempuan Yang (Juga) Mencintainya.

Hai, salam kenal.

Aku menulis surat ini untukmu, perempuan yang (juga) mencintaimu.
Perempuan yang kerap hadir di kepalaku, yang hanya bisa buat aku tersenyum sabar. Yang seringkali membuatku kepayang. Untuk perempuan yang sampai sekarang aku tak mengenalinya.

Senin, 27 Juli 2015

Surat Rindu, Untukmu.

Selamat malam, sayang.

Apa kabarmu? Bagaimana hari-harimu, yang tanpa aku?   Pasti baik-baik saja, ‘kan?
Kau tak perlu menanyakan kabarku. Aku tetap seperti yang kemarin-kemarin; baik keadaanku, tapi lain halnya rinduku, ia sedang kurang sehat. Aku rasa hanya kau obat penyembuh paling ampuh untuk rindu; bertemu. Hm’em, dengan bertemu denganmu, rindu pasti bisa beraktivitas kembali dengan keadaan sehat; mengingatmu.

Sedang apa kamu, disana? Sedang merindukanku, kah?

Kau tau? Rinduku tumbuh besar, semenjak saat terakhirku melihatmu di parkiran sekitar kampus. Senyummu mengembang, meski dari jarak jauh aku melihatnya. Ketika itu, aku sangat membutuhkanmu; tubuhku lemah, aku butuh kamu sebagai penguatnya. Emosiku membara, aku butuh kamu sebagai pemadamnya. Tapi … Emm … Kau … Ah sudahlah, aku mengerti janjimu pada temanmu. Walaupun awalnya … Duh, lupakhaaaaan~

Maaf atas kecemburuanku. Aku hanya rindu kamu, sayang.

Lelakiku.
Aku pasti merasakan sedikit bahagia, ketika kau membaca surat ini. Hm? Sedikit? Iya, sedikit, aku tak salah nulis kok. Sebelum aku melihat sosokmu di depan mata, aku belum sepenuhnya bahagia. Aku memang egois perihal merindu, kau harus mengerti itu.

Sebenarnya, aku tak kuasa menulis surat ini. Aku menuliskan ini untukmu sambil memikul rindu yang sangat berat. Berat, karena aku harus menjalani hari-hari tanpa sosokmu; tawa, senyum, celotehan nakalmu, bahkan cerita-cerita yang biasa kaudongengkan di telingaku. Dan ditambah akhir-akhir ini, kau jarang menghubungiku lagi, membalas pesan singkatku saja, tidak. Aku memang tak tahu, apa yang membuamu seperti itu, mungkin kau terlalu sibuk, atau … Ah, saat-saat seperti ini lah yang membuatku berpikir negative tentangmu, sayang. Jangan buat aku seperti ini.

Ah, bukan. Bukan maksudku untuk mengeluh, aku tak merasa keberatan dengan beban rindu yang kutanggung ini. Justru, aku akan sangat merasa keberatan jika semuanya tanpa senyummu yang serupa senja. Begitulah aku mendefinisikan bahagiaku; semuanya serba kamu.

Bicara tentang senja, di desaku tak perlu repot-repot jalan jauh ke pantai hanya untuk melihat senja. Seperti apa yang kita lakukan waktu itu; mengejar keindahan waktu senja. Disini, hanya dengan bersepeda di sore hari, melewati serumpun padi yang tumbuh disawah sebelah kanan – kiriku, naik ke atas bukit yang tak terlalu tinggi, disitu akan terlihat jelas indahnya senja, terbenamnya matahari yang sering kita sebut dengan sunset. Suatu saat, aku akan memperlihatkannya padamu.

Ah, intinya aku ingin secepatnya menemuimu. Aku sudah sangat merinduimu. Kumohon, mengertilah.

Kalau kau ada bersamaku, kau akan melihat banyaknya rindu yang sudah berserakan, aku akan menatanya kembali di dalam lemari serapi mungkin. Rindu ini akan terus bersamaku. Untukmu.
Kuakhiri surat atas nama rindu yang kubuat hanya untukmu. Terima kasih sudah sudi membacanya. Semoga kelak sebuah pertemuan dapat menyelamatkan kerinduaan kita masing-masing.

Kuningan, 12 Juli 2015


Perempuanmu.

ORANG KECIL ORANG BESAR

Suatu hari yang cerah
Di dalam rumah yang gerah
Seorang anak yang lugu
Sedang diwejang ayah-ibunya yang lugu

Ayahnya berkata:
“Anakku,
Kau sudah pernah menjadi anak kecil
Janganlah kau nanti menjadi orang kecil!”

“Orang kecil, kecil peranannya
Kecil perolehannya,” tambah si ibu
“Ya,” lanjut ayahnya

“Orang kecil sangat kecil bagiannya.
Anak kecil masih mendingan,
Rengeknya didengarkan,
Suaranya diperhitungkan,
Orang kecil tak boleh memperdengarkan rengekan
Suaranya tak suara.”

Sang ibu ikut wanti-wanti:
“Betul, jangan sekali-kali jadi orang kecil
Orang kecil jika jujur ditipu
Jika menipu dijur
Jika bekerja digangguin
Jika mengganggu dikerjain.”

Ayah dan ibu berganti-ganti menasehati:
“Ingat, jangan sampai jadi orang kecil
Orang kecil jika ikhlas diperas
Jika diam ditikam
Jika protes dikentes
Jika usil dibedil.”

“Orang kecil jika hidup dipersoalkan
Jika mati tak dipersoalkan.”

“Lebih baik jadilah orang besar
Bagiannya selalu besar.”

“Orang besar jujur-tak jujur makmur
Benar-tak benar dibenarkan
Lalim-tak lalim dibiarkan.”

“Orang besar boleh bicara semaunya
Orang kecil paling jauh dibicarakan saja.”

“Orang kecil jujur dibilang tolol
Orang besar tolol dibilang jujur
Orang kecil berani dikata kurangajar
Orang besar kurangajar dikata berani.”

“Orang kecil mempertahankan hak
disebut pembikin onar
Orang besar merampas hak
disebut pendekar.”

Si anak terus diam tak berkata-kata.

Namun dalam dirinya bertanya-tanya:
“Anak kecil bisa menjadi besar
Tapi mungkinkah orang kecil
Menjadi orang besar?”

Besoknya entah sampai kapan
si anak terus mencoret-coret dinding kalbunya sendiri:

“O  r  a  n  g    k  e  c  i  l  ?  ?  ?
O  r  a  n  g    b  e  s  a  r  !  !  !”

1993

ORANG KECIL ORANG BESAR - Puisi karya KH. Mustofa Bisri.
Puisi yang menyentuh ketika saya dengarkan.
Dan saya ingin membagi puisi ini, untuk kaudengar (juga).